-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Membangun Lingkungan Belajar SD yang Sehat Secara Emosional: Tantangan atau Harapan?

Senin, 07 Juli 2025 | Juli 07, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-07T10:26:01Z

Nama:Nadia Aminatuzzahro 

Instasi:PGSD UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA


  “Membangun Lingkungan Belajar SD yang Sehat Secara Emosional: Tantangan atau Harapan?” 




Lingkungan belajar di Sekolah Dasar (SD) seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak, baik secara akademik maupun psikologis. Namun, realitanya, di berbagai sekolah dasar, aspek kesejahteraan emosional siswa seringkali terpinggirkan di tengah padatnya tuntutan kurikulum, beban administrasi guru, dan keterbatasan fasilitas penunjang. Di sinilah muncul pertanyaan penting: mungkinkah kita benar-benar membangun lingkungan belajar SD yang sehat secara emosional, atau ini hanya sekadar harapan ideal?


Mengapa Lingkungan Belajar yang Sehat Secara Emosional Itu Penting?

Anak usia SD berada pada fase perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang sangat krusial. Menurut Piaget, mereka sedang dalam tahap operasional konkret, di mana pemahaman logis mulai berkembang tetapi masih sangat dipengaruhi oleh konteks nyata. Dalam masa ini, suasana emosional yang positif berperan penting dalam membentuk motivasi belajar, rasa percaya diri, serta kemampuan mereka untuk berinteraksi dan menyelesaikan konflik secara sehat.


Lingkungan belajar yang penuh tekanan, otoriter, atau kurang responsif dapat memicu kecemasan, rasa takut gagal, bahkan trauma belajar yang membekas hingga jenjang pendidikan lebih tinggi. Tak jarang, masalah perilaku seperti membolos, agresif, atau menarik diri muncul sebagai alarm bahwa kebutuhan psikologis anak terabaikan.


Fakta di Lapangan: Antara Idealisme dan Kenyataan

Meskipun banyak program pemerintah maupun kebijakan kurikulum yang menekankan pendidikan karakter dan pengembangan siswa secara holistik, implementasi di lapangan seringkali belum optimal. Beberapa tantangan nyata di antaranya:


Rasio guru dan murid yang tidak seimbang.

Guru di SD sering harus menangani kelas besar dengan murid yang beragam latar belakangnya. Akibatnya, perhatian individual pada kondisi emosional tiap anak menjadi sulit.


Fokus berlebihan pada capaian akademik.

Tekanan untuk mencapai nilai tinggi dan target Ujian Sekolah sering membuat proses pembelajaran lebih menekankan hafalan dan drill soal daripada pengembangan karakter dan kesejahteraan psikologis.


Kurangnya pelatihan guru di bidang psikologi pendidikan.

Banyak guru belum dibekali pengetahuan dan keterampilan memadai untuk mendeteksi, mencegah, atau menangani masalah emosional siswa secara tepat.


Minimnya dukungan konseling di sekolah dasar.

Tidak semua SD memiliki guru Bimbingan dan Konseling (BK) khusus. Padahal, kebutuhan konseling di tingkat SD sama pentingnya dengan jenjang SMP atau SMA.


Langkah-Langkah Menuju Lingkungan Belajar yang Lebih Sehat

Meski tantangan tampak kompleks, membangun lingkungan belajar SD yang sehat secara emosional bukan mustahil dilakukan. Beberapa langkah strategis dapat diterapkan oleh berbagai pihak:


Pendidikan Guru yang Komprehensif

Perguruan tinggi penyedia program pendidikan guru perlu memasukkan materi psikologi pendidikan secara lebih mendalam. Guru SD sebaiknya dibekali cara mendeteksi gejala stres, bullying, atau konflik antar siswa, serta keterampilan komunikasi empatik.


Kebijakan Sekolah yang Peduli Kesejahteraan Psikologis

Kepala sekolah dan pengelola sekolah perlu menjadikan kesehatan mental siswa sebagai indikator keberhasilan sekolah, bukan semata hasil ujian. Kegiatan belajar mengajar harus memberi ruang bagi diskusi, bermain peran, serta ekspresi emosi.


Kolaborasi dengan Orang Tua dan Komunitas

Lingkungan belajar yang sehat tidak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua dan masyarakat sekitar. Komunikasi terbuka antara guru dan orang tua dapat membantu memahami masalah siswa secara lebih utuh.


Penguatan Layanan Konseling Dasar

Jika tidak memungkinkan memiliki guru BK khusus, sekolah dapat melatih guru kelas menjadi pendamping konseling dasar, atau bekerja sama dengan psikolog dari luar sekolah secara berkala.


Membangun Budaya Sekolah yang Ramah Anak

Budaya saling menghargai, anti-bullying, serta keterbukaan untuk mengungkapkan pendapat tanpa takut disalahkan harus terus ditanamkan. Ini memerlukan teladan nyata dari guru dan staf sekolah.


Tantangan atau Harapan?

Pada akhirnya, membangun lingkungan belajar SD yang sehat secara emosional memang bukan perkara mudah. Banyak variabel penentu di luar kendali sekolah, seperti kebijakan pendidikan nasional, kondisi ekonomi keluarga, dan budaya masyarakat yang kadang masih memandang emosi sebagai hal tabu untuk dibicarakan.


Namun, menjadikannya sebagai harapan tanpa tindakan nyata justru akan menambah daftar masalah dalam dunia pendidikan kita. Optimisme harus tetap dirawat dengan upaya konkret, sekecil apa pun itu: guru yang mendengar keluh kesah muridnya, sekolah yang memfasilitasi sudut baca atau ruang diskusi, orang tua yang hadir mendampingi belajar anak tanpa memarahi.


Lingkungan belajar yang sehat secara emosional bukan mimpi kosong. Ia adalah sebuah proses panjang yang menuntut sinergi semua pihak: guru, orang tua, sekolah, pemerintah, bahkan kita sebagai anggota masyarakat. Karena pada akhirnya, anak-anak SD hari ini adalah penentu kualitas generasi bangsa di masa depan.

Jadi, apakah membangun lingkungan belajar SD yang sehat secara emosional itu tantangan atau harapan? Jawabannya sederhana: keduanya. Tantangan yang besar, tetapi juga harapan yang harus terus diperjuangkan.


×
Berita Terbaru Update