Nama : Rezha Nurjanah
NIM : 2024015148
Tema : Pendidikan Tamansiswa Solusi Indonesia 2045
Implementasi Pendidikan Karakter : Hambatan dan Solusi di Indonesia
Pendidikan karakter merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting dalam membangun karakter Peseta didik dalam hal ini pendidikan karakter merupakan pondasi utama atau kekuatan utama dalam membentuk pribadi , untuk menjadi pribadi yang lebih baik maka penting sekali dalam menerapkan pendidikan karakter di setiap peserta didik mulai sejak dini. dalam artikel ini nanti akan kita bahas menganai pendidikan karakter dan juga hambatan serta solusi dalam mewujudkan Indonesia emas 2024 melalui pendidikan karakter.
Negara kesatuan republik indonesia merupaka negara yang banyak penduduknya, dalam mewujudkan indonesia yang lebih baik maka kali ini pemerintah indonesia mempunyai gagasan tentang indonesia emas 2045 yang mencakup banyak hal. Baik dari segi pendidikan, ekonomi ,hingga ke infrastruktur. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya upaya sejak awal persiapan yang matang dalam menyiapkan berbagai hal khususnya Sumber daya manusia. Melalui pendidikan karakter yang diterapkan sejak dini dapat membantu mewujudkan Indonesia Emas 2045 , oleh sebab itu, peting sekali dalam mempersiapkan pendidikan untuk mendidik generasi selanjutnya dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 mulai dari sistem pendidikan hingga materi pendidikan yang menunjang visi misi indonesia emas 2045.
Ajaran Tamansiswa, mencakup pendidikan karakter yang berfokus pada pengembangan karakter dan moral siswa.
Aspek Utama
Tri Pusat Pendidikan : Keluarga, Sekolah, dan masyarakat.
Pancasila : Mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, kesatuan, dan keadilan.
Karakter bangsa : Mengembangkan karakter mandiri dan berakhlak.
Nilai Karakter
Kemandirian : Mengembangkan segala kemampuan dan beranimengambil tindakan atau keputusan.
Kekeluargan : Saling tolong menolong, menghargai hubungan keluarga dan masyarakat.
Kebangsaan : Menumbuhkan kesadaran dan kebanggan sebagai warga negara Indonesia.
Keadilan : Memberikan hak, menghargai keadilan, menyamakan dan kesetaraan..
Prinsip
Ing ngarsa sung tuladha : di depan menjadi contoh dan telada
Ing madya mangun karsa : berada di tengah membangun semangat
Tut wuri handayani : mengikuti dari belakang dan memberi dorongan
Sistem Among makna dari kata among adalah seseorang yang bertugas ngemong. Di lingkungan Tamansiswa, kata among ini sudah tidak asing lagi. Among merupakan salah satu konsep yang digunakan Ki Hadjar Dewantara dalam mendidik siswa. Sistem ini menekankan cara mendidik yang mewajibkankodrat alam para siswanya. Jadi guru tidak boleh memaksakan kehendak mereka atas diri siswa, namum guru berperan untuk memberi tuntunan agar para siswanya dapat tumbuh dan berkembang diatas kodratnya sendiri.
Konsep Tringa menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan daya upaya memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak untuk dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia dimana merupakan falsafah peninggalan Ki Hadjar Dewantara adalah konsep Tringa. Konsep Tringa terdiri atas ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Konsep ini menekankan bahwa untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran dan pendidikan maka siswa perlu dibimbing untuk dapat menguasai pengetahuan yang sedang dipelajari (ngerti), mengambil sikap positif terhadap sesuatu yang dipelajari (ngrasa), dan
mempraktekkan apa yang telah dipelajari (nglakoni).
Dapat menerapkan Tri-N, Tri Ko dan Tri Sakti Jiwa. Tri-N terdiri atas niteni, nirokake, dan nambahi menyatakan bahwa untuk mempelajari segala sesuatu bisa ditempuh dengan cara "mengenali dan mengingat" sesuatu yang dipelajari (niteni), menirukan sesuatu yang dipelajari (nirokake), serta mengembangkan sesuatu yang dipelajari (nambahi). Tri Ko terdiri dari Kooperatif, Konsultatif dan Korektif. Kooperatif berarti bekerja sama, Konsultatif berarti saling tukar menukar informasi, dan Korektif berarti saling mengoreksi dan mengingatkan. Tri sakti jiwa terdiri dari Cipta, Rasa dan Karsa. Berarti bahwa pendidikan diharuskan mengembangkan daya cipta (olah pikir), mengasah rasa (olah hati) dan daya karsa (kemauan) anak didik secara seimbang.
Hambatan Implementasi Pendidikan Karakter
Kurangnya pengambangan guru : banyak guru yang belum mendapatkan pelatihan dan pengembangan untuk menerapkan pendidikan karakter.
Kurangnya kesadaran dan komitmen dari pihak sekolah dan guru : banyak ssekolah dan guru yang belum memahami pentingnya pendidikan karakter dan belum berkomitmen untuk dilaksanakan.
Minimnya keterlibatkan orang tua dan masyarakat : banyak yang tidak paham mengenai pendidikan karakter.
Keterbatasan sarana dan prasarana : sepertinya kurangnya fasilitas dan peralatan yang tidak memadahi, menjadi hambatan dalam melaksanakan pendidikan karakter.
Solusi Implemenasi Pendidikan Karakter
Pelatihan dan pembembangan guru : harus diberikan pelatihan yang memadahi untuk melaksanakan pendidikan karakter.
Meningkatkan kesadaran dan komitemen : pihak sekolah dan guru harus diberikan kesadaran pentingnya pendidikan karakter dan komitmen untuk melaksanakan pendidikan karakter.
Peningkatan partisipasi orang tua dan masyarakat : harus dilibatkan secara aktif dalam proses pendidikan karakter.
Menyediakan sarana ysng mrndukung : pemerintah harus meningkatkan , seperti fasilitas dan peralatan yang memadahi untuk mendukung implementasi pendidikan karakter.
Implementasi Pendidikan Karakter di Indonesia
Menerapkan Nilai-nilai Pendidikan Tamansiswa
Penerapan Asas atau prinsip”Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” guru, orang tua dan masyarakat menjdi teladan dalam perilaku sehari-hari.
Penguatan Budi Pekerti : menerapkan nilai-nilai seperti sopan, santun, kejujuran, dan bertanggung jawab .
Penyediaan Sarana Prasarana
Pengembangan Lingkungan Sekolah yang Kondusif : Fasilitas seperti perpustakaan yang terdapat buku-buku karakter.
Investasi Infrastruktur di Daerah Terpencil : Pemerintah harus mesmastikan, mengecek ketersediaan fasilitas yang meratadan memadai terutama untuk sekolah-sekolah di daerah terpencil.
Penguatas Peran Orang Tua dan Masyarakat
Hubungan Sekolah dan Orang Tua : Membuat program parenting yang mengedukasi orang tua tentang pentingnya pendidikan karakter, seperti cara membangun komunikasi yang baik dengan anak.
Kerja sama dengan komunitas lokal : seperti kegiatan sosial, kerja bakti, atau pelestarian budaya.
Keterkaitan Pendidikan Taman siswa dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Pendidikan Tamansiswa yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya pendidikan mencakup aspek budi pekerti, pengetahuan, dan keterampilan. Pendekatan ini berupaya untuk membentuk generasi emas Indonesia pada tahun 2045 yang berkarakter kuat, kreatif, inovatif, inspiratif, dan kompeten. Implementasi nilai-nilai Tamansiswa dapat menjadi inspirasi untuk merancang strategi dalam pendidikan karakter yang efektif di era modern. Ajaran Tamansiswa dianggap sebagai terapi terbaik untuk pendidikan karakter bangsa Indonesia.
Kesimpulan
Implementasi pendidikan karakter di Indonesia menghadapi bebagai hambatan yang kompleks. Namun, dengan komitmen bersama antara pemerintah pendidik, orang tua, masyarakat, serta dengan mengadopsi dari nilai-nilai pendidikan Tamansiswa, masalah tersebut dapat diatasi. Langkah-langkah strategi yang tersusun dan berkelanjutan akan berkontribusi signifikan dalam mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045 yang berkarakter unggul.
Referensi
Supriyanto, S., & Suharjono (2018). Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 7(2), 123-136.
Sugiyarto (2017). Hambatan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Jurnal Pendidikan Karakter, 2(1), 1-12.
Kartika, E. (2019). Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Mendukung Implementasi Pendidikan Karakter. Jurnal Manajemen Pendidikan, 10(1), 1-14.
Rahmawati, Y. (2020). Pelatihan Guru dalam Implementasi Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Guru, 10(2), 147-158.
Darmawati, S. H. (2015). Revitalisasi Pendidikan Karakter bagi Guru dan Siswa dengan Penerapan Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara di SMP 32 OKU. In Prosiding Seminar Nasional (Vol. 1, No. 1, pp. 114-119).
.png)