PERKEMBANGAN EMOSIONAL DAN SOSIAL ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Tri Eka Dewi Purbaningsih
triekadewip@gmail.com
Prodi pendidikan guru sekolah dasar, universitas sarjanawiyata taman siswa
ABSTAK
Perkembangan emosional dan sosial anak usia sekolah dasar merupakan proses yang kompleks, yang dapat dibagi menjadi empat ranah utama, yaitu perkembangan fisik, intelektual, (termasuk kognisi dan bahasa), serta emosi dan sosial (termasuk perkembangan moral. Pada tulisan artikel ini penulis akan mengkaji tentang perkembangan emosi dan sosial pada anak usia sekolah dasar. Perkembangan emosi dan sosial adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan sosial-emosional ini sejatinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika membahas perkembangan sosial anak maka harus bersinggungan dengan perkembangan emosi anak.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui : (1) karakteristik dan hambatan perkembangan sosial dan emosi anak usia Sekolah Dasar; (2) dampak tugas perkembangan anak tidak berhasil; dan (3) upaya orang tua dan guru untuk mendukung perkembangan sosial dan emosi anak. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian dengan studi literatur yang mengkaji beberapa artikel ilmiah yang berkaitan dengan perkembangan sosial dan emosi anak. Perkembangan sosial dan emosi merupakan aspek penting dalam kehidupan anak. Proses ini membentuk bagaimana anak berhubungan dengan orang lain, memahami norma sosial, dan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Anak usia Sekolah Dasar memiliki karakteristik yang unik. Pada usia ini, anak mengalami perkembangan sosial dan emosi yang pesat. Namun, perkembangan sosial dan emosi setiap anak tidaklah sama. Ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan kemajuan teknologi. Anak perlu mendapatkan stimulus berupa arahan, bimbingan, dan lingkungan yang baik dalam melanjutkan tugas perkembangannya secara matang. Jika tidak, maka anak akan mengalami gangguan dalam pengalaman sosial dan perkembangan watak yang kurang baik pula. Orang tua dan guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung optimalnya perkembangan sosial dan emosi anak ke arah yang positif agar anak tidak mengalami gangguan.
Kata Kunci : Perkembangan, emosional, sosial, Anak
PENDAHULUAN
Anak sebagai manusia, merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain untuk berkembang menjadi individu yang utuh. Selama proses perkembangannya, pendapat dan sikap anak bisa berubah karena interaksi dan pengaruh antar sesama serta melalui proses sosialisasi. Saat anak lahir, anak belum memiliki sifat sosial sehingga anak tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak dikembangkan melalui berbagai kesempatan dan pengalaman interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Pada masa usia Sekolah Dasar, anak mengalami periode emas untuk seluruh aspek perkembangan manusia, baik perkembangan fisik, sosial, maupun emosi yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan merupakan suatu proses perubahan dalam diri individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan (Kaffa, dkk., 2021). Adapun menurut Santrock, Perkembangan merupakan bagian dari perubahan yang dimulai dari masa konsepsi dan berlanjut sepanjang rentang kehidupan manusia (Latifa, 2017). Anak dalam perkembangannya akan mengenal lingkungan yang lebih luas dan berinteraksi dengan sesama, saling membantu, serta saling membutuhkan. Melalui proses ini, anak belajar tentang nilai-nilai penting dalam kehidupan. Anak akan belajar bagaimana bekerja sama dalam tim, menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat, dan memahami perasaan serta perspektif orang lain. Anak akan mengembangkan kemampuan sosial dan emosi yang sangat berharga untuk kehidupan di masa depan.Perkembangan anak akan berlangsung secara optimal apabila sesuai dengan fase dan tugas perkembangannya. Pada usia Sekolah Dasar, yaitu 6 sampai 12 tahun, perkembangan anak memiliki pola-pola yang khas sesuai dengan aspek perkembangan, yaitu perkembangan sosial dan emosi. Perkembangan sosial dan emosi merupakan dua perkembangan yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Perkembangan sosial dan emosi sangat berpengaruh terhadap perilaku, pengendalian, penyesuaian dan aturan-aturan. Perkembangan sosial dan emosi yang sehat akan menjadikan anak mampu bertingkah laku yang pantas, memahami arti hidup, dan mampu melewati masa anak-anak hingga dewasa tanpa hambatan. Gardner menyatakan bahwa suatu keadaan positif yang dilalui oleh anak dimana anak menekuni, menyukai dan merasa bahwa dirinya terlibat dalam proses pembelajaran akan mampu mengembangkan kemampuan anak secara maksimal (Marsari, dkk.,2021). Ketika anak merasa termotivasi dan terinspirasi dalam lingkungan belajar yang mendukung, anak cenderung menunjukkan peningkatan dalam kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis. Selain itu, rasa percaya diri anak juga akan meningkat seiring dengan pencapaian-pencapaian kecil yang mereka raih setiap harinya.Menurut (Tusyana, dkk., 2019), Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial dan proses belajar untuk omenyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tradisi dan moral. Proses ini melibatkan interaksi yang berkelanjutan dengan lingkungan sekitar dan individu lain, yang membantu seseorang mengembangkan keterampilan komunikasi, empati, dan pengertian terhadap perbedaan. Dalam konteks ini, dukungan dari orang tua dan guru sangat penting untuk memberikan fondasi yang kuat bagi perkembangan sosial anak dalam membentuk perilaku sosial yang positif. Orang tua dan guru dapat mengajarkan nilai-nilai seperti kerja sama, toleransi, dan tanggung jawab sosial serta menyediakan lingkungan yang kondusif untuk berinteraksi dan belajar. Perkembangan sosial erat kaitannya dengan perkembangan emosi. Perkembangan emosi merupakan suatu keadaan yang lebih kompleks dimana pikiran dan perasaan ditandai dalam bentuk perubahan bilogis yang muncul akibat dari perilaku individu baik berupa perasaan, nafsu, maupun suasana mental yang tidak terkontrol (Marsari, dkk.,2021). Perkembangan sosial dan emosi perlu mendapat perhatian khusus dari orang tua dan guru. Anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan sosial dan emosi cenderung memiliki hambatan besar dalam lingkungan sosialnya.
METODE
Metode penelitian adalah suatu prosedur yang mencakup serangkaian langkah untuk mengumpulkan data (Sastradiharja, dkk., 2023). Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian pustaka atau literature reviewyang mengkaji artikel-artikel ilmiah yang berkaitan dengan perkembangan sosial dan emosi anak usia Sekolah Dasar. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan peneliti adalah ; (1) Peneliti menentukan tema penelitian terkait dengan perkembangan sosial dan emosi anak; (2) Peneliti mencari dan mengumpulkan data yang relevan dari berbagai sumber; (3) Peneliti mengklasifikasikan beberapa sumber yang relevan dengan topik penelitian; dan (4) Peneliti menyusun artikel sebagai hasil dari analisis dan sintesis.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perkembangan Emosi dan sosial anak usia sekolah dasar
Perkembangan sosial dan emosional adalah proses di mana anak anak mengembangkan keterampilan dan pemahaman mereka dalam berinteraksi dengan orang lain dan mengelola emosi mereka. Ini melibatkan kemampuan anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berempati terhadap orang lain, serta kemampuan mereka untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi mereka sendiri.
Perkembangan emosi dan sosial anak SD (6-12 tahun) ditandai dengan kesadaran diri yang kuat, pemahaman emosi yang lebih kompleks (sedih, marah, cemas, senang), dan
kemampuan mengelola stres serta konflik; mereka mulai membentuk hubungan pertemanan yang lebih dalam, mengembangkan empati, bekerja sama, memahami aturan, serta membangun rasa percaya diri dan kemandirian; ini adalah fase penting di mana interaksi sosial di sekolah dan dengan teman sebaya menjadi sangat berpengaruh, membentuk identitas diri dan keterampilan hidup mereka.
B. Pentingnya Perkembangan Emosi dan Eosial Anak Usia Sekolah Dasar
Perkembangan sosial dan emosional anak usia sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Keterampilan sosial yang baik membantu anak untuk membina hubungan yang sehat dengan teman sebaya, orang tua, dan guru. Selain itu, perkembangan emosional yang baik memungkinkan anak untuk memahami dan mengatasi emosi mereka, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan menjaga kesejahteraan mental mereka.
C. Tahap-tahap Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Sekolah Dasar
1. Perkembangan Sosial
Keterampilan Sosial: Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan keterampilan sosial, seperti berbicara dengan sopan, mendengarkan dengan baik, dan berbagi dengan teman-teman mereka. Mereka juga mulai belajar tentang norma-norma sosial.
Hubungan dengan Teman Sebaya: Anak-anak usia sekolah dasar mulai membentuk hubungan yang erat dengan teman-teman sebayanya. Mereka belajar tentang kerjasama, kepercayaan, dan empati dalam berinteraksi dengan teman-teman mereka.
Hubungan dengan Orang Tua: Hubungan dengan orang tua tetap penting. Anak-anak usia sekolah dasar mulai mengembangkan kemandirian, tetapi tetap membutuhkan dukungan dan panduan dari orang tua.
Hubungan dengan Guru: Hubungan dengan guru juga berperan penting dalam perkembangan sosial anak. Anak-anak belajar tentang kedisiplinan, respek, dan tanggung jawab di sekolah.
2. Perkembangan Emosional
Pemahaman Emosi: Pada tahap ini, anak-anak mulai memahami berbagai emosi, baik yang mereka rasakan maupun yang dialami orang lain. Mereka belajar mengidentifikasi emosi seperti bahagia, sedih, marah, dan cemas.
Pengendalian Emosi: Anak-anak usia sekolah dasar belajar mengendalikan emosi mereka. Mereka mengembangkan keterampilan untuk mengatasi rasa marah, frustasi, atau kecemasan dengan cara yang sehat dan produktif.
Perasaan Diri: Perkembangan emosional juga mencakup perkembangan perasaan diri. Anak-anak mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka sukai, dan apa yang membuat mereka unik.
Hambatan Perkembangan Sosial dan Emosi Anak Usia Sekolah Dasar dalam tahapan perkembangan sosial dan emosi, tidak semua anak mampu dan berhasil melewati setiap tahapannya. Di sisi lain, ada anak yang dipengaruhi secara negatif oleh lingkungan sosialnya dan anggota keluarga yang tidak mendukung sehingga menimbulkan permasalahan atau hambatan dalam perkembangan sosial dan emosinya. Ada beberapa faktor yang dapat menghambat perkembangan sosial dan emosi anak antara lain:
1)Faktor Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam proses mendidik anak dalam bersikap dan berperilaku (Marsari, dkk., 2021). Status perkawinan orang tua (kawin, janda/duda), kedudukan anak dalam keluarga (anak tunggal, anak pertama, dsb), pola asuh, sikap, kebiasaan dan perubahan yang melingkupi orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial dan emosi anak. Selain itu, status ekonomi dan sosial orang tua juga mempengaruhi perkembangan sosial dan emosi anak. Status sosial ekonomi orang tua, meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan orang tua. Keluarga yang memiliki status sosial ekonomi kurang mampu, akan cenderung untuk memikirkan bagaimana pemenuhan kebutuhan pokok, sehingga perhatian untuk anak juga kurang.Menurut Dorothy Law Nolte dalam (Wati, R., 2020), anak belajar dari kehidupannya sebagai berikut:a)Jika anak dibesarkan dengan celaan, anak belajar memaki; b)Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, anak belajar berkelahi; c)Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, anak belajar rendah diri; d)Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, anak belajar menyesali diri; e)Jika anak dibesarkan dengan toleransi, anak belajar menahan diri; f)Jika anak dibesarkan dengan dorongan, anak belajar percaya diri;g)Jika anak dibesarkan dengan pujian, anak belajar menghargai; h)Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, anak belajar keadilan; i)Jika anak dibesarkan dengan dukungan, anak belajar menyayangi dirinya; j)Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, anak belajar menemukan cinta.Menurut Baldwin dalam (Wati, R., 2020), terdapat 2 macam pola asuh orang tua terhadap anak di dalam keluarga, yaitu pola asuh demokratis dan otoriter. Adapun ciri orang tua yang demokratis yaitu (1) orang tua yang menghargai keberadaan anak; (2) mengajak anak bekerjasama untuk menyelaraskan kepentingan, tujuan, dan mengambil keputusan dengan cara rasional; (3) menjadi teladan yang selalu terbuka, mau menerima kritik dan saran dari anak; (4) memberikan apresiasi kepada anak atas pencapaian yang berhasil didapatkan; (5) mampu menciptakan iklim kebebasan; (6) bersikap peduli; serta (7) objektif pada anak. Sedangkan ciri orang tua yang otoriter antara lain (1) orang tua menerapkan banyak aturan yang harus ditaati anak; (2) tidak melibatkan anak dalam mengambil keputusan; (3) bersikap dingin dan jarang berbicara dari hati ke hati dengan anak; (4) jarang memberikan pujian pada anak; dan (5) tidak memberikan kesempatan pada anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan demokratis akan mempunyai kepribadian lebih sosial, aktif, percaya diri, keinginan dalam bidang intelektual, orisinil, serta lebih konstruktif dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang otoriter.
2) Faktor Sekolah
Sekolah adalah tempat siswa dan guru berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain secara sosial dan pribadi. Lingkungan sekolah terdiri dari beberapa aspek: (1) Lingkungan fisik sekolah, yang mencakup suasana dan prasarana, sumber daya belajar, dan sarana media belajar; (2) Lingkungan sosial, yang mencakup hubungan siswa dengan teman-teman, guru, dan staf sekolah lainnya; dan (3) Lingkungan akademis, yang mencakup suasana sekolah dan pelaksanaan kegiatan akademik dan kegiatan ekstrakurikuler (Anggraini, T., dkk., 2023). Lingkungan sekolah yang tidak layak dan tidak kondusif, misalnya sarana prasarana yang tidak memadai, hubungan antar warga sekolah yang tidak harmonis, guru yang kurang perhatian terhadap siswa, dan hal buruk lainnya akan membuat anak mengalami gangguan ataupun hambatan dalam perkembangan sosial dan emosi anak. Selain itu, perilaku bullying di sekolah yang dilakukan oleh teman juga dapat menghambat perkembangan sosial emosi anak. Menurut para ahli, school bullyingmerupakan bentuk agresivitas antarsiswa yang memiliki dampak paling negatif bagi korbannya (Wiyani,2012; Septiyuni, dkk., 2015). Ejekan, hinaan, dan ancaman seringkali merupakan pancingan yang dapat mengarah pada perilaku bullying. Korban bullyingmengalami kesulitan dalam bergaul, merasa takut datang ke sekolah, merasa tertekan dan enggan berbicara mengenai pangalaman mereka.
3) Faktor Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat adalah sudut pandang sosiologis, yang fokusnya adalah pada interaksi antar individu, hubungan antar kelompok, dan hubungan antara orang dan kelompok selama perjalanan kehidupan sosial. Dalam pola hubungan dikenal adanya istilah interaksi sosial. Lingkungan sosial ini mengembangkan sistem sosial yang mempunyai dampak signifikan terhadap kepribadian individu. Lingkungan sosial merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi kemampuan individu atau kelompok untuk melakukan suatu tindakan dan mengubah perilakunya. Pengaruh lingkungan sosial memiliki efek yang baik atau buruk tergantung pada keadaan lingkungan sosial di mana individu itu hidup. Perilaku-perilaku negatif yang jauh dari aturan atau norma-norma yang berlaku yang ditampilkan individu di lingkungan masyarakat dapat menghambat perkembangan sosial dan emosi anak. Jadi, lingkungan sosial adalah suatu interaksi atau hubungan sosial yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
KESIMPULAN
Perkembangan emosional dan sosial anak usia sekolah dasar merupakan aspek fundamental yang sangat menentukan keberhasilan anak dalam menjalani kehidupan sosial dan proses belajar di masa kini maupun masa depan. Perkembangan ini mencakup kemampuan anak dalam memahami dan mengelola emosi, menjalin hubungan sosial yang sehat, mengembangkan empati, bekerja sama, serta menyesuaikan diri dengan norma dan aturan yang berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Artikel ini menegaskan bahwa perkembangan sosial dan emosional anak usia sekolah dasar dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain lingkungan keluarga, pola asuh orang tua, lingkungan sekolah, serta lingkungan masyarakat. Pola asuh yang demokratis, lingkungan sekolah yang kondusif, serta masyarakat yang memberikan teladan positif akan sangat mendukung terbentuknya karakter anak yang percaya diri, mandiri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung, seperti pola asuh otoriter, kurangnya perhatian guru, serta perilaku negatif di masyarakat (termasuk bullying), dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional anak.
Oleh karena itu, peran orang tua dan guru menjadi sangat penting dalam memberikan bimbingan, dukungan, serta stimulus yang tepat agar anak mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya secara optimal. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial diperlukan untuk menciptakan perkembangan sosial dan emosional anak yang sehat, sehingga anak dapat tumbuh menjadi individu yang matang secara emosional, mampu bersosialisasi dengan baik, dan siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, T., dkk. (2023). Lingkungan sekolah dan pengaruhnya terhadap perkembangan sosial emosional siswa.
Kaffa, dkk. (2021). Perkembangan anak dalam perspektif pendidikan.
Latifa, U. (2017). Perkembangan anak usia sekolah dasar.
Marsari, dkk. (2021). Perkembangan emosi dan sosial anak.
Sastradiharja, dkk. (2023). Metodologi penelitian pendidikan.
Septiyuni, dkk. (2015). Dampak bullying terhadap perkembangan sosial emosional anak.
Tusyana, dkk. (2019). Perkembangan sosial anak dalam lingkungan pendidikan.
Wati, R. (2020). Pola asuh orang tua dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Wiyani, N. A. (2012). Psikologi perkembangan anak.