Upaya Guru Menjadikan Sekolah sebagai Rumah Kedua bagi Murid: Pendekatan Metode Belajar dan Karakter Anak
Penulis: Chika Ajdaulia Putri
ABSTRAK
Kenyamanan belajar dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh sekolah, yang berfungsi sebagai rumah kedua. Dengan menggunakan strategi pengajaran yang sesuai dengan kepribadian murid- muridnya, guru dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang ramah dan mendidik. Selain unsur-unsur eksternal seperti keluarga dan lingkungan sosial, karakter anak-anak dibentuk oleh berbagai unsur internal seperti emosi, kemampuan, dan kecerdasan. Artikel ini membahas cara-cara untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua dan bagaimana para pendidik dapat menciptakan praktik pengajaran yang beradaptasi dengan variasi karakter murid-muridnya.
PENDAHULUAN
Gagasan bahwa sekolah berfungsi sebagai rumah kedua bukan sekadar slogan, melainkan paradigma pendidikan yang mengutamakan kesejahteraan psikologis dan keterlibatan emosional siswa selama proses pembelajaran. Sekolah menjadi lingkungan yang nyaman seperti rumah ketika anak-anak merasa dihargai, dipahami, dan dilibatkan dalam proses pembelajaran. Dalam situasi ini, instruktur memiliki peran penting dalam membantu siswa mengembangkan karakter mereka serta sebagai penyedia pengetahuan, pengasuh, dan fasilitator.
KARAKTER ANAK : HASIL INTERAKSI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL
Faktor Internal
Karakter anak tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh aspek-aspek internal yang bersifat biologis dan psikologis. Setiap anak memiliki gaya belajar, motivasi, kecerdasan, emosi, dan kebutuhan yang berbeda (Santrock, 2011). Misalnya, anak dengan kecenderungan kinestetik akan lebih mudah menyerap materi melalui praktik langsung, sedangkan anak dengan kecerdasan verbal lebih nyaman dengan penjelasan lisan dan diskusi.
Faktor Eksternal
Lingkungan keluarga, budaya masyarakat, dan pengaruh teman sebaya juga memainkan peran penting. Anak dari keluarga demokratis cenderung lebih mandiri, sementara anak dari keluarga otoriter mungkin. mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pendapat (Bronfenbrenner, 1979). Oleh karena itu, guru perlu peka terhadap latar belakang siswa agar mampu menyesuaikan pendekatan pembelajarannya.
METODE PEMBELAJARAN YANG MENDUKUNG KONSEP SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA
Agar sekolah menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi siswa, guru perlu mengadaptasi metode belajar yang menumbuhkan rasa dimiliki, dihargai, dan dilibatkan. Berikut adalah beberapa pendekatan yang efektif:
Pembelajaran Berbasis Sosial-Emosional
Pendekatan ini menggabungkan pengembangan emosi dengan proses akademik. Menurut CASEL (2020), pembelajaran sosial-emosional meningkatkan kemampuan siswa dalam mengenali dan mengelola emosi, menetapkan tujuan positif, serta menjalin hubungan yang sehat. Guru dapat menyisipkan refleksi harian, kegiatan saling mengapresiasi, dan latihan empati dalam proses belajar.
Diferensiasi Pembelajaran
Metode ini memungkinkan guru menyesuaikan materi, proses, dan produk belajar sesuai dengan kebutuhan individual siswa (Tomlinson, 2001). Misalnya, siswa dengan kebutuhan khusus diberikan tugas dengan level yang sesuai, tanpa mengurangi makna dari pembelajaran itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa guru memahami karakter murid, sebagaimana orang tua memahami anaknya.
Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kooperatif memberikan ruang interaksi antar siswa dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas bersama. Metode ini menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dan empati. Dalam suasana yang kolaboratif, siswa merasa dihargai dan lebih terlibat dalam pembelajaran, sehingga menumbuhkan ikatan emosional dengan sekolah (Johnson & Johnson, 1999).
Strategi Pembiasaan dan Keteladanan
Guru dapat menanamkan nilai karakter melalui keteladanan sikap dan pembiasaan positif. Misalnya, mengawali pelajaran dengan salam, mengucap terima kasih, serta memberi pujian atas usaha siswa. Ini meniru suasana rumah yang penuh penghargaan dan afeksi.
STRATEGI MENJADIKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA
Membangun Iklim Sekolah yang Positif
Sekolah harus menciptakan iklim yang aman, inklusif, dan mendukung psikologis anak. Guru dapat menciptakan kelas yang terbuka terhadap perbedaan dan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berpartisipasi tanpa takut dikritik. Lingkungan yang seperti ini mendekati suasana rumah yang hangat dan penuh penerimaan (Noddings, 2005).
Menjalin Hubungan Personal dengan Murid
Guru yang mengenal pribadi dan latar belakang siswanya mampu membimbing lebih efektif. Dengan komunikasi yang baik, guru dapat membangun kepercayaan dan menjadi tempat "curhat" bagi siswa yang menghadapi masalah, seperti peran orang tua di rumah.
Melibatkan Orang Tua dan Komunitas
Sekolah sebagai rumah kedua tidak dapat berjalan tanpa kerja sama dengan rumah pertama, yakni keluarga. Komunikasi yang intens antara guru dan orang tua, serta pelibatan komunitas lokal dalam pembelajaran (misalnya melalui proyek sosial), memperkaya pengalaman belajar anak dan memperkuat rasa memiliki terhadap sekolah.
KESIMPULAN
Diperlukan pemahaman mendalam tentang karakter anak-anak, yang dibentuk oleh pertemuan keadaan internal dan eksternal, untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua. Dengan menggunakan strategi pengajaran yang fleksibel dan penuh kasih sayang, para pendidik dapat secara strategis menciptakan lingkungan belajar yang ramah, menyenangkan lan instruktif. Anak- anak yang mengalami penerimaan, penghargaan, dan pemahaman di sekolah akan an berkembang menjadi orang dewasa yang percaya diri, mandiri, dan bermoral baik. Agar sekolah benar-benar menjadi "rumah kedua" bagi setiap anak, diperlukan kolaborasi antara pendidik, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development. Harvard University Press.
CASEL (2020). What is SEL? Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning. https://casel.org/
Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (1999). Learning Together and Alone: Cooperative, Competitive, and Individualistic Learning. Allyn & Bacon.
Noddings, N. (2005). The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education. Teachers College Press.
Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology. McGraw-Hill.
Tomlinson, C. A. (2001). How to Differentiate Instruction in Mixed-Ability Classrooms. ASCD.