Nama : Alfia Luthfi Athifah
NIM : 2024015107
PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN BELAJAR PADA PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR
Sekolah dasar merupakan tahap awal pendidikan formal yang sangat menentukan perkembangan di masa depan. Di sekolah dasar anak – anak mulai belajar, bersosialisasi dengan teman. Salah satu aspek penting yang sering terabaikan adalah kesejahteraan belajar yaitu kondisi anak merasa nyaman secara emosional, termotivasi, dan memiliki hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah.
Kesejahteraan Siswa didefinisikan sebagai keadaan emosi yang positif dan merupakan hasil dari keselarasan antara kebutuhan dan harapan pribadi terhadap sekolah. Definisi Kesejahteraan Siswa lain yang lebih sederhana adalah sejauh mana siswa merasa nyaman di lingkungan sekolah.
Sekolah yang baik merupakan sekolah yang dapat memberikan pengalaman yang luas kepada siswa sehingga membuat siswanya merasa sejahtera. Menurut Noble dan Me Grath dalam Aris & Djamhoer Student Wellbeing adalah Keadaan emosional yang berkelanjutan dan dapat menunjukkan karakteristik, yaitu adanya Positivity suasana hati dan perilaku yang positif, antara hubungan Positif dengan teman sebaya dan guru, Reiliensi, Diri dan sikap Optimis, dan kepuasaan pengalaman belajar disekolah.
Berdasarkan Pendapat Para ahli kesejahteraan siswa merupakan keadaan suatu dimana seorang siswa dapat berkembang dilingkungan sekolah sesuai dengan kemampuan siswa dan dapat dikembangkan secara positif, ini termasuk suatu kebutuhan siswa yang wajib siswa dapatkan disekolah. Istilah kesejahteraan digunakan oleh Karyani, dkk sebagai berikut:
Sosial, kesejahteraan yang berkaitan dengan adanya perasaan nyaman dalam relasi interpersonal dengan di lingkungan sekolah, baik teman, guru, maupun staf sekolah.
Kognitif, kesejahteraan yang berkaitan dengan kepuasan kognitif, seperti memecahkan masalah dan berprestasi akademik.
Emosi, kesejahteraan yang berkaitan dengan emosi positif.
Peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses Pendidikan sepanjang hayat dan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar di sekolah. Peserta didik usia SD berbeda dari orang dewasa bukan sekedar secara fisik, tetapi juga secara keseluruhan. Jadi, dalam mempelajari dan menyikapi peserta didik, termasuk peserta didik usia SD hendaknya dilakukan secara utuh harus melihat peserta didik sebagai suatu kesatuan yang unik, yang terkait satu dengan lainnya.
Guru harus memahami psikologi perkembangan seta pertumbuhan anak dan akan lebih siap merancang pembelajaran yang sesuai.
Para ahli diperoleh pernyataan bahwa istilah pertumbuhan tidak bisa dipisahkan secara tajam, namun bila ingin dibedakan maka pertumbuhan lebih mununjuk kepada perubahan fisik sedangkan perkembangan lebih menuju kepada perubahan psikis dimana perubahan-perubahan tersebut terjadi akibat dari kekuatan-kekuatan interen secara otomatis dan kekuatan-kekuatan dari luar. Perkembangan juga berhubungan dengan proses belajar terutama mengenai isinya yaitu tentang apa yang akan berkembang berkaitan dengan perbuatan belajar
Tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan peserta didik karena adanya beberapa factor yang mendasari yaitu, pembawaan di tentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang di bawa sejak lahir, tiap orang mengalami pertumbuhan dan perkembangan dan tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
Pada peserta didik terjadi pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan perubahan-perubahan yang dialami makhluk lain. Perubahan fisik, misalnya pada tahun pertama lebih cepat dari pada tahun-tahun berikutnya. Hal yang sama terjadi juga pada perubahan yang menyangkut interaksi sosial, perolehan dan penggunaan bahasa, kemampuan mengingat serta berbagai fungsi lainnya.
Membentuk Sikap Kebersamaan Pada Anak SD
Kebersamaan merupakan kegiatan yang kita lakukan dengan melibatkan orang lain, contohnya dalam mengerjakan tugas bersama, bermain bersama, saling membantu dan mengajari teman. Mengelompokkan siswa melalui kegiatan pembelajaran, jika anak dikelompokkan dalam proses pembelajaran maka mereka akan merasakan kekompakan dan kebersamaan yang erat, sehungga siswa tidak akan merasa sendiri dan tidak akan merasa jenuh. Membentuk sikap kebersamaan pada anak sekolah dasar dengan cara :
Bergaul dengan semua teman tanpa membeda bedakan asal usul, agama, dan ras
Berkomunikasi dengan tulus terhadap teman-teman
Bermain bersama dengan teman-teman kelas
Bekerja kelompok saat ada tugas sekolah
Berkata jujur kepada teman dan hindari sikap iri.
Guru harus melibatkan siswa dalam setiap kegiatan seperti mengajak siswa belajar dengan bereksperimen dan praktik dalam mata pembelajaran tertentu, sehingga akan membuat anak menjadi lebih kompak dan menjalin kebersamaan dengan optimal.
Meningkatkan Lingkungan yang Positif
Lingkungan belajar yang menyenangkan dapat meningkatkan semangat dan kenyamanan belajar siswa. Suasana kelas yang penuh dukungan dan memperhatikan perbedaan individu akan meningkatkan kesejahteraan siswa. Cara menciptakan lingkungan yang positif yaitu dengan, menggunakan bahasa yang ramah, memberi pujian atas usaha, dan menyediakan waktu untuk bermain dan berinteraksi
Faktor – factor yang mempengaruhi Kesejahteraan Siswa
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesejahteraan Siswa yaitu Faktor sosial, faktor kognitif penghambat Kesejahteraan Siswa dilingkungan sekolah, adalah sebagai berikut:
Faktor sosial
Faktor sosial berkaitan dengan perasaan aman, nyaman, gembira dan sehat dilingkungan sekolah dan relasi intelektual dilingkungan sekolah baik dengan teman, guru serta staf sekolah. Hal ini terkadang kurang dapat perhatian dari guru dan staf sekolah, sehingga nantinya dapat berpengaruh bagi siswa dalam mendorong siswa untuk berprestasi dibidang akademik disekolah, mengembangkan potensi yang telah dimiliki siswa dan juga siswa dapat memiliki suasana hati yang positif.
Faktor Kognitif
Hubungan Pertemanan yang buruk sehingga menyebabkan siswa belum berada dikondisi yang sejahtera, dalam faktor ini penghambat kesejahteraan sekolah terdapat dua faktor yaitu:
Faktor Internal
Dalam Faktor ini kebutuhan siswa belum tercukupi dengan baik seperti kebutuhan material siswa, dan perilaku siswa yang masih merugikan diri sendiri serta orang lain seperti perilaku malas dan nakal.
Faktor Eksternal
Dalam Faktor ini lingkungan siswa disekolah kurang menyenangkan sehingga siswa tidak mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari guru maupun dari teman sebayanya.
Pencapaian pada kesejahteraan siswa menjadi tanggung jawab sekolah, masyarakat dan keluarga, adapun upaya untuk peningkatan kesejahteraan siswa ini perlu dilakukan. Menurut Thoybah dan Aulia ada dua faktor yang dapat meningkatkan kesejahteraan siswa yaitu :
Faktor Internal
Kemampuan menyesuaikan diri, orientasi belajar, penilaian terhadap diri, dan karakteristik pribadi. Penyesuaian diri adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang individu untuk mengatasi dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya individu maupun didalam lingkungan.
Faktor Eksternal
Dukungan guru, adanya hubungan positif teman, berada dilingkungan yang dapat menunjang kedisiplinan dan perhatian dari orang tua. Lingkungan sekolah yang sehat, hubungan baik dengan teman dan keluarga merupakan substansi yang penting dalam membangun kesejahteraan siswa
Siswa dalam proses pendidikan perlu diperhatikan tingkat kesejahteraannya. Hal tersebut penting karena akan mereka dapat berkembang dengan maksimal, serta dapat berprestasi sebaik mungkin. Faktor-faktor peningkatan kesejahteraan siswa baik secara internal maupun secara eksternal diharapkan dapat diterapkan