Mengidentifikasi Gangguan Belajar Anak SD dari Perspektif Psikologi Pendidikan
Isnani Maulidia Fauziyah (2024015126)
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Identifikasi Gangguan Belajar Anak SD dari Perspektif Psikologi Pendidikan
Mengidentifikasi gangguan belajar pada anak Sekolah Dasar (SD) sangat penting dilakukan secara dini agar intervensi dan dukungan yang tepat dapat diberikan. Dari perspektif psikologi pendidikan menekankan signifikansi memahami karakteristik anak, kebutuhan, faktor penyebab, gejala yang muncul dalam proses belajar dan potensi istimewa masing-masing anak untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung secara optimal. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua anak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik, sehingga muncul beragam bentuk kesulitan belajar yang perlu diidentifikasi sejak dini dan akurat.
Definisi dan Klasifikasi Gangguan Belajar
Dalam perspektif psikologi pendidikan, gangguan belajar atau learning disabilities didefinisikan sebagai kondisi neurologis yang menyebabkan perbedaan signifikan antara potensi intelektual anak dan prestasi akademiknya. Gangguan belajar adalah kondisi di mana anak mengalami hambatan nyata dalam aspek akademis, baik secara umum maupun khusus, yang tidak disebabkan oleh kecacatan fisik atau intelektual yang jelas. American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa gangguan belajar bisa berupa disleksia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis), atau diskalkulia (kesulitan berhitung). Hal ini bukan masalah motivasi atau kecerdasan, tetapi bagaimana otak memproses informasi secara berbeda. Gangguan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori utama:
Kesulitan belajar perkembangan (pra-akademik): Meliputi gangguan perkembangan motorik (kasar dan halus), sensorik (penglihatan, pendengaran, perabaan), perseptual (kesulitan memahami objek yang didengar atau dilihat), serta perilaku (misalnya ADD/ADHD).
Kesulitan belajar akademik: Berupa kegagalan dalam pencapaian prestasi akademik, seperti nilai rendah atau kegagalan menguasai materi pelajaran.
Jenis-Jenis Gangguan Belajar
Beberapa contoh gangguan belajar yang sering ditemukan pada anak SD antara lain:
Disleksia: Kesulitan membaca, mengenali kata, mengeja, dan memahami hubungan antara huruf dan suara.
Diskalkulia: Kesulitan dalam memahami konsep matematika dasar, seperti aritmatika, pecahan, dan bilangan.
Disgrafia: Kesulitan menulis, tulisan tangan buruk, atau kesulitan memegang alat tulis.
Gangguan konsentrasi dan perhatian (ADD/ADHD): Kesulitan fokus, mudah teralihkan, hiperaktif.
Gejala Gangguan Belajar
Gejala yang dapat diamati meliputi:
Kesulitan memahami instruksi dan mengikuti pelajaran.
Sering membalik huruf, kata, atau angka.
Kesulitan mengenali pola, konsep waktu, atau menyortir benda.
Koordinasi motorik yang buruk saat menulis atau melakukan aktivitas sehari-hari.
Emosi yang labil, mudah marah, atau menunjukkan perilaku negatif di lingkungan sekolah.
Prestasi belajar rendah, sering tidak naik kelas, atau nilai di bawah standar.
Langkah Identifikasi Gangguan Belajar
Psikologi pendidikan merekomendasikan beberapa langkah sistematis untuk mengidentifikasi gangguan belajar pada anak SD:
Analisis Hasil Belajar: yaitu dengan membandingkan nilai siswa dengan standar minimal kelulusan, kelompokkan berdasarkan kemampuan, dan tentukan prioritas layanan.
Observasi dan Pengumpulan Data: mengamati perilaku, reaksi emosional, dan interaksi sosial anak di kelas. Menggunakan daftar cek perilaku untuk mendeteksi penyimpangan.
Tes Diagnostik: Menggunakan tes khusus untuk mengetahui letak dan jenis kesulitan belajar, baik secara akademik maupun perkembangan.
Wawancara dan Angket: Melibatkan guru, orang tua, dan anak untuk mengidentifikasi faktor penyebab, baik internal (psikologis, motivasi, kesiapan belajar) maupun eksternal (lingkungan, metode pengajaran).
Kolaborasi Lintas Profesi: Melibatkan psikolog, guru, dan tenaga kesehatan dalam proses asesmen dan penentuan intervensi yang dibutuhkan.
Faktor Penyebab Gangguan Belajar
Gangguan belajar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:
Gaya belajar anak yang tidak sesuai dengan metode mengajar guru.
Kurangnya kesiapan belajar dari sisi kognitif, emosional, atau sosial.
Gangguan perkembangan sensorik, motorik, atau perseptual.
Faktor lingkungan, seperti kurangnya dukungan di rumah atau sekolah.
Kesimpulan
Pentingnya identifikasi gangguan belajar di kalangan anak-anak Sekolah Dasar (SD) harus dilakukan sejak awal agar intervensi yang sesuai dapat diterapkan untuk mendukung proses belajar secara maksimal. Dari sudut pandang psikologi pendidikan, gangguan belajar tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pencapaian akademis, tetapi juga terkait erat dengan perkembangan kognitif, motorik, emosional, dan sosial anak. Gangguan belajar dapat dibagi menjadi kesulitan belajar perkembangan serta kesulitan belajar akademik, dengan berbagai bentuk seperti disleksia, diskalkulia, disgrafia, dan ADHD.
Tanda-tanda gangguan belajar dapat terlihat dari tingkah laku anak yang mengalami kesulitan dalam mengikuti arahan, menulis, membaca, memahami konsep, serta memperlihatkan respons emosional yang tidak konsisten. Proses identifikasi harus dilakukan secara terstruktur melalui analisis hasil belajar, pengamatan, uji diagnostik, wawancara, dan kerja sama antar profesi. Penyebab gangguan belajar sangat bervariasi, mulai dari metode belajar yang tidak sesuai, kesiapan belajar yang belum optimal, hingga situasi lingkungan yang kurang mendukung.
Dengan pemahaman mendalam tentang karakteristik serta kebutuhan anak, pendekatan psikologi pendidikan mendukung guru, orang tua, dan profesional lainnya dalam memberikan bantuan yang tepat agar setiap anak memiliki peluang yang sama untuk berkembang secara optimal di lingkungan sekolah.