-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-07T00:22:58Z

PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN


Suci ahya shofa tartila 

Universitas sarjanawiyata tamansiswa

          


Abstrak

Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan baru dalam dunia pendidikan Indonesia yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tahun 2022 sebagai upaya pemulihan dan peningkatan kualitas pembelajaran. Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan serta minat peserta didik. Penerapan Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran intrakurikuler yang berfokus pada capaian pembelajaran, penguatan profil Pelajar Pancasila, dan pembelajaran yang mengakomodasi karakteristik serta lingkungan siswa.

Penelitian di berbagai sekolah menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka masih dalam tahap awal dan menghadapi beberapa kendala, seperti kesiapan guru dalam menguasai teknologi dan kreativitas dalam pembelajaran, serta keterbatasan sumber daya dan infrastruktur. Namun, penerapan kurikulum ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas, dan keterampilan abad ke-21 siswa, serta menghasilkan lulusan yang lebih mandiri dan siap menghadapi tantangan masa depan. Kurikulum Merdeka juga mendorong kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berkualitas

A.Pendahuluan 

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum baru yang dikeluarkan pemerintah Indonesia sebagai bentuk inisiatif dalam mengembangkan kurikulum yang lebih mandiri dan kontekstual bagi para peserta didik di seluruh Indonesia. Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menciptakan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik dan memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan materi pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna.

Menurut Ningrum (2022:166-177) Kurikulum Merdeka lebih mengutamakan sikap kreatif dan menyenangkan dengan memupuk berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik. Berbeda dengan Kurikulum 2013 yang ditujukan untuk pengembangan keterampilan tidak hanya pada bidang kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotor harus dikembangkan secara komprehensif. Namun, Kurinasih (2014:22) menyatakan, kurikulum 2013 lebih menekankan pada kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Adapun ciri kurikulum 2013 yang paling mendasar ialah: 1) Menuntut kemampuan guru dalam berpengetahuan dan mencari tahu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena, peserta didik jaman sekarang telah mudah mencari informasi dengan bebas melalui perkembangan teknologi dan informasi; 2) Peserta didik lebih didorong untuk memiliki tanggung jawab kepada lingkungan, kemampuan interpersonal, antarpersonal,

maupun memiliki kemampuan berpikir kritis; dan 3) Memiliki tujuan agar terbentuknya generasi produktif, kreatif, inovatif dan afektif.

B.Konsep dan Prinsip Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka dirancang dengan konsep pembelajaran yang lebih sederhana ,mendalam ,relevan ,dan interaktuf,serta memberikan fleksibilitas bagi guru dan siswa untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan konteks lokal.Konsep utama kurikulum merdeka menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran dan guru sebagai fasilitator yang membimbing proses belajar secara aktif dan kolaboratif.

  1. Pembelajaran berbasis kompetensi

Penekanan pada pengembangan keterampilan praktis, soft skills, dan kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta kolaboratif, bukan hanya penguasaan teori semata. Penilaian juga berorientasi pada proses dan hasil belajar secara menyeluruh

  1. Fleksibilitas dan diferensiasi

Memberikan kebebasan bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan materi, metode, dan penilaian sesuai dengan karakteristik, kebutuhan, dan minat siswa serta kondisi lokal. Pembelajaran terdiferensiasi memungkinkan pengalaman belajar yang optimal bagi setiap siswa.

  1. Penilian holistik dan berkesinambungan

Penilaian mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan berbagai metode, termasuk penilaian formatif yang berkelanjutan untuk memantau perkembangan siswa secara menyeluruh dan mendalam.

  1. Pembelajaran konstekstual dan berbasis proyek

Pembelajaran dihubungkan dengan situasi nyata dan kebutuhan masyarakat melalui proyek-proyek yang mengembangkan kreativitas, kerja tim, dan kemampuan pemecahan masalah siswa. Hal ini juga menguatkan profil pelajar Pancasila sebagai karakter utama yang dikembangkan.

  1. Pembelajaran berpusat pada siswa dan aktif

Siswa didorong untuk aktif bertanya, mencoba, dan bereksperimen dengan konsep yang dipelajari, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan membantu mempertahankan informasi yang dipelajari.

  1. Pembelajaran kolaboratif dan berbasis tekonologi

Siswa belajar secara kolaboratif dalam kelompok untuk mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi, serta memanfaatkan teknologi sebagai alat pembelajaran untuk memperluas akses informasi dan keterampilan digital.

  C.Struktur Kurikulum Merdeka

  1. Struktur Minimum

Struktur kurikulum minimum merupakan struktur yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, namun dapat dikembangkan program dan kegiatan tambahannya oleh satuan pendidikan sesuai dengan visi, misi, dan sumber daya yang tersedia.

  1. Otonomi

Kurikulum ini memberikan otonomi dan kemerdekaan bagi satuan pendidikan dan guru untuk merancang proses dan materi pembelajaran yang relevan dan kontekstual.

  1. Sederhana

Perubahan dari kurikulum sebelumnya (Kurikulum 2013) dibuat seminimal mungkin, namun tetap signifikan. Tujuan, arah perubahan, serta rancangan pembelajaran dalam kurikulum ini juga dibuat dengan jelas, sehingga mudah dipahami sekolah dan para pemangku kepentingan.

  1. Gotong Royong

Pengembangan kurikulum dan perangkat ajar merupakan hasil kolaborasi puluhan institusi, di antaranya yaitu Kementerian Agama, universitas, sekolah, serta lembaga pendidikan lainnya.

Struktur Kurikulum Merdeka berbeda-beda untuk setiap jenjang pendidikan yang tersedia. Berikut ini merupakan struktur Kurikulum Merdeka sesuai jenjang pendidikan berdasarkan aturan yang resmi dirilis oleh Kemendikbud.

C.Implementasi kurikulum merdeka

  Implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia merupakan proses bertahap yang dirancang untuk memberikan fleksibilitas dan kebebasan bagi satuan pendidikan dan guru dalam merancang pembelajaran sesuai karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Kurikulum ini menekankan pembelajaran berbasis proyek, materi esensial, dan diferensiasi pembelajaran agar siswa dapat belajar secara kontekstual, kreatif, dan mandiri.

Tahapan implementasi Kurikulum Merdeka meliputi beberapa level kesiapan satuan pendidikan, mulai dari tahap awal yang melakukan penyesuaian kecil terhadap dokumen kurikulum operasional, tahap berkembang yang mulai memodifikasi pengorganisasian pembelajaran, hingga tahap mahir yang mengembangkan kurikulum berdasarkan refleksi mendalam terhadap karakteristik satuan pendidikan.

Implementasi ini juga didukung oleh program sosialisasi dan bimbingan teknis dari Kemendikbudristek yang menyasar berbagai pemangku kepentingan, termasuk dinas pendidikan, pengawas, dan mitra pembangunan di seluruh kabupaten/kota. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi dan memberikan pendampingan agar pelaksanaan Kurikulum Merdeka dapat berjalan efektif, terutama di jenjang PAUD.

Evaluasi pelaksanaan Kurikulum Merdeka menunjukkan peningkatan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dengan peran guru yang bertransformasi menjadi fasilitator. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur teknologi dan kebutuhan pelatihan guru berkelanjutan masih perlu diatasi agar implementasi semakin optimal.

Secara umum, Kurikulum Merdeka diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan dengan fokus pada hasil pembelajaran yang tidak hanya diukur dari output akademis, tetapi juga dari dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan global. Implementasi dilakukan secara bertahap agar dapat dievaluasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah dan peserta didik.

Ringkasnya, implementasi Kurikulum Merdeka mencakup:

  • Fleksibilitas dan kebebasan dalam perancangan kurikulum operasional oleh satuan pendidikan.

  • Pembelajaran berbasis proyek dan materi esensial yang kontekstual.

  • Tahapan kesiapan sekolah dari awal hingga mahir.

  • Dukungan sosialisasi dan bimbingan teknis dari pemerintah.

  • Evaluasi dan pembaruan berkelanjutan untuk mengatasi tantangan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.


D. Dampak Penerapan Kurikulum Merdeka terhadap Kualitas Pendidikan

Dampak penerapan Kurikulum Merdeka terhadap kualitas pendidikan di Indonesia menunjukkan berbagai aspek positif yang signifikan. Kurikulum ini memberikan kebebasan belajar bagi siswa untuk mengeksplorasi minat dan potensi mereka secara lebih luas, tanpa dibatasi jalur studi konvensional, sehingga meningkatkan keaktifan dan motivasi belajar siswa. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan penguatan karakter, literasi, serta keterampilan menjadi landasan utama yang membantu mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada aspek akademik tetapi juga soft skills dan karakter2.

Selain itu, implementasi Kurikulum Merdeka menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan positif, di mana guru dapat mengajar sesuai tingkat kemampuan siswa dan siswa mendapatkan pengetahuan yang tepat bagi mereka, sehingga kualitas pembelajaran meningkat. Penerapan kurikulum ini juga mendorong transformasi sistem pendidikan menjadi lebih baik dengan sinergi program yang berfokus pada pengembangan kompetensi guru dan siswa.

Data dari Asesmen Nasional 2021-2023 dan Rapor Pendidikan 2023 menunjukkan peningkatan literasi, numerasi, karakter, inklusivitas, dan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka secara sukarela7. Program ini juga mempercepat digitalisasi sekolah, meningkatkan kualifikasi pendidik, dan mempercepat pencapaian profil pelajar Pancasila, yang merupakan indikator penting dalam peningkatan mutu pendidikan6.

Namun, tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia, sarana prasarana yang belum memadai, dan implementasi yang belum maksimal masih perlu diatasi agar dampak positif ini dapat lebih optimal. Meski demikian, secara keseluruhan Kurikulum Merdeka telah memberikan dampak positif yang nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui pendekatan yang lebih fleksibel, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan potensi individu siswa.

Pemahaman  mendalam  tentang  permasalahan  Kurikulum  Merdeka  dan  dampak  pergantian  dari  Kurikulum 2013  (K13)  ke  Kurikulum  Merdeka  penting  dalam  memahami  dinamika  pendidikan  di  Indonesia.  Berikut  ini  adalah beberapa  permasalahan  yang  muncul  seiring  dengan  penerapan  Kurikulum  Merdeka,  serta  dampak  yang  mungkin timbul:

Pedagogika: Jurnal Ilmu-Ilmu Kependidikan 

Permasalahan Kurikulum Merdeka:

1)Tantangan  Implementasi:  Salah  satu  permasalahan  utama  yang  muncul  adalah  tantangan  dalam implementasi Kurikulum Merdeka di tingkat sekolah. Guru dan tenaga pendidik perlu beradaptasi dengan pendekatan pembelajaran yang lebih mandiri dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

2)Kesiapan Guru: Persiapan guru dalam mengajar dengan Kurikulum Merdeka menjadi hal penting. Mereka perlu  memiliki  pemahaman  yang  mendalam  tentang  kurikulum  baru,  serta  keterampilan  untuk mendukung pembelajaran yang berfokus pada siswa.

3)Kualitas Bahan Ajar: Kualitas bahan ajar dan materi pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka perlu tersedia. Ini mencakup pengembangan modul, buku teks, dan sumber daya pembelajaran lainnya.

4)Evaluasi  dan  Pengukuran  Kemajuan:  Pengembangan  sistem  evaluasi  yang  sesuai  dengan  pendekatan Kurikulum  Merdeka  menjadi  tantangan,  karena  lebih  menekankan  pada  asesmen  formatif  dan pengukuran kompetensi.

5)Keterlibatan  Orang  Tua:  Kurikulum  Merdeka  juga  menekankan  pada  keterlibatan  orang  tua  dalam pendidikan  anak-anak  mereka.  Tantangan  mungkin  timbul  dalam  mengaktifkan  peran  orang  tua  dalam pembelajaran.

E.Kesimpulan 

  Penerapan Kurikulum Merdeka telah memberikan dampak positif yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan memberikan fleksibilitas kepada guru dan sekolah untuk merancang pembelajaran sesuai kebutuhan, minat, dan karakteristik peserta didik, kurikulum ini memungkinkan proses belajar menjadi lebih kreatif, inovatif, dan relevan. Selain fokus pada kompetensi akademik, Kurikulum Merdeka juga menekankan pengembangan soft skills dan karakter melalui pembelajaran berbasis proyek yang menguatkan profil pelajar Pancasila. Hal ini mendorong siswa untuk aktif, mandiri, dan berpikir kritis dalam proses pembelajaran. Implementasi kurikulum ini telah menunjukkan hasil positif berupa peningkatan keterlibatan siswa dan peran guru sebagai fasilitator, didukung pula oleh kepala sekolah dan orang tua. Meski demikian, tantangan seperti kesiapan guru, kebutuhan pelatihan berkelanjutan, serta keterbatasan sarana dan prasarana masih perlu diatasi agar penerapan Kurikulum Merdeka dapat berjalan optimal. Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka merupakan langkah strategis yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan dengan pendekatan pembelajaran yang lebih humanis, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan potensi holistik peserta didik.

   


×
Berita Terbaru Update