-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENUMBUHKAN KEMANTANGAN EMOSI DAN SOSIAL ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI PERAN GURU YANG PEDULI

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-06T23:30:59Z

MENUMBUHKAN KEMANTANGAN EMOSI DAN SOSIAL ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI PERAN GURU  YANG PEDULI

NAMA  : HABIB AL ZAHFI (2024015099)

PGSD UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMAN SISWA

E-Mail : habibalzahf@gmail.com

                                                   WhatsApp Image 2025-07-04 at 18.53.38_74f12204


ABSTRAK


Pendidikan  merupakan  sebuah  kebiasaan  yang  berperan  penting  dalam  kehidupan,  karena  tidak  hanya memberi  pengetahuan  tetapi  juga  mengajarkan  tentang  hal  yang  benar.  Menurut  Undang-Undang  Nomor  20 Tahun  2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional  Bab  I  Pasal  1  Ayat  1)  Pendidikan  adalah  usaha  sadar  dan terencana  untuk  mewujudkan  suasana  belajar  dan  proses  pembelajaran  agar  peserta  didik  secara  aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,  akhlak  mulia,  serta  keterampilan  yang  diperlukan  dirinya,  masyarakat,  bangsa,  dan  negara. Pendidikan sekolah dasar terdapat seorang pelaksana yaitu guru yang menjadi pendidik, pengajar, pembimbing, dan melakukan evaluasi.  Guru  memiliki  peran  penting  untuk  membuat  peserta  didik  berkualitas  baik  akademis,  keahlian, kematangan emosional, moral serta spiritual. Untuk menunjang semua itu, diperlukan sosok guru yang memiliki kualifikasi, kompetensi, serta dedikasi yang tinggi dalam menyelenggarakan tugasnya ((Kusnandar, 2007:40). Salah  satunya  dengan  ikut  serta  dalam  mengembangkan  karakter  kedisiplinan  peserta  didik.  Hal  tersebut menjadikan  seorang  guru  sebagai  pelaku  utama  yang  menjadi  sumber  inspirasi  dan  motivasi  bagi  peserta didiknya  ((Minsih  &  Galih  D.,  2018:22). Dengan  demikian  guru  memiliki  tanggung  jawab  besar  guna menciptakan generasi-generasi muda yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Namun kenyataannya banyak peserta didik yang memiliki perilaku tidak disiplin khususnya di lingkungan sekolah.  Perilaku  yang  ditunjukkan  antara  lain  datang  ke  sekolah  terlambat,  tidak  mematuhi  aturan  sekolah, tidak  mengumpulkan  tugas  tepat  waktu,  bahkan  ada  yang  berbicara  tidak  sopan  pada  guru.  Hal  tersebut menunjukkan  kurangnya  pembentukan  karakter  peserta didik  selama  proses  pembelajaran  di  kelas.  Menurut Julia  &  Ati  (2019)  bahwa  pendidikan  karakter  merupakan  proses  pendidikan  yang  menanamkan  dan mengembangkan  karakter-karakter  luhur  kepada  anak  didik,  sehingga  mereka  memiliki  karakter  luhur,  dan menerapkan serta mempraktikan dalam kehidupannya, baik di lingkungan keluarga, warga masyarakat, maupun warga  negara.  Untuk  itu,  perlu  adanya  langkah  yang diambil  oleh  seorang  guru  selama  proses  pelayanan bimbingan karakter peserta didik terutama karakter kedisiplinan.

Kata kunci: Pendidikan, Karakter, Emosional


PENDAHULUAN

Peserta  didik  yang  berada  pada  jenjang  pendidikan  dasar  (SD/MI)  adalah mereka  yang  sedang  menjalani  tahap  perkembangan  masa  kanak-kanak  dan memasuki  masa  remaja  awal. Apabila  mereka  mengakhiri  pendidikannya  di  SD,mereka berada pada tahap perkembangan memasuki masa remaja awal.Pada   masa   di   sekolah   dasar   peserta   didik   peserta   didik   diharapkan memperoleh pengetahuan yang dipandang sangat penting bagi pendidikan jenjang selanjutnya.Oleh    karena    itu,anak-anak    diharapkan    dapat    mempelajari keterampilan-keterampilan yang ada,yaitu:

a.Keterampilan membantu diri sendiriPada masa ini anak-anak    mampu    membantu    dirinya    sendiri    untuk menyesuaikan dirinya sendiri untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.Dia  mampu  memecahkan  masalahnya  sendiri  sehingga  ia dapat berintegrasi dengan lingkungannya.

b.Keterampilan sosialPada masa ini anak-anak mampu bersosialisasi baik dengan teman suumurnya maupun dengan orang yang lebih tua/muda darinya.

c.Keterampilan sekolahAnak-anak pada masa ini mampu untuk bersekolah,mengikuti pelajaran  dan menyerap pelajaran.

d.Keterampilan bermain pada usia anak sekolah dasar,anak-anak mampu bermain maianan untuk usia mereka.

(Iskandarwassid dan Dadang,2008:140)Masa anak sekolah dasar,peran kelompok sebaya sangat berarti,Ia sangat mendambakan  supaya  dapat  diterima  oleh  kelompoknya.Baik  dalam  perilaku maupun  dalam  mengukapkan  jati  diri,terutama  masalah  bahasa,anak  cenderung meniru    kelompok    sebayanya.Iskandarwassid    dan    Danang    (2012: 141) mengemukakan  bahwa  “anak  masa  sekolah  dasar  ini  pada  umumnya  mudah diasuh dan diarahkan dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya.


ISI DAN ARGUMEN

Lingkungan belajar yang positif menciptakan rasa aman dan nyaman bagi anak. Rasa aman ini menjadi kunci utama agar anak bisa belajar dengan tenang dan percaya diri. Ketika guru memperlakukan murid dengan penuh kesabaran, menghargai perbedaan, dan terbuka dalam berkomunikasi, maka anak merasa diterima. Dalam suasana seperti itu, anak tidak takut untuk mencoba, tidak malu untuk bertanya, dan lebih terlibat dalam kegiatan belajar. Seperti dikatakan oleh Vygotsky (1978), proses belajar sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, karena sejatinya belajar adalah kegiatan yang berlangsung dalam hubungan antar manusia.

Tak hanya itu, lingkungan belajar yang baik juga membentuk kemampuan sosial anak. Di usia sekolah dasar, anak sedang giat-giatnya belajar bersosialisasi. Lingkungan yang mendorong kerja sama, menghargai perbedaan, dan membangun toleransi akan memperkaya pengalaman sosial mereka. Dari interaksi yang positif, anak belajar menyelesaikan konflik, memahami perasaan orang lain, dan menjalin relasi yang sehat. Sebaliknya, lingkungan yang terlalu kompetitif atau penuh tekanan bisa menyebabkan kecemasan dan bahkan perundungan. Penelitian Pianta dkk. (2002) menunjukkan bahwa hubungan guru dan murid yang hangat dan suportif berdampak besar pada keterlibatan anak, baik secara akademik maupun sosial.


KESIMPULAN

Kecerdasan emosional anak adalah kemampuan anak untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosinya sendiri, serta kemampuan untuk mengenali dan merespons emosi orang lain secara tepat.

Kecerdasan emosional ini mencakup beberapa aspek penting, yaitu:

1. Kesadaran diri (self-awareness): Anak mampu mengenali dan menyadari perasaan yang sedang dirasakannya.

2. Pengendalian diri (self-regulation): Anak bisa mengendalikan emosi, misalnya tidak langsung marah ketika kecewa.

3. Motivasi diri (self-motivation): Anak terdorong untuk melakukan sesuatu dengan semangat, meskipun menghadapi tantangan.

4. Empati: Anak bisa memahami perasaan orang lain dan peduli terhadapnya.

5. Keterampilan sosial:* Anak mampu menjalin hubungan yang baik, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan efektif.


Kecerdasan emosional sangat penting bagi anak karena:

1. Membantu perkembangan sosial yang sehat.

 Meningkatkan kemampuan belajar dan fokus di sekolah. Menurunkan risiko perilaku negatif seperti agresivitas atau menarik diri.

Peran guru dan orang tua sangat penting dalam membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional ini, melalui contoh perilaku, komunikasi yang baik, dan bimbingan dalam mengelola emosi sehari-hari.



DAFTAR PUSTAKA


Amala, Adimas K., and Honest U. Kaltsum. "Peran Guru sebagai Pelaksana Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Menanamkan Kedisiplinan Bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar." Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 6, Dec. 2021, pp. 5213-5220, doi:10.31004/basicedu.v5i6.1579.

Hidayah, Nurul. "Penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar." TERAMPIL: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar 2.2 (2017): 190-204.

Amala, Adimas Khoirul, and Honest Ummi Kaltsum. "Peran guru sebagai pelaksana layanan bimbingan dan konseling dalam menanamkan kedisiplinan bagi peserta didik di sekolah dasar." Jurnal basicedu 5.6 (2021): 5213-5220.

nurhayati, n. (2023). Strategi guru dalam mengembangkan kemampuan sosial emosional pada anak Sekolah Dasar (SD) usia 7-8 tahun di Tenggarong. Jurnal Benua Etam Ramah Anak Usia Dini, 1(1), 26-35.

Handayani, S. W., Masfuah, S., & Fardani, M. A. (2021). Kecerdasan emosional anak Sekolah Dasar saat pembelajaran daring. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 5(3), 446-456. https://doi.org/10.23887/jppp.v5i3.32250

Andini, S. R., Putri, V. M., Desyandri, D., & Irdamurni, I. (2022). Dampak pendidikan karakter untuk mengelola emosional peserta didik di Kelas V. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 11161-11167.

Damayanti, E., & Nugroho, A. (2020). Strategi Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 5(2), 123-132.

Yuliana, R. (2019). Peran Guru sebagai Pendidik dalam Menumbuhkan Ketahanan Emosi Siswa. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, 6(1), 45-53.


×
Berita Terbaru Update