Nama : Mutia Widyaningrum
NIM : 2024015135
Kelas : 1D
Pendidikan Tamansiswa Solusi Indonesia Emas 2045
Bonus demografi yang dimiliki Indonesia merupakan sumberdaya manusia yang potensial untuk modal pembangunan di masa mendatang. Bonis demografi diharapkan menjadi modal bagi Indonesia sehingga generasi sekarang merupakan generasi emas pada tahun 2045 yang merupakan generasi cemerlang, potensial, produktif, berkompeten dan berkarakter. Salah satu upaya yang mndukung terwujudnya bonus demografi pada tahun 2045 menjadi generasi emas adalah melalui pendidikan.
Pendidikan bagi Indonesia emas 2045 merupakan salah satu pondasi yang kuat untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu menjadikan Indonesia negara yang maju, berdaulat dan makmur. Generasi emas yang berkualitas dan menguasai pengetahuan serta teknologi untuk pembangunan bangsa diharapkan memiliki karakter yang kuat dan keuletan yang tinggi dalam berbagai bidang. Pendidikan pada saat ini tidak hanya menjadi sarana mentranfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa, namun juga sebagai sarana pembentukan karakter, kreatif dan inovatif, meningkatkan kecerdasan serta kecakapan terhadap kemajuan teknologi. Pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin anak-anak memiliki keterampilan dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta daaptbekerja, dan bertahan dalam menggunakan keterampilan unutk hidup. Pendidikan yang berkualitas memiliki dampak yang luas dalam kemajuan bangsa. Penyediaan pendidikan yang berkualitas menjadi titik terang bagi cita-cita bangsa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Peran Ki Hadjar Dewantara selaku Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama tidak dapat kita lepaskan dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara merupakan seorang pelopor terbentukna system pendidikan di Indoensia. Keberadaannya dalam menentang penjajahan Belanda adalah dengan mendirikan Perguruan Tamansiswa. Tamansiswa merupakan badan perjuangan kebudayaaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas sebagai sarana. Cita-cita Tamansiswa adalah untuk meningkatkan harkat hidup masyarakat. Manusia yang bebas dari penindasan, hidup merdeka dan dapat menentukan nasibnya sendiri serta sejahtera. Untuk mencapai cita-cita tersebut
Tamansiswa menggunakan kegiatan pendidikan sebagai sarana, baik pendidikan formal maupun pendidikan informal yang dikenal dengan “Tri Pusat Pendidikan”.
Tri Pusat Pendidikan merupakan pendidikan Tamansiswa yang memusatkan pendidikan pada tiga lingkungan, yaitu: 1) Lingkungan Keluarga, 2) Lingkungan Sekolah, dan 3) Lingkungan Masyarakat. Keluarga adalah wadah yang sangat penting dan merupakan sekolah pertama, di mana anak-anak menjadi anggotanya. Di lingkungan keluarga anak-anak belajar menuju proses dewasa. Pada masa ini anak akan meneladani apa yang dilakukan oleh orang tua sebagai bekal dimasa dewasanya nanti. Lingkungan keluarga mengajarkan pendidikan budi pekerti, keagamaan dan kemasyarakatan secara informal. Sementara lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua yang berfungsi memberikan pendidikan secara formal, mengembangkan pengetahuan, kecerdasan, ilmu pemgetahuan dan keterampilan anak-anak. Lingkungan masyarakat menyediakan pendidikan nonformal yang mendukung pembelajaran dan keterampilan hidup anak untuk bekal hidup dimasa yang akan datang. Dengan demikian, pendidikan memiliki memiliki makna mendalam dari sekedar pengajaran atau transfer ilmu dan tidak akan berhasil jika seluruh tanggung jawab pendidikan diserahkan kepada sekolah. Namun, tiga aspek lingkungan pendidikan memiliki peran tanggung jawab masing masing dalam mendidik, mengawasi, membangun dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan anak-anak.
Sistem pendidikan yang digunakan Tamansiswa adalah sistem among yang berdasarkan asah, asih dan asuh. Pendidikan sistem among merupakan suatu sistem yang berjiwa kekeluargaan dan berdasarkan dua asas yaitu 1) Kodrat Alam dan 2) Kemerdekaan. Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemjuan dengan secepat-cepatnya. Sementara kemerdekaan sebagai syarat unutk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak, agar dapat memiliki pribadi kuat dan dapat berpikir serta berindak merdeka. Kewajiban guru sebagai pemimpin yang mampu mempengaruhi dan memberikan dorongan dari belakang kepada peserta didik, membangkitkan pemikiran dan memberikan motivasi untuk berkembang serta mampu memberikan contoh yang baik. Sistem Among menurut cara berlakunya disebut “Tut Wuri Handayani” (mengikuti dari belakamg dan memberikan pengaruh), memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk tumbuh sesuai kodratnya sedangkan guru bertindak apabila diperlukan. Menurut sistem among tersebut, setiap pamong (guru) sebagai pemimpin dalam proses pendidiklan melaksanakan konsep: 1) Ing Ngarso Sung Tulodho, 2) Ing Madyo Mangun Karso, 3) Tut Wuri Handayani.
1) Ing Ngarso Sung Tulodho (di depan memberi teladan)
Guru harus bisa menjadi contoh yang baik bagi orang-orang disekitar, terutama anak didiknya. Dalam pendidikan, guru memiliki tanggung jawab memberikan panutan baik dalam ucapan, tindakan maupun moral.
2) Ing Madyo Mangun Karso (di tengah memberi semangat)
Di posisi tengah, pemimpin berperan sebagai motivator dan fasilitator, mendorong individu lain untuk bersemangat atau membangun semangat, berpartisipasi dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Pendidik harus membangun suasana belajar yang mendukung kreativitas, inovasi dan kemandirian siswa.
3) Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan)
Pemimpin berfungsi sebagai pendorong dan pemberi semangat. Adanya semangat menjadikan seseorang lebih termotivasi dan semangat untuk melaksanakan pembelajaran. Seorang tenaga pendidik harus bisa menjadi motivator bagi peserta didiknya. Semboyan ini juga dapat mendorong seorang pendidik agar lebih maju dalam proses pemebelajaran, menjadi lebih kreativ dan inovatif dalam merancang pembelajaran di kelas.
Pendidikan berbasis karakter masih dibutuhkan untuk menciptakan pendidikan pada Inonesia emas 2045. Generasi yang menguasai kemajuan teknologi, kreativitas dan inovatif tidak akan berjalan jika tidak diberikan pembelajaran mengenai pendidikan karakter. Ajaran dalam pendidikan tamansiswa yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan moral dalam pembelajaran dapat menjadi solusi untuk mengatasi krisis moral. Salah satu ajara yang dapat diterapkan yaitu konsep Neng-Ning-Nung-Nang. Neng berati meneng, yaitu tentram lahir dan batinnya. Ning berasal dari kata wening dan bening berarti jernih pikirannya, yaitu mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Nung, artinya kuat, Sentosa dalam kemauannya dan kokoh dalam kekuatannya baik secara lahir maupun batin. Nang, yaitu menang atau wewenang, berhak atas segala usahanya.
Dalam kemajuan teknologi dan informasi, ajaran tamansiswa dalam pengembangan kebudayaan juga perlu untuk dilaksanakan. Kebudayaan Indonesia yang beragam tidak boleh ditinggalkan dengan adanya perkembangan di segala bidang. Sebagai warga negara, khususnya sebagai pendidik kita harus bisa memebrikan peserta didik mengenai kebudayaan. Mengajarkan mereka unutk tetap melestarrikan kebudayaan Indonesia. Ajaran pendidikan tamansiswa untuk mendukung pengembangan pendidikan kebudayaan adalah konsep Trikon yaitu kontinyu, konvergensi dan konsentris.
Kontinyu berrti berkelanjutan. Yaitu peningkatan dan pengembangan kebudayaan untuk kelanjutan dari kebudayaan yang sudah ada. Pembelajaran yang
sudah diterima peserta didik merupakan lanjutan dari pembelajaran yang sebelumnya. Konvergensi berarti jalan bersama antara kebudayaan bangsa sendiri dengan kebudayaan bangsa asing dan saling memperkaya kebudayan. Dengan kemajuan dan perkembangan di segala bidang, kita harus mempersiapkan peserta didik untuk siap menyerap dampak negatif perkembangan tersebut dengan seleksi dan penyesuaian. Konsep yang terakhoir adalah konsentris, konsentris berarti lingkaran kebudayaan dalam pergaulan manusia pada umumnya dengan tidak kehilangan kepribadian atau identitad kebudayaan masing-masing bangsa.
Nilai-nilai pendidikan tamansiswa tetap relevan hingga masa kini dan mampu menghadapi tantangan perkembangan di masa yang akan dating. Ajaran pendidikan tamansiswa berbasis budaya, pendidikan karakter, penguatan kebudayaan dan sebagainya dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan. Dengan mnegintegrasikan pendidikan tamansiswa dalam sistem pendidikan nasional, Indonesia dapat melahirkan generasi emas yang tidak hanya cerdas dalam teknologi, kreatif dan inovatif namun juga menciptakan generasi emas yang bermoral, berbudi luhur dan cinta tanah air.
