-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pendidikan Tamansiswa Solusi Indonesia Emas 2045

Kamis, 09 Januari 2025 | Januari 09, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-01-09T13:42:11Z

 Nama : Mutia Widyaningrum 

NIM : 2024015135 

Kelas : 1D 

Pendidikan Tamansiswa Solusi Indonesia Emas 2045 



Bonus demografi yang dimiliki Indonesia merupakan sumberdaya manusia  yang potensial untuk modal pembangunan di masa mendatang. Bonis demografi  diharapkan menjadi modal bagi Indonesia sehingga generasi sekarang merupakan  generasi emas pada tahun 2045 yang merupakan generasi cemerlang, potensial,  produktif, berkompeten dan berkarakter. Salah satu upaya yang mndukung  terwujudnya bonus demografi pada tahun 2045 menjadi generasi emas adalah  melalui pendidikan. 

Pendidikan bagi Indonesia emas 2045 merupakan salah satu pondasi yang  kuat untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu menjadikan  Indonesia negara yang maju, berdaulat dan makmur. Generasi emas yang  berkualitas dan menguasai pengetahuan serta teknologi untuk pembangunan bangsa  diharapkan memiliki karakter yang kuat dan keuletan yang tinggi dalam berbagai  bidang. Pendidikan pada saat ini tidak hanya menjadi sarana mentranfer ilmu  pengetahuan dari guru ke siswa, namun juga sebagai sarana pembentukan karakter,  kreatif dan inovatif, meningkatkan kecerdasan serta kecakapan terhadap kemajuan  teknologi. Pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin anak-anak  memiliki keterampilan dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan  media informasi, serta daaptbekerja, dan bertahan dalam menggunakan  keterampilan unutk hidup. Pendidikan yang berkualitas memiliki dampak yang luas  dalam kemajuan bangsa. Penyediaan pendidikan yang berkualitas menjadi titik  terang bagi cita-cita bangsa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.  

Peran Ki Hadjar Dewantara selaku Menteri Pendidikan Indonesia yang  pertama tidak dapat kita lepaskan dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.  Ki Hadjar Dewantara merupakan seorang pelopor terbentukna system pendidikan  di Indoensia. Keberadaannya dalam menentang penjajahan Belanda adalah dengan  mendirikan Perguruan Tamansiswa. Tamansiswa merupakan badan perjuangan  kebudayaaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam  arti luas sebagai sarana. Cita-cita Tamansiswa adalah untuk meningkatkan harkat  hidup masyarakat. Manusia yang bebas dari penindasan, hidup merdeka dan dapat  menentukan nasibnya sendiri serta sejahtera. Untuk mencapai cita-cita tersebut 

Tamansiswa menggunakan kegiatan pendidikan sebagai sarana, baik pendidikan  formal maupun pendidikan informal yang dikenal dengan “Tri Pusat Pendidikan”. 

Tri Pusat Pendidikan merupakan pendidikan Tamansiswa yang  memusatkan pendidikan pada tiga lingkungan, yaitu: 1) Lingkungan Keluarga, 2)  Lingkungan Sekolah, dan 3) Lingkungan Masyarakat. Keluarga adalah wadah yang  sangat penting dan merupakan sekolah pertama, di mana anak-anak menjadi  anggotanya. Di lingkungan keluarga anak-anak belajar menuju proses dewasa. Pada  masa ini anak akan meneladani apa yang dilakukan oleh orang tua sebagai bekal  dimasa dewasanya nanti. Lingkungan keluarga mengajarkan pendidikan budi  pekerti, keagamaan dan kemasyarakatan secara informal. Sementara lingkungan  sekolah merupakan lingkungan kedua yang berfungsi memberikan pendidikan  secara formal, mengembangkan pengetahuan, kecerdasan, ilmu pemgetahuan dan  keterampilan anak-anak. Lingkungan masyarakat menyediakan pendidikan  nonformal yang mendukung pembelajaran dan keterampilan hidup anak untuk  bekal hidup dimasa yang akan datang. Dengan demikian, pendidikan memiliki  memiliki makna mendalam dari sekedar pengajaran atau transfer ilmu dan tidak  akan berhasil jika seluruh tanggung jawab pendidikan diserahkan kepada sekolah.  Namun, tiga aspek lingkungan pendidikan memiliki peran tanggung jawab masing masing dalam mendidik, mengawasi, membangun dan mengembangkan  pengetahuan serta keterampilan anak-anak. 

Sistem pendidikan yang digunakan Tamansiswa adalah sistem among yang  berdasarkan asah, asih dan asuh. Pendidikan sistem among merupakan suatu sistem  yang berjiwa kekeluargaan dan berdasarkan dua asas yaitu 1) Kodrat Alam dan 2)  Kemerdekaan. Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai  kemjuan dengan secepat-cepatnya. Sementara kemerdekaan sebagai syarat unutk  menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak, agar dapat  memiliki pribadi kuat dan dapat berpikir serta berindak merdeka. Kewajiban guru  sebagai pemimpin yang mampu mempengaruhi dan memberikan dorongan dari  belakang kepada peserta didik, membangkitkan pemikiran dan memberikan  motivasi untuk berkembang serta mampu memberikan contoh yang baik. Sistem  Among menurut cara berlakunya disebut “Tut Wuri Handayani” (mengikuti dari  belakamg dan memberikan pengaruh), memberikan kebebasan kepada anak-anak  untuk tumbuh sesuai kodratnya sedangkan guru bertindak apabila diperlukan.  Menurut sistem among tersebut, setiap pamong (guru) sebagai pemimpin dalam  proses pendidiklan melaksanakan konsep: 1) Ing Ngarso Sung Tulodho, 2) Ing  Madyo Mangun Karso, 3) Tut Wuri Handayani. 

1) Ing Ngarso Sung Tulodho (di depan memberi teladan)

Guru harus bisa menjadi contoh yang baik bagi orang-orang disekitar,  terutama anak didiknya. Dalam pendidikan, guru memiliki tanggung jawab  memberikan panutan baik dalam ucapan, tindakan maupun moral. 

2) Ing Madyo Mangun Karso (di tengah memberi semangat) 

Di posisi tengah, pemimpin berperan sebagai motivator dan fasilitator,  mendorong individu lain untuk bersemangat atau membangun semangat, berpartisipasi dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Pendidik harus  membangun suasana belajar yang mendukung kreativitas, inovasi dan kemandirian  siswa. 

3) Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan) 

Pemimpin berfungsi sebagai pendorong dan pemberi semangat. Adanya  semangat menjadikan seseorang lebih termotivasi dan semangat untuk  melaksanakan pembelajaran. Seorang tenaga pendidik harus bisa menjadi  motivator bagi peserta didiknya. Semboyan ini juga dapat mendorong seorang  pendidik agar lebih maju dalam proses pemebelajaran, menjadi lebih kreativ dan  inovatif dalam merancang pembelajaran di kelas.  

Pendidikan berbasis karakter masih dibutuhkan untuk menciptakan  pendidikan pada Inonesia emas 2045. Generasi yang menguasai kemajuan  teknologi, kreativitas dan inovatif tidak akan berjalan jika tidak diberikan  pembelajaran mengenai pendidikan karakter. Ajaran dalam pendidikan tamansiswa  yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan moral dalam pembelajaran dapat  menjadi solusi untuk mengatasi krisis moral. Salah satu ajara yang dapat diterapkan  yaitu konsep Neng-Ning-Nung-Nang. Neng berati meneng, yaitu tentram lahir dan  batinnya. Ning berasal dari kata wening dan bening berarti jernih pikirannya, yaitu  mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Nung, artinya kuat,  Sentosa dalam kemauannya dan kokoh dalam kekuatannya baik secara lahir  maupun batin. Nang, yaitu menang atau wewenang, berhak atas segala usahanya. 

Dalam kemajuan teknologi dan informasi, ajaran tamansiswa dalam  pengembangan kebudayaan juga perlu untuk dilaksanakan. Kebudayaan Indonesia  yang beragam tidak boleh ditinggalkan dengan adanya perkembangan di segala  bidang. Sebagai warga negara, khususnya sebagai pendidik kita harus bisa  memebrikan peserta didik mengenai kebudayaan. Mengajarkan mereka unutk tetap  melestarrikan kebudayaan Indonesia. Ajaran pendidikan tamansiswa untuk  mendukung pengembangan pendidikan kebudayaan adalah konsep Trikon yaitu  kontinyu, konvergensi dan konsentris. 

Kontinyu berrti berkelanjutan. Yaitu peningkatan dan pengembangan  kebudayaan untuk kelanjutan dari kebudayaan yang sudah ada. Pembelajaran yang 

sudah diterima peserta didik merupakan lanjutan dari pembelajaran yang  sebelumnya. Konvergensi berarti jalan bersama antara kebudayaan bangsa sendiri  dengan kebudayaan bangsa asing dan saling memperkaya kebudayan. Dengan  kemajuan dan perkembangan di segala bidang, kita harus mempersiapkan peserta  didik untuk siap menyerap dampak negatif perkembangan tersebut dengan seleksi  dan penyesuaian. Konsep yang terakhoir adalah konsentris, konsentris berarti  lingkaran kebudayaan dalam pergaulan manusia pada umumnya dengan tidak  kehilangan kepribadian atau identitad kebudayaan masing-masing bangsa. 

Nilai-nilai pendidikan tamansiswa tetap relevan hingga masa kini dan  mampu menghadapi tantangan perkembangan di masa yang akan dating. Ajaran  pendidikan tamansiswa berbasis budaya, pendidikan karakter, penguatan  kebudayaan dan sebagainya dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan.  Dengan mnegintegrasikan pendidikan tamansiswa dalam sistem pendidikan  nasional, Indonesia dapat melahirkan generasi emas yang tidak hanya cerdas dalam  teknologi, kreatif dan inovatif namun juga menciptakan generasi emas yang  bermoral, berbudi luhur dan cinta tanah air.


×
Berita Terbaru Update