-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Peran Guru dalam Membangun Lingkungan Belajar yang Suportif secara Emosional bagi Siswa Sekolah Dasar

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-06T23:47:01Z

Peran Guru dalam Membangun Lingkungan Belajar yang Suportif secara Emosional bagi Siswa Sekolah Dasar

Penulis: Merina Nurpita Sari (2024015132)

Kelas : 2D

PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Pendahuluan
Sekolah dasar merupakan tahap awal dalam pendidikan formal yang memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan perkembangan psikologis anak. Pada fase ini, anak-anak tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mulai memahami lingkungan sosial dan emosional di sekitarnya. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya kondusif secara akademik, tetapi juga suportif secara emosional.

Lingkungan Belajar yang Suportif secara Emosional
Lingkungan belajar yang suportif secara emosional adalah suasana belajar yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan diterima kepada setiap siswa. Dalam lingkungan seperti ini, anak-anak lebih mudah mengekspresikan diri, berani bertanya, dan tidak takut untuk membuat kesalahan. Hal ini sangat penting karena anak-anak usia SD sedang berada dalam masa perkembangan emosi yang dinamis dan penuh eksplorasi.

Guru yang mampu menciptakan lingkungan seperti ini biasanya menunjukkan empati, sabar, dan memahami kondisi psikologis siswa. Selain itu, guru juga mampu menjadi pendengar yang baik serta mampu membangun hubungan positif antara guru dan siswa, maupun antar siswa.

Peran Guru dalam Pembentukan Lingkungan Emosional yang Positif
Dalam praktiknya, peran guru sangat menentukan dalam menciptakan suasana kelas yang sehat secara emosional. Guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan pengasuh. Beberapa peran penting guru antara lain:

1. Membangun kedekatan dengan siswa
Guru dapat melakukan pendekatan personal kepada siswa, mengenal latar belakang keluarga, karakter, dan kebutuhan khusus siswa. Dengan begitu, guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran yang paling sesuai.

2. Menanamkan nilai-nilai positif
Guru memiliki kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai seperti rasa empati, toleransi, dan tanggung jawab kepada siswa melalui pembiasaan-pembiasaan kecil di kelas.

3. Mengelola konflik secara bijak
Konflik antar siswa adalah hal yang wajar. Guru berperan dalam menyelesaikan konflik dengan pendekatan yang mendidik, bukan menghukum semata. Hal ini membantu siswa belajar mengelola emosi dan menyelesaikan masalah secara sehat.

4. Memberikan penguatan positif
Memberikan pujian atas usaha yang dilakukan siswa, meskipun belum sempurna, dapat meningkatkan rasa percaya diri dan semangat belajar siswa.

Pendekatan Teori dan Observasi
Menurut teori psikososial dari Erik Erikson, anak-anak usia SD berada pada tahap "industry vs inferiority" di mana mereka belajar merasa kompeten atau justru merasa rendah diri. Lingkungan belajar yang suportif secara emosional sangat berpengaruh dalam membantu anak merasa dihargai dan mampu.

Hasil observasi di beberapa sekolah dasar menunjukkan bahwa siswa yang belajar di lingkungan yang suportif secara emosional lebih percaya diri, aktif dalam diskusi kelas, dan memiliki hubungan sosial yang baik. Sebaliknya, siswa yang merasa cemas atau tertekan di kelas cenderung pasif dan mengalami kesulitan dalam belajar.

Kesimpulan
Peran guru dalam membentuk lingkungan belajar yang suportif secara emosional sangat krusial dalam mendukung perkembangan psikologis siswa sekolah dasar. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang menciptakan ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk terus meningkatkan kompetensi sosial-emosional dan membangun komunikasi yang efektif dengan siswa.


×
Berita Terbaru Update