-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

GANGGUAN PRILAKU ATAU TRAUMA BELAJAR PADA PESERTA DIDIK:PEMAHAMAN,GEJALA DAN PENANGANAN

Jumat, 02 Januari 2026 | Januari 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-02T09:55:40Z

 GANGGUAN PRILAKU ATAU TRAUMA BELAJAR PADA PESERTA DIDIK:PEMAHAMAN,GEJALA DAN PENANGANAN


SAPINA

Pendidikan Guru Sekolah Dasar,Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

E-mail: sapina98879@gmail.com

ABSTRAK

    Gangguan perilaku dan trauma belajar merupakan masalah yang sering muncul di lingkungan pendidikan dan dapat memengaruhi hasil belajar serta kesejahteraan peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang konsep gangguan perilaku dan trauma belajar, menguraikan gejala yang muncul, serta menawarkan strategi penanganan yang efektif. Berdasarkan tinjauan pustaka dari sumber ilmiah terkini, artikel ini menunjukkan bahwa kedua masalah ini sering saling terkait dan membutuhkan pendekatan holistik dari guru, orang tua, dan profesional kesehatan mental. Kesimpulannya, pemahaman yang tepat tentang gangguan perilaku dan trauma belajar serta penanganan yang sesuai menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi semua peserta didik.

Kata kunci: Gangguan Perilaku, Trauma Belajar, Peserta Didik, Gejala, Penanganan, Lingkungan Belajar





PENDAHULUAN

     Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (2023) menunjukkan bahwa sekitar 25% peserta didik di Indonesia mengalami masalah terkait perilaku atau trauma belajar yang memengaruhi prestasi akademik mereka. Masalah ini seringkali diabaikan atau salah dipahami sebagai "kelakuan buruk" tanpa mempertimbangkan faktor penyebab yang mendasar. Di era pendidikan yang menekankan kualitas dan inklusivitas, pemahaman yang tepat tentang gangguan perilaku dan trauma belajar menjadi sangat penting bagi pendidik profesional.

    Para ahli sebelumnya telah membahas masalah ini dari berbagai sudut pandang: Suryani (2022) menekankan pada hubungan antara trauma masa lalu dan kesulitan belajar, sedangkan Hadi (2023) berfokus pada faktor lingkungan sekolah yang memicu gangguan perilaku. Namun, artikel ini akan mengkaji kedua masalah secara terpadu, mulai dari konsep, gejala, hingga strategi penanganan yang praktis untuk lingkungan pendidikan.

Tesis utama dari artikel ini adalah: Gangguan perilaku dan trauma belajar pada peserta didik adalah masalah yang saling terkait, yang ditandai dengan gejala spesifik pada aspek perilaku, emosional, dan akademik—dan membutuhkan pendekatan kolaboratif dari guru, orang tua, dan profesional kesehatan mental untuk penanganan yang efektif.

     Artikel ini akan membahas konsep kedua masalah dalam bagian pertama isi, menguraikan gejala yang muncul, menawarkan strategi penanganan, menyajikan pendapat lawan dan pembantahannya, serta memberikan kesimpulan dan implikasi praktis.


PEMBAHASAN

2.1 Pemahaman tentang Gangguan Perilaku dan Trauma Belajar 

    Gangguan perilaku dapat didefinisikan sebagai perilaku yang melanggar aturan, mengganggu proses pembelajaran, atau membahayakan diri sendiri maupun orang lain (Hadi, 2023). Jenis-jenis gangguan perilaku yang sering muncul di sekolah antara lain: agresif, menyimpang, menyendiri, atau menolak mengikuti pembelajaran. Sementara itu, trauma belajar adalah kondisi di mana peserta didik mengalami ketakutan, kecemasan, atau ketidaknyamanan yang parah ketika berada di lingkungan belajar atau menghadapi tugas akademik (Suryani, 2022). Trauma belajar dapat muncul akibat pengalaman negatif di masa lalu, seperti kegagalan akademik yang parah, bullying, atau tekanan dari orang tua/guru. 

     Menurut Wijaya et al. (2023), kedua masalah ini sering saling terkait: peserta didik yang mengalami trauma belajar cenderung menunjukkan perilaku yang menyimpang sebagai cara melindungi diri sendiri, sedangkan gangguan perilaku yang tidak ditangani dapat menyebabkan trauma belajar akibat hukuman atau isolasi dari teman sebaya.



2.2 Gejala Gangguan Perilaku dan Trauma Belajar pada Peserta Didik 

Gejala gangguan perilaku dan trauma belajar dapat terlihat pada aspek perilaku, emosional, dan akademik.

Pada aspek perilaku, gejala yang muncul antara lain: seringkali melanggar aturan sekolah, melakukan kekerasan terhadap teman sebaya, menyendiri, menolak berinteraksi dengan guru/teman, atau melakukan perilaku merusak diri (Hadi, 2023).

Pada aspek emosional, peserta didik mungkin menunjukkan kecemasan yang berlebihan, depresi, kesedihan yang terus-menerus, perasaan tidak berharga, atau ketakutan yang tidak rasional terhadap sekolah atau pembelajaran (Suryani, 2022).

Pada aspek akademik, gejala yang terlihat antara lain: penurunan prestasi belajar, kesulitan berkonsentrasi, menolak mengerjakan tugas, atau seringkali absen tanpa alasan yang jelas (Wijaya et al., 2023).

Contoh nyata: seorang siswa yang pernah di-bully di kelas mungkin akan menunjukkan gejala trauma belajar berupa ketakutan datang ke sekolah, dan ketika dipaksa, ia mungkin menunjukkan perilaku agresif terhadap teman sebaya sebagai bentuk pertahanan.

2.3 Strategi Penanganan Gangguan Perilaku dan Trauma Belajar

Penanganan gangguan perilaku dan trauma belajar membutuhkan pendekatan kolaboratif dan holistik yang melibatkan guru, orang tua, dan profesional kesehatan mental.

Dari sisi guru, strategi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari bullying (Santoso, 2023); (2) menggunakan metode pembelajaran yang fleksibel dan sesuai dengan kemampuan peserta didik; (3) memberikan umpan balik yang positif dan mendorong, bukan hukuman yang keras; (4) melakukan komunikasi yang terbuka dan empati dengan peserta didik. Misalnya, guru dapat mengadakan sesi berbicara pribadi dengan siswa yang mengalami masalah untuk memahami penyebabnya.

Dari sisi orang tua, strategi yang efektif adalah: (1) memberikan dukungan emosional kepada anak; (2) berkomunikasi rutin dengan guru tentang perkembangan anak; (3) menghindari memberikan tekanan yang berlebihan tentang prestasi akademik (Zainuddin, 2022).

Dari sisi profesional kesehatan mental, penanganan dapat meliputi konseling individu, terapi kelompok, atau intervensi khusus tergantung pada tingkat keparahan masalah (Suryani, 2022). Menurut penelitian Santoso (2023), peserta didik yang mendapatkan intervensi kolaboratif menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam perilaku dan prestasi belajar sebesar 70%.


PEMBAHASAN LAWAN PENDAPAT

      Beberapa orang berpendapat bahwa gangguan perilaku dan trauma belajar hanya merupakan "kelakuan buruk" yang dapat diselesaikan dengan hukuman yang keras atau paksaan untuk belajar lebih giat (Hasan, 2022). Mereka berargumen bahwa peserta didik hanya kurang disiplin dan membutuhkan tekanan untuk mengubah perilakunya. Namun, pendapat ini tidak sesuai dengan temuan penelitian. Suryani (2022) menunjukkan bahwa hukuman yang keras cenderung memperparah trauma belajar dan meningkatkan perilaku menyimpang, karena peserta didik merasa tidak dipahami dan terisolasi. Sebaliknya, pendekatan yang empati dan kolaboratif lebih efektif dalam menyelesaikan akar penyebab masalah dan membantu peserta didik kembali ke jalur yang benar.



KESIMPULAN

        Gangguan perilaku dan trauma belajar pada peserta didik adalah masalah yang kompleks dan saling terkait, yang membutuhkan pemahaman yang tepat dan penanganan yang efektif. Gejala kedua masalah ini muncul pada aspek perilaku, emosional, dan akademik, yang jika tidak ditangani dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesejahteraan dan masa depan peserta didik.

     Penanganan yang efektif membutuhkan kolaborasi antara guru, orang tua, dan profesional kesehatan mental. Guru berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung, orang tua memberikan dukungan emosional di rumah, dan profesional kesehatan mental memberikan intervensi khusus jika diperlukan. Hanya dengan pendekatan ini, kita dapat memastikan bahwa semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan sukses di lingkungan pendidikan.

     Implikasi praktis dari artikel ini adalah perlunya pelatihan bagi guru tentang cara mengenali dan menangani gangguan perilaku dan trauma belajar, serta peningkatan komunikasi antara sekolah dan orang tua. Dengan demikian, kita dapat membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua peserta didik.



DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan. (2023). Laporan masalah perilaku dan trauma belajar pada peserta didik Indonesia tahun 2023. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Hadi, R. (2023). Gangguan perilaku pada peserta didik: Faktor penyebab dan implikasi bagi pendidik. Jurnal Psikologi Pendidikan, 10(2), 56-72.

Hasan, A. (2022). Disiplin sebagai solusi untuk kelakuan buruk siswa. Yogyakarta: Penerbit Universitas Islam Indonesia.

Santoso, A. (2023). Menciptakan lingkungan belajar inklusif untuk mencegah trauma belajar. Jurnal Pendidikan Inklusif, 8(1), 34-48.

Suryani, D. (2022). Trauma belajar: Konsep, gejala, dan intervensi. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Wijaya, C., Sudirman, S., & Hariyanto, B. (2023). Hubungan antara gangguan perilaku dan trauma belajar pada siswa sekolah menengah. Jurnal Penelitian Pendidikan, 15(3), 90-105.

Zainuddin, M. (2022). Peran orang tua dalam mencegah trauma belajar pada anak. Jurnal Keluarga dan Pendidikan, 7(2), 21-35.


×
Berita Terbaru Update