Menyelami Luka Psikologis dalam Pendidikan Dasar
Oleh: Anyo Putu Adrianie
Pendidikan dasar bukan sekadar tempat bagi anak-anak untuk mempelajari dasar-dasar membaca, menulis, dan berhitung. Ini adalah tahap awal yang penting dalam perjalanan panjang menuju pengembangan kepribadian yang utuh. Namun, dalam pelaksanaannya, kita sering mengabaikan satu aspek vital dalam pendidikan ini yaitu keadaan psikologis anak. Saya menulis ini bukan hanya berdasarkan teori atau konsep, tetapi dari pengalaman nyata lebih dari lima tahun berinteraksi dengan siswa-siswa di tingkat sekolah dasar yang diam-diam menyimpan bekas luka psikologis akibat sistem pendidikan yang sangat kaku, tekanan dari orang tua, atau bahkan karena guru yang kurang peka terhadap perasaan anak.
Luka Psikologis yang Tak Terlihat Luka psikologis pada anak sering kali tidak tampak secara jelas. Banyak anak yang terlihat pendiam dianggap tidak terbebani. Anak yang enggan belajar dianggap malas. Anak yang kerap bersikap marah dianggap nakal. Namun, bisa jadi semua perilaku itu merupakan tanda adanya masalah psikologis yang tidak baik. Sebuah penelitian oleh American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa tekanan akademik yang tinggi, kurangnya dukungan dari lingkungan sosial, dan minimnya validasi emosional dari guru atau orang tua dapat memicu gangguan kecemasan, penurunan harga diri, hingga depresi pada anak usia sekolah dasar.
Pendidikan Dasar dan Kebutuhan Psikologis Anak Erik Erikson, seorang ahli psikologi perkembangan, mengungkapkan bahwa usia 6–12 tahun merupakan tahap perkembangan yang dikenal sebagai "Industry vs Inferiority" (Produktivitas vs Rasa Rendah Diri). Pada tahap ini, anak-anak mulai berusaha merasa mampu dalam berbagai aktivitas. Namun, jika mereka sering diberi label negatif atau dibandingkan dengan orang lain, mereka dapat mengalami rasa rendah diri yang berkepanjangan hingga dewasa. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang mendukung anak dalam membangun rasa percaya diri dan kompetensi, alih-alih menjadi tempat yang membuat mereka merasa gagal karena tidak dapat memenuhi standar akademik yang seragam. Penting untuk mengadopsi pendekatan yang lebih empatik dari guru—tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendukung emosional.
Tekanan Kurikulum dan Minimnya Waktu Emosional Salah satu tantangan besar dalam pendidikan dasar kita adalah beban kurikulum yang berat dan terlalu berfokus pada aspek akademik. Anak-anak di sekolah dasar saat ini diharuskan untuk menghafal materi yang mungkin sulit dipahami bahkan oleh orang dewasa. Kita terlalu menekankan pada hasil ujian, nilai rapor, dan prestasi, tanpa mempertimbangkan pertanyaan: "Apakah anak-anak kita menikmati proses belajar? " Dalam pengamatan saya, anak-anak yang memiliki guru yang sabar, komunikatif, dan terbuka biasanya merasa lebih nyaman serta menunjukkan kemajuan akademik dan sosial yang lebih baik. Ini sejalan dengan teori "Zone of Proximal Development" yang diajukan Vygotsky, yang menekankan pentingnya peran orang dewasa atau teman sebaya dalam mendukung perkembangan anak melalui interaksi sosial yang positif.
Ketimpangan Sosial dan Luka Psikologis Tidak dapat disangkal, faktor sosial ekonomi juga memiliki peranan penting. Anak-anak dari keluarga yang mengalami konflik, kesulitan ekonomi, atau trauma tertentu sangat rentan mengalami masalah psikologis. Di sekolah negeri tempat saya bertugas, terdapat seorang anak dari keluarga tidak utuh yang sering tampak menyendiri, sulit fokus, dan cenderung agresif. Alih-alih menghukumnya, saya dan guru bimbingan konseling berupaya untuk mendampinginya dengan cara yang lebih personal. Hasilnya mulai terlihat: ia menjadi lebih terbuka dan lebih kooperatif. Di sinilah pentingnya peran sekolah sebagai "rumah kedua" yang tidak hanya menilai anak dari aspek kognitif, tetapi juga mendukung mereka secara emosional. Sekolah harus menjadi tempat yang aman secara psikologis.
Solusi: Menjadi Guru yang Melihat Lebih Dalam Sebagai pendidik, kita perlu mengubah cara pandang: dari "mengajar anak" menjadi "memahami anak sambil mengajar. " Beberapa langkah sederhana yang dapat diambil oleh guru untuk mendukung kesehatan mental siswa adalah:
Mendengarkan dengan empati, bukan hanya saat ada masalah, tetapi juga sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari.
Menciptakan lingkungan kelas yang inklusif dan mendukung, tempat di mana semua anak merasa aman untuk mengekspresikan diri.
Berkerja sama dengan orang tua dan konselor sekolah untuk memahami latar belakang siswa secara menyeluruh.
Mengurangi tekanan akademik yang tidak perlu dan memberi kesempatan untuk belajar dengan cara yang menyenangkan.
Mengintegrasikan pembelajaran sosial-emosional (SEL) dalam proses belajar, seperti belajar mengelola emosi, memahami perasaan orang lain, dan membangun hubungan yang positif.
Peran Pemerintah dan Kurikulum Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar dalam merancang sistem pendidikan yang berpihak pada kebutuhan psikologi anak. Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan beberapa tahun lalu memberikan peluang baru karena memberi kebebasan bagi guru untuk lebih fleksibel dan relevan. Namun, perlu diadakan pelatihan untuk guru mengenai kesehatan mental anak, serta pengintegrasian kurikulum yang secara eksplisit mendorong pendidikan karakter dan sosial-emosional.
Harapan: Pendidikan yang Memanusiakan Saya masih meyakini bahwa pendidikan adalah jalur menuju peningkatan kemanusiaan. Namun, jalan tersebut akan rapuh jika kita membangunnya di atas bekas luka psikologis anak-anak yang tidak pernah kita sadari. Sudah saatnya kita menghentikan kebiasaan hanya mengejar angka dan mulai memperhatikan wajah-wajah kecil yang datang ke sekolah setiap pagi, bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk merasakan pengakuan, rasa dihargai, dan kasih sayang. Sebagai guru, saya tidak ingin dikenang sebagai yang terbaik dalam mengajar, tetapi sebagai seseorang yang pernah hadir dengan tulus dalam kehidupan anak-anak. Karena itulah yang mereka butuhkan untuk tumbuh: bukan hanya pengetahuan, tetapi juga perlindungan, pengertian, dan kasih sayang.
Luka psikologis dalam pendidikan dasar adalah isu yang nyata, serius, dan mendesak untuk ditangani. Jika kita ingin mencetak generasi yang cerdas dan berintegritas, kita harus mulai dengan menciptakan iklim belajar yang aman dan sehat secara emosional. Anak yang sehat jiwanya, akan tumbuh menjadi individu yang kuat pikirannya.