-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Empati di Kelas Membangun Lingkungan Belajar yang Sehat secara Emosional

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-07T05:55:21Z

Empati di Kelas Membangun Lingkungan Belajar yang Sehat secara Emosional



Nama : Divine Parengu

Instansi : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Pendidikan Guru Sekolah Dasar



Empati di Kelas Membangun Lingkungan Belajar yang Sehat secara Emosional

Dalam dunia pendidikan dasar, sering kali perhatian utama tertuju pada kemampuan akademik siswa: bagaimana mereka membaca, berhitung, dan menulis. Namun, satu aspek penting yang sering terabaikan adalah kesehatan emosional siswa. Di sinilah empati memainkan peran krusial. Empati bukan hanya kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, tetapi juga jembatan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Apa Itu Empati?

Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain dan merespons dengan cara yang penuh pengertian dan kasih. Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional, menyebut empati sebagai salah satu komponen utama dari emotional intelligence (EQ), yaitu kemampuan memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara sehat. Dalam konteks kelas, empati berarti guru dan siswa saling menyadari kondisi emosional satu sama lain dan bertindak dengan pertimbangan serta kebaikan hati. Empati bukan hanya tentang bersikap baik. Menurut Marshall Rosenberg, pencetus Nonviolent Communication, empati adalah dasar dari komunikasi yang sehat dan mendalam. Dalam interaksi guru dan siswa, komunikasi empati dapat membantu memecahkan konflik, menghindari kesalahpahaman, dan menciptakan rasa aman secara psikologis.

Mengapa Empati Penting di Sekolah Dasar?

Anak usia SD berada dalam fase perkembangan sosial dan emosional yang sangat aktif. Mereka belajar mengenali perasaan diri, memahami perspektif orang lain, serta mulai membentuk nilai-nilai moral. Lingkungan sekolah, khususnya kelas, menjadi laboratorium sosial tempat mereka belajar tentang hubungan sosial, termasuk cara bersikap terhadap orang lain. Sebuah studi oleh Jones, Bouffard, dan Weissbourd (2013) menunjukkan bahwa sekolah yang menanamkan keterampilan sosial-emosional, termasuk empati, secara signifikan meningkatkan prestasi akademik siswa. Hal ini terjadi karena siswa merasa lebih nyaman, lebih terlibat, dan lebih termotivasi dalam belajar. Dengan kata lain, anak yang merasa “didengar” dan “dimengerti” akan belajar lebih baik. Lebih lanjut, Dr. Michele Borba, seorang psikolog pendidikan dan penulis buku UnSelfie: Why Empathetic Kids Succeed in Our All-About-Me World, menekankan bahwa empati bukanlah sifat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa diajarkan dan dilatih. Sekolah dasar adalah tempat terbaik untuk menanamkan keterampilan ini sejak dini, sebelum pola perilaku dan kepribadian anak mengeras.

Empati dalam Praktik: Peran Guru

Guru adalah tokoh sentral dalam pembentukan iklim emosional di kelas. Seorang guru yang memiliki empati akan mampu membaca suasana hati siswa, memahami perbedaan latar belakang mereka, dan menanggapi dengan pendekatan yang sesuai. Misalnya, ketika seorang siswa tampak murung dan enggan berbicara, guru yang empati tidak serta-merta menghukumnya karena tidak aktif, melainkan mencoba mencari tahu penyebabnya dengan pendekatan yang lembut: “Kamu tampak tidak seperti biasanya hari ini. Mau cerita?” Dengan interaksi sederhana seperti ini, guru membuka ruang bagi siswa untuk merasa aman dan dihargai. Selain itu, guru dapat secara aktif mengajarkan empati lewat kegiatan pembelajaran. Misalnya:

  • Diskusi cerita: Setelah membaca cerita, siswa diajak untuk membayangkan bagaimana perasaan tokoh utama.

  • Drama sederhana: Bermain peran untuk memahami situasi sosial dan cara menyelesaikan konflik.

  • Latihan “berjalan di sepatu orang lain”: Mengajak siswa berpikir bagaimana rasanya menjadi teman mereka yang sedang mengalami kesulitan.

Membangun Budaya Empati di Kelas


Membangun empati tidak cukup dilakukan secara insidental. Diperlukan budaya kelas yang menanamkan nilai-nilai empati secara konsisten dan terstruktur. Budaya ini mencakup:

  • Aturan kelas berbasis nilai: Misalnya, “Kita mendengarkan saat teman bicara” atau “Kita saling membantu”.

  • Refleksi harian: Memberikan waktu kepada siswa untuk merenung dan membagikan apa yang mereka rasakan hari itu.

  • Pujian terhadap perilaku empati: Memberi penghargaan ketika siswa menunjukkan kepedulian atau membantu temannya.

Studi dari Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) menegaskan bahwa lingkungan sekolah yang sehat secara emosional berkontribusi pada berkurangnya perilaku bermasalah, seperti bullying  serta meningkatkan hubungan antar siswa.

Tantangan di Lapangan

Meski terdengar ideal, penerapan empati dalam pendidikan dasar bukan tanpa tantangan. Guru sering dibebani tuntutan administratif, kurikulum padat, dan tekanan hasil ujian nasional. Dalam situasi seperti ini, aspek emosional kerap tersingkir. Selain itu, tidak semua guru menerima pelatihan yang memadai tentang kecerdasan emosional atau psikologi anak. Oleh karena itu, reformasi pendidikan guru dan pelatihan berkelanjutan menjadi penting. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus menyadari bahwa soft skills seperti empati bukan pelengkap, melainkan fondasi pendidikan yang utuh.

Orang Tua Juga Berperan

Lingkungan kelas tidak bisa dipisahkan dari rumah. Empati yang ditumbuhkan di sekolah akan lebih kuat jika mendapat dukungan dari lingkungan keluarga. Orang tua perlu memberi teladan sikap empati, mendengarkan anak, serta menghindari gaya pengasuhan yang mengabaikan perasaan anak. Sinergi antara guru dan orang tua akan mempercepat proses internalisasi empati dalam diri anak.

Pendidikan yang Menyentuh Hati

Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan juga transformasi karakter. Dalam dunia yang penuh tekanan, persaingan, dan distraksi digital, kemampuan untuk memahami dan merasakan orang lain menjadi keterampilan yang semakin langka namun sangat penting. Dengan menjadikan empati sebagai bagian inti dari kehidupan kelas, kita tidak hanya mencetak siswa yang pintar, tetapi juga manusia yang utuh, peduli, dan siap hidup bersama dalam masyarakat yang beragam. Mengutip kata-kata Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Namun, dunia yang berubah ke arah lebih damai dan manusiawi hanya mungkin terwujud jika pendidikan juga menyentuh hati, bukan hanya pikiran. Dan empati adalah kunci menuju pendidikan semacam itu.






×
Berita Terbaru Update