-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kesejahteraan Psikologis Anak SD “Fondasi yang Sering Terlupakan dalam Dunia Pendidikan

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-06T23:05:03Z

Kesejahteraan Psikologis Anak SD “Fondasi yang Sering Terlupakan dalam Dunia Pendidikan

Oleh : Yusuf Mahfud

2024015109

PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Sebagai pendidik yang terjun langsung dalam dunia pendidikan dasar, saya menyadari bahwa perbincangan tentang kualitas pendidikan di Indonesia seringkali terlalu teknis—tentang angka, kurikulum, capaian akademik, dan peringkat asesmen. Sayangnya, satu aspek fundamental justru jarang dibicarakan secara serius: kesejahteraan psikologis peserta didik. Padahal, dari pengamatan saya di lapangan, banyak persoalan belajar yang sebenarnya berakar pada kondisi emosi anak yang tidak stabil, tidak dipahami, atau bahkan diabaikan.

Ketika anak-anak duduk di bangku sekolah dasar, mereka berada dalam tahap perkembangan yang sangat krusial, baik dari sisi kognitif, emosi, maupun sosial. Teori perkembangan Erik Erikson menyebutkan bahwa anak usia SD berada pada tahap industry vs. inferiority—mereka ingin merasa mampu dan dihargai atas pencapaian mereka. Namun, ketika lingkungan tidak mendukung atau bahkan cenderung menekan, anak bisa merasa gagal, tidak mampu, dan mulai menilai diri mereka secara negatif. Inilah yang menjadi akar dari berbagai permasalahan psikologis yang kemudian menghambat proses belajar mereka.

Realitas yang Ditemui di Lapangan

Saya sering menjumpai anak-anak yang enggan ke sekolah bukan karena tidak mampu belajar, tetapi karena merasa tidak nyaman secara emosional di kelas. Contohnya, seorang siswa saya bernama F (nama samaran) yang selalu cemas setiap kali pelajaran matematika dimulai. Setelah saya dekati dan ajak bicara, ternyata ia merasa tertekan karena sering dimarahi ketika tidak langsung paham instruksi. Ia tidak takut pada pelajarannya, tetapi takut pada respon emosional gurunya.

Kasus lain, ada siswa yang menjadi sangat pendiam setelah pulang libur panjang. Setelah beberapa minggu, baru terungkap bahwa ia mengalami konflik keluarga yang membuatnya sulit berkonsentrasi. Namun, karena ia tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya, ia menarik diri dari lingkungan belajar.

Ini bukan kasus yang langka. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan LPAI menunjukkan meningkatnya kasus tekanan emosional dan gangguan psikologis di kalangan anak, terutama setelah pandemi. Sayangnya, sekolah belum sepenuhnya bertransformasi menjadi tempat yang emosionaly safe atau aman secara psikologis.

Mengapa Kesejahteraan Psikologis Itu Penting di SD?

Banyak pihak masih beranggapan bahwa anak-anak SD belum terlalu “sadar diri” atau “serius” dalam belajar, sehingga kebutuhan emosional mereka sering dianggap tidak prioritas. Padahal justru sebaliknya. Menurut penelitian dari UNICEF (2021), anak-anak yang merasa nyaman secara emosional di sekolah menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterlibatan belajar dan kemampuan sosial.

Saya berpendapat bahwa kesejahteraan psikologis bukanlah pelengkap, tetapi syarat utama bagi proses pendidikan yang manusiawi dan berkelanjutan. Tidak mungkin kita menuntut anak fokus belajar bila pikirannya dipenuhi ketakutan, kecemasan, atau perasaan tidak berharga. Emosi anak bukan gangguan proses belajar—mereka justru bagian dari proses belajar itu sendiri.

Guru sebagai Agen Emosional

Saya sangat percaya bahwa guru adalah figur sentral yang mampu menciptakan atmosfer emosional di kelas. Guru bukan sekadar pengantar materi, melainkan emosional role model yang sikapnya akan ditiru dan dirasakan anak-anak setiap hari. Guru yang peka akan kebutuhan psikologis siswanya akan lebih mudah membangun hubungan yang hangat, suportif, dan memotivasi.

Sayangnya, sebagian dari kita masih membawa pola pengajaran lama yang mengedepankan otoritas dan hukuman, tanpa mempertimbangkan dampaknya pada emosi anak. Kita mungkin tidak menyadari bahwa satu kalimat kasar bisa membekas lama di hati seorang anak dan membentuk kepercayaan diri yang buruk terhadap dirinya sendiri.

Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa pendidikan guru seharusnya mencakup pelatihan kecerdasan emosional, bukan hanya pedagogik. Kita harus membekali guru dengan keterampilan untuk membaca sinyal psikologis anak, membangun empati, dan menciptakan ruang belajar yang inklusif secara emosional.

Langkah-Langkah Solutif dari Pengalaman Saya

Dari pengalaman pribadi dan refleksi sebagai guru, saya menemukan bahwa ada beberapa pendekatan praktis yang bisa mendukung kesejahteraan psikologis anak SD:

  1. Rutinitas dialog pagi: Setiap pagi saya menyapa siswa satu per satu, menanyakan kabar mereka, dan mendengarkan cerita sederhana mereka. Ini membangun rasa aman dan hubungan yang kuat.

  2. Menormalisasi kesalahan: Di kelas saya, saya selalu mengatakan bahwa salah itu biasa, dan belajar itu proses. Saya juga sengaja menunjukkan bahwa guru pun bisa salah, agar anak tidak takut mencoba.

  3. Papan emosi harian: Kami membuat papan ekspresi di mana anak bisa menempelkan stiker yang menggambarkan perasaannya hari itu. Ini membantu anak mengenali dan mengungkapkan emosinya.

  4. Bekerjasama dengan orang tua: Saya membangun komunikasi dua arah dengan orang tua, bukan hanya saat anak “bermasalah”, tapi juga saat mereka menunjukkan kemajuan, sekecil apapun.

Menurut saya, pendekatan semacam ini tidak membutuhkan biaya besar, tapi butuh komitmen, refleksi, dan niat untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyembuhkan, bukan menyakiti.

Penutup: Sekolah yang Memanusiakan Anak

Pendidikan dasar bukan sekadar tahap awal penguasaan materi, tapi tahap pondasi pembentukan manusia seutuhnya. Jika kita gagal menciptakan ruang aman bagi perkembangan emosi anak, maka sehebat apapun kurikulumnya, tidak akan membuahkan hasil yang bermakna.

Saya yakin, selama guru dan sekolah memandang anak bukan sebagai “penerima instruksi”, tapi sebagai pribadi yang sedang tumbuh dengan segala kompleksitasnya, maka pendidikan kita akan menjadi lebih relevan dan manusiawi.

Kesejahteraan psikologis anak bukan tanggung jawab konselor sekolah saja, tapi tanggung jawab kita semua sebagai pendidik. Maka mari kita mulai dari kelas masing-masing, dari anak yang ada di depan mata kita, dan dari sikap kita setiap hari. Karena masa depan mereka, dan masa depan bangsa ini, dimulai dari kenyamanan mereka hari ini.


×
Berita Terbaru Update