-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PERKEMBANGAN EMOSIONAL DAN SOSIAL ANAK USIA SEKOLAH DASAR

Selasa, 30 Desember 2025 | Desember 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-31T03:19:13Z

 PERKEMBANGAN EMOSIONAL DAN SOSIAL ANAK USIA SEKOLAH DASAR

                               Tri Eka Dewi Purbaningsih

                                                     triekadewip@gmail.com

              Prodi pendidikan guru sekolah dasar, universitas sarjanawiyata taman siswa

                                      

                                                                     ABSTAK

Perkembangan emosional dan sosial anak usia sekolah dasar merupakan proses yang kompleks, yang dapat dibagi menjadi empat ranah utama, yaitu perkembangan fisik, intelektual, (termasuk kognisi dan bahasa), serta emosi dan sosial (termasuk perkembangan moral. Pada tulisan artikel ini penulis akan mengkaji tentang perkembangan emosi dan sosial pada anak usia sekolah dasar. Perkembangan emosi dan sosial adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan sosial-emosional ini sejatinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika membahas perkembangan sosial anak maka harus bersinggungan dengan perkembangan emosi anak.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui : (1) karakteristik dan hambatan perkembangan sosial dan  emosi  anak  usia  Sekolah  Dasar;  (2)  dampak  tugas  perkembangan anak  tidak  berhasil; dan (3) upaya orang tua dan guru untuk mendukung perkembangan sosial dan emosi anak. Jenis  penelitian  yang  digunakan  yaitu  penelitian  dengan  studi  literatur  yang  mengkaji beberapa  artikel  ilmiah  yang  berkaitan  dengan  perkembangan  sosial  dan  emosi  anak. Perkembangan  sosial  dan  emosi  merupakan  aspek  penting  dalam  kehidupan  anak.  Proses ini  membentuk  bagaimana  anak  berhubungan  dengan  orang  lain, memahami  norma sosial, dan  mengembangkan  kemampuan  yang  diperlukan  untuk  berpartisipasi  dalam  masyarakat. Anak  usia  Sekolah  Dasar  memiliki  karakteristik  yang  unik.  Pada  usia  ini,  anak  mengalami perkembangan  sosial  dan  emosi  yang  pesat.  Namun,  perkembangan  sosial  dan  emosi setiap  anak  tidaklah  sama.  Ada  faktor-faktor  yang  mempengaruhinya,  antara  lain  faktor lingkungan    keluarga,    sekolah,    masyarakat,    dan    kemajuan    teknologi.    Anak    perlu mendapatkan   stimulus   berupa   arahan,   bimbingan,   dan   lingkungan   yang   baik   dalam melanjutkan   tugas   perkembangannya   secara   matang.   Jika   tidak,   maka   anak   akan mengalami gangguan dalam pengalaman sosial dan perkembangan watak yang kurang baik pula.  Orang  tua  dan  guru  memiliki  peranan  yang  sangat  penting  dalam  mendukung optimalnya  perkembangan  sosial  dan  emosi  anak  ke  arah  yang  positif  agar  anak  tidak mengalami gangguan.

Kata Kunci : Perkembangan, emosional, sosial, Anak




                                                            PENDAHULUAN

Anak sebagai manusia, merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain untuk berkembang menjadi individu yang utuh. Selama proses perkembangannya,  pendapat  dan  sikap  anak  bisa  berubah  karena  interaksi  dan  pengaruh antar  sesama  serta  melalui  proses  sosialisasi.  Saat  anak  lahir,  anak  belum  memiliki  sifat sosial  sehingga  anak  tidak  dapat  berinteraksi  dengan  orang  lain. Kemampuan sosial anak dikembangkan melalui berbagai kesempatan dan pengalaman interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Pada masa usia Sekolah Dasar, anak mengalami periode emas untuk seluruh aspek  perkembangan  manusia,  baik  perkembangan  fisik,  sosial,  maupun  emosi  yang berlangsung  sangat  cepat.  Perkembangan  merupakan  suatu  proses  perubahan  dalam  diri individu  atau  organisme,  baik  fisik  (jasmaniah)  maupun  psikis  (rohaniah)  menuju  tingkat kedewasaan   atau   kematangan   yang   berlangsung   secara   sistematis,   progresif,   dan berkesinambungan   (Kaffa,   dkk.,   2021).   Adapun   menurut   Santrock,   Perkembangan merupakan bagian dari perubahan yang dimulai dari masa konsepsi dan berlanjut sepanjang rentang  kehidupan  manusia  (Latifa,  2017).  Anak  dalam  perkembangannya  akan  mengenal lingkungan yang lebih luas dan berinteraksi dengan sesama, saling membantu, serta saling membutuhkan.  Melalui  proses  ini,  anak  belajar  tentang  nilai-nilai  penting  dalam  kehidupan. Anak  akan  belajar  bagaimana  bekerja  sama  dalam tim,  menyelesaikan konflik  dengan  cara yang    sehat,    dan    memahami perasaan serta perspektif orang lain. Anak akan mengembangkan  kemampuan  sosial  dan  emosi  yang  sangat  berharga  untuk  kehidupan  di masa depan.Perkembangan  anak  akan  berlangsung  secara  optimal  apabila  sesuai  dengan  fase dan   tugas   perkembangannya.   Pada   usia   Sekolah   Dasar,   yaitu   6   sampai   12   tahun, perkembangan  anak  memiliki  pola-pola  yang  khas  sesuai  dengan  aspek  perkembangan, yaitu  perkembangan  sosial  dan  emosi.  Perkembangan  sosial  dan  emosi  merupakan  dua perkembangan yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Perkembangan  sosial  dan  emosi  sangat  berpengaruh  terhadap  perilaku,  pengendalian, penyesuaian   dan   aturan-aturan.   Perkembangan   sosial   dan   emosi   yang   sehat   akan menjadikan  anak  mampu  bertingkah  laku  yang  pantas,  memahami  arti  hidup,  dan  mampu melewati  masa  anak-anak  hingga  dewasa  tanpa  hambatan.  Gardner  menyatakan  bahwa suatu keadaan positif yang dilalui oleh anak dimana anak menekuni, menyukai dan merasa bahwa   dirinya   terlibat   dalam   proses   pembelajaran   akan   mampu   mengembangkan kemampuan  anak  secara  maksimal  (Marsari,  dkk.,2021).  Ketika  anak  merasa  termotivasi dan  terinspirasi  dalam  lingkungan  belajar  yang  mendukung,  anak  cenderung  menunjukkan peningkatan dalam kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis. Selain itu, rasa percaya diri anak juga akan meningkat seiring dengan pencapaian-pencapaian kecil yang mereka raih setiap harinya.Menurut   (Tusyana, dkk., 2019), Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial dan proses belajar untuk omenyesuaikan diri  dengan norma-norma kelompok tradisi dan moral. Proses ini melibatkan interaksi yang berkelanjutan dengan  lingkungan  sekitar  dan  individu  lain,  yang  membantu  seseorang  mengembangkan keterampilan  komunikasi,  empati,  dan  pengertian  terhadap  perbedaan. Dalam konteks ini, dukungan dari orang tua dan guru sangat penting untuk memberikan fondasi yang kuat bagi perkembangan  sosial  anak  dalam  membentuk  perilaku  sosial  yang  positif.  Orang  tua  dan guru  dapat  mengajarkan  nilai-nilai  seperti  kerja  sama,  toleransi,  dan  tanggung  jawab  sosial serta menyediakan lingkungan yang kondusif untuk berinteraksi dan belajar. Perkembangan sosial erat kaitannya dengan perkembangan emosi. Perkembangan  emosi merupakan suatu keadaan   yang   lebih   kompleks   dimana   pikiran   dan   perasaan  ditandai  dalam   bentuk  perubahan bilogis    yang    muncul    akibat    dari    perilaku    individu    baik    berupa    perasaan, nafsu, maupun  suasana  mental  yang  tidak  terkontrol (Marsari, dkk.,2021). Perkembangan sosial  dan  emosi  perlu  mendapat  perhatian  khusus  dari  orang  tua  dan  guru.  Anak  yang mengalami gangguan dalam perkembangan sosial dan emosi cenderung memiliki hambatan besar dalam lingkungan sosialnya.

                                                                  METODE

Metode penelitian adalah suatu prosedur yang mencakup serangkaian langkah untuk mengumpulkan  data  (Sastradiharja,  dkk.,  2023).  Metode  penelitian  yang  digunakan  pada penelitian  ini  adalah  penelitian  pustaka  atau literature  reviewyang  mengkaji  artikel-artikel ilmiah  yang  berkaitan  dengan  perkembangan  sosial  dan  emosi  anak  usia  Sekolah  Dasar. Adapun  tahapan-tahapan  yang  dilakukan  peneliti  adalah  ;  (1)  Peneliti  menentukan  tema penelitian  terkait  dengan  perkembangan  sosial  dan  emosi  anak;  (2)  Peneliti  mencari  dan mengumpulkan  data  yang  relevan  dari    berbagai  sumber;  (3)  Peneliti  mengklasifikasikan beberapa  sumber  yang  relevan  dengan  topik  penelitian;  dan  (4)  Peneliti  menyusun  artikel sebagai hasil dari analisis dan sintesis.

                                                          PEMBAHASAN

 A. Pengertian Perkembangan Emosi dan sosial anak usia sekolah dasar

Perkembangan sosial dan emosional adalah proses di mana anak anak      mengembangkan keterampilan dan pemahaman mereka dalam berinteraksi dengan orang lain dan mengelola emosi mereka. Ini melibatkan kemampuan anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berempati terhadap orang lain, serta kemampuan mereka untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi mereka sendiri.

Perkembangan emosi dan sosial anak SD (6-12 tahun) ditandai dengan kesadaran diri yang kuat, pemahaman emosi yang lebih kompleks (sedih, marah, cemas, senang), dan

kemampuan mengelola stres serta konflik; mereka mulai membentuk hubungan pertemanan yang lebih dalam, mengembangkan empati, bekerja sama, memahami aturan, serta membangun rasa percaya diri dan kemandirian; ini adalah fase penting di mana interaksi sosial di sekolah dan dengan teman sebaya menjadi sangat berpengaruh, membentuk identitas diri dan keterampilan hidup mereka. 

B. Pentingnya Perkembangan Emosi dan Eosial Anak Usia Sekolah Dasar

Perkembangan sosial dan emosional anak usia sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Keterampilan sosial yang baik membantu anak untuk membina hubungan yang sehat dengan teman sebaya, orang tua, dan guru. Selain itu, perkembangan emosional yang baik memungkinkan anak untuk memahami dan mengatasi emosi mereka, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan menjaga kesejahteraan mental mereka.

C. Tahap-tahap Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Sekolah Dasar

1. Perkembangan Sosial

Keterampilan Sosial: Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan keterampilan sosial,                                                                        seperti berbicara dengan sopan, mendengarkan dengan baik, dan berbagi dengan teman-teman mereka. Mereka juga mulai belajar tentang norma-norma sosial.

Hubungan dengan Teman Sebaya: Anak-anak usia sekolah dasar mulai membentuk hubungan yang erat dengan teman-teman sebayanya. Mereka belajar tentang kerjasama, kepercayaan, dan empati dalam berinteraksi dengan teman-teman mereka.

Hubungan dengan Orang Tua: Hubungan dengan orang tua tetap penting. Anak-anak usia sekolah dasar mulai mengembangkan kemandirian, tetapi tetap membutuhkan dukungan dan panduan dari orang tua.

Hubungan dengan Guru: Hubungan dengan guru juga berperan penting dalam perkembangan sosial anak. Anak-anak belajar tentang kedisiplinan, respek, dan tanggung jawab di sekolah.

2. Perkembangan Emosional

Pemahaman Emosi: Pada tahap ini, anak-anak mulai memahami berbagai emosi, baik yang mereka rasakan maupun yang dialami orang lain. Mereka belajar mengidentifikasi emosi seperti bahagia, sedih, marah, dan cemas.

Pengendalian Emosi: Anak-anak usia sekolah dasar belajar mengendalikan emosi mereka. Mereka mengembangkan keterampilan untuk mengatasi rasa marah, frustasi, atau kecemasan dengan cara yang sehat dan produktif.

Perasaan Diri: Perkembangan emosional juga mencakup perkembangan perasaan diri. Anak-anak mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka sukai, dan apa yang membuat mereka unik.

Hambatan Perkembangan Sosial dan Emosi Anak Usia Sekolah Dasar dalam tahapan  perkembangan  sosial  dan  emosi,  tidak  semua  anak  mampu  dan berhasil melewati setiap tahapannya. Di sisi lain, ada anak yang dipengaruhi secara negatif oleh   lingkungan   sosialnya   dan   anggota   keluarga   yang   tidak   mendukung   sehingga menimbulkan permasalahan atau hambatan dalam perkembangan sosial dan emosinya. Ada beberapa faktor yang dapat menghambat perkembangan sosial dan emosi anak antara lain:

1)Faktor Keluarga

Keluarga  merupakan  lingkungan  pertama  dan  utama  dalam  proses  mendidik anak dalam bersikap dan berperilaku (Marsari, dkk., 2021). Status perkawinan orang tua (kawin, janda/duda), kedudukan anak dalam keluarga (anak tunggal, anak pertama, dsb), pola   asuh,   sikap,   kebiasaan   dan   perubahan   yang   melingkupi   orang   tua   memiliki pengaruh  besar  terhadap  perkembangan  sosial  dan  emosi  anak.  Selain  itu,  status ekonomi dan sosial orang tua juga mempengaruhi perkembangan sosial dan emosi anak. Status  sosial  ekonomi  orang  tua,  meliputi tingkat  pendidikan  orang  tua,  pekerjaan  orang  tua,  dan penghasilan  orang  tua. Keluarga  yang  memiliki status  sosial  ekonomi  kurang    mampu,    akan    cenderung    untuk    memikirkan    bagaimana    pemenuhan kebutuhan pokok, sehingga perhatian untuk anak juga kurang.Menurut    Dorothy    Law    Nolte    dalam  (Wati,  R.,  2020),  anak    belajar    dari kehidupannya sebagai berikut:a)Jika anak dibesarkan dengan celaan, anak belajar memaki; b)Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, anak belajar berkelahi; c)Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, anak belajar rendah diri; d)Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, anak belajar menyesali diri; e)Jika anak dibesarkan dengan toleransi, anak belajar menahan diri; f)Jika anak dibesarkan dengan dorongan, anak belajar percaya diri;g)Jika anak dibesarkan dengan pujian, anak belajar menghargai; h)Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, anak belajar keadilan; i)Jika anak dibesarkan dengan dukungan, anak belajar menyayangi dirinya; j)Jika  anak  dibesarkan  dengan  kasih  sayang  dan  persahabatan,  anak  belajar menemukan cinta.Menurut Baldwin dalam (Wati, R., 2020), terdapat 2 macam pola asuh orang tua terhadap anak di dalam keluarga, yaitu pola asuh demokratis  dan  otoriter.  Adapun ciri orang  tua  yang  demokratis  yaitu (1) orang tua yang menghargai keberadaan anak; (2) mengajak anak bekerjasama untuk menyelaraskan kepentingan, tujuan, dan mengambil keputusan dengan cara rasional; (3) menjadi teladan yang selalu terbuka, mau menerima kritik dan saran dari anak; (4) memberikan apresiasi kepada anak atas pencapaian yang berhasil  didapatkan;  (5)  mampu    menciptakan    iklim    kebebasan;  (6)  bersikap    peduli; serta  (7)  objektif  pada  anak.  Sedangkan  ciri  orang    tua    yang    otoriter  antara  lain  (1) orang tua menerapkan banyak aturan yang harus ditaati anak; (2) tidak melibatkan anak dalam  mengambil  keputusan;  (3)  bersikap  dingin  dan  jarang  berbicara  dari  hati  ke  hati dengan  anak;  (4)  jarang  memberikan  pujian  pada  anak;  dan  (5)  tidak  memberikan kesempatan  pada  anak  untuk  menentukan  pilihannya  sendiri.  Anak  yang    dibesarkan  dalam    lingkungan    demokratis  akan    mempunyai    kepribadian    lebih    sosial,    aktif,  percaya    diri,    keinginan    dalam    bidang  intelektual,    orisinil,    serta    lebih    konstruktif  dibandingkan  dengan  anak  yang  dibesarkan di lingkungan keluarga yang otoriter.

2) Faktor Sekolah

Sekolah adalah tempat siswa dan guru berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain  secara  sosial  dan  pribadi.  Lingkungan  sekolah  terdiri  dari  beberapa  aspek:  (1) Lingkungan fisik sekolah, yang mencakup suasana dan prasarana, sumber daya belajar, dan  sarana  media  belajar;  (2)  Lingkungan  sosial,  yang  mencakup  hubungan  siswa dengan  teman-teman,  guru,  dan  staf  sekolah  lainnya;  dan  (3)  Lingkungan  akademis, yang  mencakup  suasana  sekolah  dan  pelaksanaan  kegiatan  akademik  dan  kegiatan ekstrakurikuler (Anggraini, T., dkk., 2023). Lingkungan sekolah yang tidak layak dan tidak kondusif,  misalnya  sarana  prasarana  yang  tidak  memadai,  hubungan  antar  warga sekolah yang tidak harmonis, guru yang kurang perhatian terhadap siswa, dan hal buruk lainnya  akan  membuat  anak  mengalami  gangguan  ataupun  hambatan  dalam perkembangan  sosial  dan  emosi  anak.  Selain  itu,  perilaku bullying di  sekolah  yang dilakukan  oleh  teman  juga  dapat  menghambat  perkembangan  sosial  emosi  anak. Menurut para  ahli, school  bullyingmerupakan  bentuk agresivitas  antarsiswa  yang  memiliki dampak  paling  negatif  bagi  korbannya (Wiyani,2012; Septiyuni, dkk., 2015). Ejekan, hinaan, dan ancaman seringkali merupakan  pancingan  yang  dapat mengarah  pada  perilaku bullying. Korban bullyingmengalami  kesulitan dalam bergaul, merasa takut  datang  ke  sekolah,  merasa    tertekan    dan    enggan    berbicara    mengenai pangalaman mereka.

3) Faktor Lingkungan Masyarakat 

Lingkungan masyarakat adalah sudut pandang sosiologis, yang fokusnya adalah pada interaksi antar individu, hubungan antar kelompok, dan hubungan antara orang dan kelompok selama perjalanan kehidupan sosial. Dalam pola hubungan dikenal adanya istilah  interaksi  sosial.  Lingkungan  sosial  ini  mengembangkan  sistem  sosial  yang mempunyai  dampak  signifikan  terhadap  kepribadian    individu.  Lingkungan  sosial  merupakan  salah  satu  aspek  yang  dapat  mempengaruhi  kemampuan  individu  atau  kelompok  untuk  melakukan  suatu  tindakan  dan  mengubah  perilakunya.  Pengaruh  lingkungan  sosial  memiliki  efek  yang baik  atau buruk  tergantung  pada  keadaan  lingkungan  sosial  di  mana  individu  itu  hidup. Perilaku-perilaku negatif yang jauh dari aturan  atau  norma-norma  yang  berlaku  yang  ditampilkan  individu  di  lingkungan masyarakat dapat menghambat perkembangan sosial dan emosi anak. Jadi, lingkungan sosial  adalah  suatu  interaksi  atau  hubungan  sosial  yang  erat  kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

                                                                KESIMPULAN

Perkembangan emosional dan sosial anak usia sekolah dasar merupakan aspek fundamental yang sangat menentukan keberhasilan anak dalam menjalani kehidupan sosial dan proses belajar di masa kini maupun masa depan. Perkembangan ini mencakup kemampuan anak dalam memahami dan mengelola emosi, menjalin hubungan sosial yang sehat, mengembangkan empati, bekerja sama, serta menyesuaikan diri dengan norma dan aturan yang berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Artikel ini menegaskan bahwa perkembangan sosial dan emosional anak usia sekolah dasar dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain lingkungan keluarga, pola asuh orang tua, lingkungan sekolah, serta lingkungan masyarakat. Pola asuh yang demokratis, lingkungan sekolah yang kondusif, serta masyarakat yang memberikan teladan positif akan sangat mendukung terbentuknya karakter anak yang percaya diri, mandiri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung, seperti pola asuh otoriter, kurangnya perhatian guru, serta perilaku negatif di masyarakat (termasuk bullying), dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional anak.

Oleh karena itu, peran orang tua dan guru menjadi sangat penting dalam memberikan bimbingan, dukungan, serta stimulus yang tepat agar anak mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya secara optimal. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial diperlukan untuk menciptakan perkembangan sosial dan emosional anak yang sehat, sehingga anak dapat tumbuh menjadi individu yang matang secara emosional, mampu bersosialisasi dengan baik, dan siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. 

          

                                                                     DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, T., dkk. (2023). Lingkungan sekolah dan pengaruhnya terhadap perkembangan sosial emosional siswa.

Kaffa, dkk. (2021). Perkembangan anak dalam perspektif pendidikan.

Latifa, U. (2017). Perkembangan anak usia sekolah dasar.

Marsari, dkk. (2021). Perkembangan emosi dan sosial anak.

Sastradiharja, dkk. (2023). Metodologi penelitian pendidikan.

Septiyuni, dkk. (2015). Dampak bullying terhadap perkembangan sosial emosional anak.

Tusyana, dkk. (2019). Perkembangan sosial anak dalam lingkungan pendidikan.

Wati, R. (2020). Pola asuh orang tua dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak.

Wiyani, N. A. (2012). Psikologi perkembangan anak.


×
Berita Terbaru Update