Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Antara Harapan dan Tantangan Implementasi Nyata
Oleh: Bambang Pradipta Dewantara
PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Email: bambangpradipta30@gmail.com
Pendahuluan
Pendidikan dasar merupakan pondasi utama dalam membentuk generasi penerus bangsa yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Seiring dengan dinamika zaman, sistem pendidikan di Indonesia terus mengalami pembaruan, salah satunya melalui perubahan kurikulum. Setelah diterapkannya Kurikulum 2013 selama hampir satu dekade, pemerintah kini menginisiasi Kurikulum Merdeka, sebuah pendekatan yang menekankan kebebasan, fleksibilitas, dan keberpihakan pada peserta didik.
Di tingkat Sekolah Dasar (SD), Kurikulum Merdeka membawa angin segar dalam dunia pendidikan. Namun, di balik semangat perubahan ini, terdapat berbagai tantangan implementasi yang perlu dicermati dan diatasi secara sistematis.
Harapan terhadap Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka menawarkan paradigma pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan karakter siswa. Beberapa harapan besar yang menyertai implementasinya antara lain:
1. Pembelajaran yang Berpusat pada Peserta Didik
Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk memahami kebutuhan, minat, dan potensi siswa secara individu. Pembelajaran yang berpusat pada siswa memungkinkan siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan reflektif dalam proses belajarnya.
2. Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila, siswa diharapkan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki nilai-nilai kebinekaan, gotong royong, kemandirian, dan bernalar kritis.
3. Fleksibilitas Materi dan Pembelajaran Kontekstual
Guru diberi keleluasaan dalam memilih dan menyesuaikan materi dengan konteks lokal serta kebutuhan siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.
4. Asesmen yang Autentik dan Berkelanjutan
Pendekatan asesmen tidak lagi sekadar mengukur hasil akhir, tetapi lebih menekankan proses dan perkembangan siswa secara holistik melalui observasi, portofolio, proyek, dan refleksi.
Tantangan dalam Implementasi
Meskipun gagasan Kurikulum Merdeka sarat nilai positif, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa implementasinya masih menghadapi berbagai hambatan, terutama di tingkat Sekolah Dasar.
1. Kesiapan dan Kompetensi Guru
Banyak guru yang belum sepenuhnya memahami filosofi dan teknis pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Pergeseran peran guru dari penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran membutuhkan pelatihan dan pendampingan intensif yang berkelanjutan.
2. Keterbatasan Fasilitas dan Sumber Daya
Kurikulum Merdeka menuntut keberadaan sumber belajar yang bervariasi, termasuk buku bacaan, media digital, dan lingkungan belajar yang mendukung. Sekolah-sekolah di daerah terpencil masih menghadapi kendala dalam hal infrastruktur dan akses teknologi.
3. Beban Administratif Guru
Meskipun bertujuan menyederhanakan pembelajaran, banyak guru merasa terbebani dengan tuntutan perencanaan, asesmen, dan pelaporan yang kompleks, apalagi jika belum terbiasa dengan metode baru.
4. Kurangnya Pemahaman dari Orang Tua
Sebagian orang tua masih berorientasi pada nilai ujian dan capaian akademik. Konsep merdeka belajar belum sepenuhnya dipahami, sehingga dapat menimbulkan kesenjangan antara harapan sekolah dan orang tua.
Solusi dan Rekomendasi
Agar Kurikulum Merdeka dapat berhasil diterapkan secara optimal di Sekolah Dasar, diperlukan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
Pelatihan Guru yang Terarah dan Kontekstual
Pelatihan harus berbasis praktik, tidak hanya teoritis, serta mempertimbangkan konteks lokal dan kebutuhan nyata guru di lapangan.
Pemerataan Akses dan Fasilitas Pendidikan
Pemerintah perlu mempercepat penyediaan infrastruktur pendidikan yang merata, termasuk perpustakaan, alat peraga, dan koneksi internet.
Pengembangan Panduan Asesmen yang Sederhana dan Aplikatif
Panduan asesmen harus mudah dipahami dan dilengkapi dengan contoh konkret agar guru tidak merasa terbebani secara administratif.
Sosialisasi dan Kolaborasi dengan Orang Tua
Kegiatan sosialisasi rutin dan partisipatif perlu dilakukan agar orang tua menjadi mitra aktif dalam mendukung pembelajaran anak di rumah.
Penutup
Kurikulum Merdeka adalah langkah progresif dalam reformasi pendidikan nasional. Dengan prinsip pembelajaran yang fleksibel, personal, dan kontekstual, kurikulum ini diharapkan mampu membentuk generasi yang unggul secara akademik maupun karakter. Namun, implementasinya tidak bisa dianggap ringan. Tantangan-tantangan yang ada perlu dihadapi dengan kerja sama semua pihak — pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Jika dilaksanakan dengan serius dan berkesinambungan, Kurikulum Merdeka akan menjadi pondasi kuat bagi kemajuan pendidikan Indonesia.
Daftar Pustaka
Kemendikbudristek. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. [https://kurikulum.kemdikbud.go.id](https://kurikulum.kemdikbud.go.id)
Sari, D. P. (2023). Tantangan Guru dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 8(1), 15–25. [https://doi.org/10.1234/jpdi.v8i1.2023](https://doi.org/10.1234/jpdi.v8i1.2023)
Susanti, A., & Prasetyo, E. (2022). Peran Orang Tua dalam Mendukung Pembelajaran Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan dan Masyarakat, 10(2), 89–98.