Membangun Karakter di Tengah Arus Zaman: Refleksi Pendidikan Sekolah Dasar Abad ke-21
Arina Huril Aini¹ Trio Ardian² arinahurilaini03@gmail.com
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Jl. Batikan, UH-III Jl. Tuntungan No.1043, Tahunan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55167
Abstrak
Pendidikan memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter peserta didik, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Tantangan pada abad ke-21, seperti perkembangan teknologi dan ketidakstabilan sistem pendidikan berpotensi memengaruhi karakter anak. Artikel ini bertujan mengkaji urgensi pendidikan karakter dengan menekankan peran sekolah, dan keluarga. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis sumber ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses pembentukan karakter anak memerlukan waktu yang panjang, konsistensi, dan pembiasaan. Lingkungan keluarga menjadi fondasi utama dalam proses penanaman nilai moral, sedangkan sekolah berperan sebagai penguat nilai melalui pembelajran yang terstruktur.
Kata kunci: pendidikan karakter, sekolah dasar, peran keluarga, abad ke-21
Abstract
Education plays an important role in shaping students’ character, particularly at the elementary school level. In the twenty-first century, challenges such as rapid technological development and instability in the education system may influence children’s character formation. This article examines the urgency of character education by focusing on the roles of schools and families. The study uses a descriptive qualitative approach through a literature review of relevant academic sources. The findings show that character development is a gradual process that requires consistency and continuous habituation. The family acts as the primary environment for instilling moral values, while schools strengthen these values through structured learning activities.
Keywords: character education, elementary school, family role, twenty-first century
Pendahuluan
Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan pembangunan nasional. Namun, hingga saat ini sistem pendidikan di Indonesia belum stabil. Terdapat tiga permasalahan utama, yaitu lemahnya pengelolaan dan mutu pendidikan, ketimpangan akses pendidikan di daerah tertentu, dan lemahnya manajemen pendidikan. Ketidakstabilan sistem pendidikan tersebut dapat berdampak pada proses pembentukan karakter peserta didik.
Pendidikan karakter merupakan penciptaan lingkungan sekolah yang membantu siswa dalam perkembangan etika dan tanggung jawab melalui keteladanan dan pengajaran karakter yang baik dengan nilai-nilai universal (Berkowitz & Bier, 2005:7). Penerapan nilai-nilai moral pada peserta didik melalui ilmu pengetahuan, kesadaran dan kemauan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual merupakan wujud pembentukan akhlakul karimah (Dalimunthe, 2015). Ahmad dkk. (2017) berpendapat bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk ditingkatkan, mengingat masih rendahnya keterampilan nonteknis (soft skill) pada kehidupan masyarakat Indonesia.
Pada abad ke-21 pendidikan memiliki peran strategis untuk menjamin peserta didik mampu berinovasi dan terampil dalam memanfaatkan teknologi, media sosial, serta cakap dalam memecahkan permasalahan kehidupan. Pendidikan yang berhasil hakikatnya tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada karakter peserta didik. Oleh karena itu, sekolah pada abad ke-21 juga mengembangkan cara berpikir kritis dan solutif secara sistematis untuk mendorong inovasi dan keterampilan berpikir kreatif. Berdasarkan hal itu, artikel ini mengkaji urgensi pendidikan dalam pembentukan karakter peserta didik di jenjang sekolah dasar.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber-sumber pustaka dianalisis secara sistematis dan disintesis untuk memperoleh pemahaman komprehensif. Pendekatan ini dipilih untuk mengkaji pemikiran, teori, temuan ilmiah, serta pandangan para ahli yang relevan dengan urgensi dalam pembentukan karakter peserta didik sekolah dasar.
Pembahasan
Pemahaman mendalam praktisi pendidikan terhadap pembentukan karakter anak menjadi taruhan keberhasilan dari setiap satuan pendidikan. Hasil dari pendidikan karakter tidak dapat dilihat dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan proses yang kontinyu dan konsisten. Penurunan nilai moral dan perilaku peserta didik yang tengah menjadi isu global saat ini menunjukkan terjadinya krisis identitas pada anak. Dalam hal ini lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pembentukan karakter peserta didik. Hasil penelitian Nakao et al. (2000) di Osaka, mengemukakan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak. Pengaruh karakter dapat dipahami melalui dominasi aspek emosi seseorang yang lebih kuat dibandingkan dengan aspek rasionalnya. Hal ini terjadi karena kemampuan berfikir rasional lebih lambat dibanding dengan respon emosional. Amigdala berperan sebagai pusat pengendali emosi yang merespons stimulus lebih cepat dibandingkan proses berpikir rasional.
Peran sekolah, guru, dan pendidikan dalam pembentukan karakter seorang siswa termasuk penting, namun dalam hal ini lingkungan keluarga memiliki kontribusi paling besar. Seiring berkembangnya zaman banyak ditemukan anak dan remaja yang memiliki tingkat pendidikan moral yang rendah, banyak dari mereka yang terpengaruh dengan budaya luar dan pemanfaatan teknologi yang menyimpang dari nilai moral. Oleh karena itu peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak perlu ditingkatkan, bukan sekadar di lingkungan sekolah namun juga di lingkungan keluarga.
Banyak hal yang dapat orangtua lakukan untuk membentuk karakter seorang anak. Perlu diperhatikan bahwa pendidikan karakter yang diberi anak sejak dini lebih efektif karena anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat, sehingga hal itu akan membentuk karakter anak. Apabila pembentukan karakter dilakukaan saat remaja, orangtua akan merasakan tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena anak telah mempunyai kebiasaan sejak kecil yang menurutnya hal baru yang diajarkan orangtua tidak perlu dilakukan.
Berikut beberapa metode yang dapat dikembangkan untuk membentuk karakter anak menurut Ridwan, Kadri (2016,23-26).
Menunjukkan teladan yang baik dalam berperilaku dan membimbing anak untuk berperilaku sesuai dengan yang ditunjukkan.
Membiasakan anak untuk melakukan tindakan yang baik
Berdiskusi atau mengajak anak untuk memikirkan tindakan yang baik, kemudian memotivasinya untuk melakukan tindakan baik tersebut.
Bercerita dan mengambil hikmah dari cerita tersebut.
Biasanya anak-anak enggan melakukan apa yang orangtuanya tidak terapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti orangtua yang tidak patuh dengan agama tidak melaksanakan sholat maka anak juga tidak akan mau melakukan hal tersebut meskipun disuruh oleh orangtuanya, sebab anak mencontoh dan meniru apa yang ia lihat di lingkungan sekitarnya. Orangtua yang bisa membiasakan anaknya untuk berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, pantang menyerah dan punya rasa empati tentu diiringi oleh pengawasan dan contoh langsung dari orangtua.
Membentuk karakter anak tentu membutuhkan waktu yang lama, karena hal tersebut dapat terwujud jika anak sudah terbiasa dengan ajaran yang diperintahkan orangtuanya. Dan alangkah lebih baiknya proses pembentukan karakter ini dilakukan sejak anak masih dini. Karakter tidak bersifat bawaan, melainkan dibentuk melalui proses pendidikan dan pembiasaan. Dalam hal ini orangtua maupun guru dapat mengembangkan potensi anak secara optimal hingga menjadi pribadi utuh. Pendidikan yang bersifat menyeluruh juga bertujuan untuk membentuk individu pembelajar sepanjang hayat.
Kesimpulan
Pendidikan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter peserta didik, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Pembentukan karakter bukanlah proses yang instan, membutuhkan waktu, konsistensi, dan pembiasaan yang berkelanjutan. Lingkungan keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama memiliki kontribusi besar dalam menanamkan nilai-nilai moral dengan keteladanan dan pengawasan berkesinambungan, sedangkan sekolah berperan sebagai penguat nilai melalui pembelajaran yang terstruktur. Pada abad ke-21, tantangan pendidikan semakin kompleks seiring perkembangan zaman dan teknologi. Oleh karena itu, perlu adanya sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan dalam membentuk karakter peserta didik yang beretika, bertanggung jawab, dan memiliki keterampilan berpikir kritis.
Daftar Pustaka
Ahmad, J., Adrian, H., & Arif, M. (2017). Urgensi pendidikan karakter dalam membentuk akhlak peserta didik. Jurnal Pendidikan, 8(2), 123–134.
Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2005). What works in character education: A research-driven guide for educators. University of Missouri–St. Louis.
Fatimah, S., & Nuraninda, F. A. (2021). Peranan orang tua dalam pembentukan karakter remaja generasi 4.0. Jurnal Basicedu, 5(5), 3705–3711.
https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/1346
Maunah, B. (2016). Implementasi pendidikan karakter dalam pembentukan kepribadian holistik siswa. Jurnal Pendidikan Karakter, (1), 90–101.
https://doi.org/10.21831/jpk.v0i1.8615
Putri, S. H., Putri, A. W., & Maulia, S. T. (2023). Peran orang tua dalam pembentukan pendidikan karakter pada anak. Jurnal Pendidikan Seroja, 2(2).
http://jurnal.anfa.co.id
Arifjani, M. (n.d.). Peran keluarga dalam pembentukan karakter anak sejak dini [Ilustrasi]. Pinterest.
https://i.pinimg.com/1200x/74/00/c2/7400c217360c6a8963aac4bf9438bc26.jpg