NAMA:Kurnia Ayu Nurhayani
NIM : 2024015123
PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Menumbuhkan Kesejahteraan Emosional Anak di Sekolah Dasar melalui Peran Guru yang Empatik
Pendidikan di sekolah dasar tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan semata, tetapi juga membentuk pribadi peserta didik secara utuh. Salah satu aspek yang sering kali luput dari perhatian adalah kesejahteraan emosional anak, yaitu kondisi di mana anak mampu mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya dengan sehat. Dalam konteks ini, peran guru tidak terbatas pada pengajar materi pelajaran, tetapi juga sebagai pendamping perkembangan psikologis anak. Guru yang empatik memiliki pengaruh besar dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung kesehatan emosional siswa, yang pada akhirnya berdampak pada proses belajar mereka secara keseluruhan.
Pentingnya Kesejahteraan Emosional Anak SD
Masa sekolah dasar merupakan periode krusial dalam pembentukan karakter dan perkembangan emosi anak. Pada tahap ini, anak mulai belajar memahami dirinya dan orang lain, mengenali perasaan, serta membangun hubungan sosial. Apabila kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi—misalnya karena tekanan belajar, lingkungan yang tidak ramah, atau kurangnya dukungan dari orang dewasa—anak rentan mengalami stres, kecemasan, bahkan gangguan perilaku.
Penelitian dalam bidang psikologi pendidikan menunjukkan bahwa anak dengan kondisi emosional yang sehat cenderung lebih mudah berkonsentrasi, memiliki motivasi belajar yang tinggi, serta mampu berinteraksi positif dengan lingkungan. Sebaliknya, ketidakstabilan emosi dapat menghambat perkembangan kognitif dan sosial anak, yang pada akhirnya berdampak buruk terhadap prestasi belajar.
Guru sebagai Agen Kesejahteraan Emosional
Dalam sistem pendidikan dasar, guru memegang posisi yang sangat strategis dalam membentuk kesejahteraan emosional peserta didik. Guru tidak hanya menjadi sumber ilmu, tetapi juga figur pengganti orang tua selama anak berada di sekolah. Oleh karena itu, guru yang empatik—yang mampu memahami perasaan dan kebutuhan emosional siswanya—akan lebih efektif dalam menciptakan hubungan yang positif dan mendukung.
Empati guru tercermin dari sikap peduli, kesediaan mendengar keluh kesah anak, serta kemampuan mengenali perubahan emosi atau perilaku siswa yang mungkin menandakan adanya masalah. Dengan empati, guru dapat memberi respons yang tepat, baik melalui pendekatan personal maupun penyesuaian metode mengajar, sehingga anak merasa dipahami, dihargai, dan diterima.
Strategi Guru Empatik dalam Mendukung Emosi Anak
Untuk membangun kesejahteraan emosional siswa, guru perlu menerapkan beberapa pendekatan yang berbasis pada pemahaman psikologi anak, antara lain:
1. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman Secara Emosional
Lingkungan belajar yang mendukung ditandai dengan suasana kelas yang terbuka, bebas dari ejekan, ancaman, atau tekanan. Guru dapat menetapkan aturan kelas yang menumbuhkan rasa saling menghormati dan bekerja sama, sehingga setiap anak merasa aman mengekspresikan diri.
2. Membangun Komunikasi Dua Arah
Komunikasi yang baik antara guru dan siswa mendorong kepercayaan dan kedekatan emosional. Guru dapat menyediakan waktu khusus untuk berdialog dengan siswa, menanyakan perasaan mereka, serta memberi ruang bagi siswa untuk menyampaikan ide atau masalah yang dihadapi.
3. Mengenali dan Menghargai Perbedaan Individu
Setiap anak memiliki latar belakang, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Guru yang empatik akan lebih peka terhadap keberagaman ini dan berupaya menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar setiap siswa mendapat perhatian yang setara.
4. Memberikan Dukungan Positif dan Penguatan Emosional
Pujian, motivasi, dan penghargaan atas usaha siswa, sekecil apa pun, dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak. Guru dapat mengekspresikan dukungan ini secara verbal maupun nonverbal agar anak merasa dihargai dan termotivasi.
5. Berkoordinasi dengan Orang Tua dan Konselor
Guru juga perlu bekerja sama dengan orang tua dan pihak sekolah lainnya, seperti konselor atau wali kelas, untuk mengidentifikasi dan menangani masalah emosional yang lebih kompleks. Kolaborasi ini memperkuat sistem dukungan bagi anak secara menyeluruh.
Tantangan dan Harapan
Meskipun peran guru sangat penting, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa belum semua guru memiliki kemampuan empatik yang memadai. Beberapa guru lebih fokus pada capaian akademik siswa, sementara aspek emosional kerap diabaikan. Di sisi lain, beban kerja yang tinggi dan jumlah siswa yang besar sering menjadi hambatan guru untuk mengenali secara mendalam kondisi tiap anak.
Untuk itu, institusi pendidikan dan pemerintah perlu memberikan pelatihan atau pembinaan berkelanjutan bagi guru, khususnya dalam bidang psikologi perkembangan dan pendidikan emosional. Selain itu, kurikulum pendidikan guru harus memasukkan kompetensi empatik sebagai bagian penting dari profesionalisme pendidik.
Penutup
Kesejahteraan emosional anak di sekolah dasar merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang yang optimal, baik secara akademik maupun sosial. Dalam hal ini, guru memainkan peran kunci sebagai pengarah, pendamping, sekaligus penguat emosi anak. Melalui sikap empatik dan strategi yang tepat, guru dapat menciptakan suasana belajar yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menyehatkan jiwa. Maka dari itu, mari kita dorong hadirnya guru-guru empatik yang mampu menjadi pelita bagi masa depan anak-anak bangsa.