STRATEGI GURU DALAM MENGATASI ANAK DENGAN TRAUMA BELAJAR DI SEKOLAH DASAR
Oleh: Glory Zahrani_PGSD_Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Abstrak
Trauma belajar adalah hambatan psikologis yang dapat mengganggu proses pendidikan, khususnya pada anak usia sekolah dasar. Anak yang mengalami pengalaman negatif seperti teguran keras, hukuman, atau ejekan saat proses pembelajaran berisiko merasa takut dan kehilangan semangat belajar. Dalam konteks ini, peran guru sangat krusial sebagai pendamping yang dapat membimbing dan memulihkan semangat belajar anak. Artikel ini membahas berbagai pendekatan yang dapat diterapkan guru, mulai dari membangun kedekatan emosional, menciptakan suasana kelas yang nyaman, hingga menjalin kerja sama dengan orang tua dan tenaga ahli. Dilengkapi pula dengan contoh nyata praktik guru dalam mendampingi siswa yang mengalami trauma belajar.
Kata Kunci: trauma belajar, peran guru, pendekatan empatik, pembelajaran inklusif, kolaborasi sekolah dan orang tua
Pendahuluan
Sekolah dasar merupakan fondasi penting dalam proses pendidikan formal. Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, serta membentuk kepercayaan diri dan keterampilan sosial. Meskipun demikian, tidak semua anak menjalani proses belajar dengan mulus. Sebagian anak mengalami tekanan atau perlakuan yang tidak menyenangkan, seperti kegagalan akademik atau interaksi negatif di kelas.
Pengalaman semacam itu dapat memicu trauma belajar, yakni kondisi ketika anak merasa cemas, tertekan, bahkan enggan mengikuti pembelajaran. Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat berdampak pada penurunan prestasi akademik dan gangguan kesejahteraan emosional. Oleh karena itu, guru perlu memahami kondisi ini dan memiliki strategi tepat dalam mendampingi siswa yang mengalami trauma.
Kajian Teori
Apa Itu Trauma Belajar?
Trauma belajar adalah kondisi ketika anak merasa tertekan atau takut untuk belajar karena pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan saat mengikuti kegiatan belajar, seperti dimarahi, gagal mengerjakan tugas, atau merasa malu di depan teman-temannya.Menurut Slameto (2010), trauma ini dapat disebabkan oleh tekanan belajar, kegagalan berulang, atau perlakuan yang menimbulkan rasa malu dan takut. Anak dengan trauma belajar biasanya mengalami kecemasan, menarik diri, dan kesulitan mengikuti proses belajar.
Menurut Santrock (2012), anak-anak di usia sekolah dasar masih berada pada masa perkembangan emosi yang belum stabil. Oleh karena itu, pengalaman yang tidak menyenangkan bisa membuat mereka kehilangan semangat dan kepercayaan diri untuk belajar. anak usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan emosional yang rentan, sehingga pengalaman negatif dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap motivasi dan kepercayaan dirinya.
Peran Guru dalam Mendampingi Siswa
Suyadi (2019) menyampaikan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar materi pelajaran, tetapi juga harus bisa membimbing siswa secara emosional. Guru perlu mengenal karakter masing-masing siswa agar bisa membantu mereka mengatasi kesulitan belajar, termasuk jika mereka mengalami trauma.Guru yang memahami karakter siswa secara individual dapat lebih efektif dalam membimbing siswa melewati tantangan belajar, termasuk trauma yang mungkin mereka alam
Pembahasan
Ciri-Ciri Anak Mengalami Trauma Belajar
Anak yang mengalami trauma belajar sering kali menunjukkan tanda-tanda seperti kecemasan berlebihan ketika belajar, menolak untuk tampil di kelas, tampak murung, atau enggan berinteraksi dengan teman. Dalam beberapa kasus, mereka menjadi pasif dan kehilangan minat terhadap kegiatan akademik.
Strategi Kendala yang Dihadapi Guru
Dalam praktiknya, guru menghadapi berbagai keterbatasan, seperti jumlah siswa yang banyak, waktu yang terbatas, serta minimnya pelatihan dalam menangani masalah psikologis anak. Di banyak sekolah dasar, belum tersedia layanan konseling profesional yang dapat mendukung guru dalam menangani siswa dengan trauma belajar.
Guru dalam Mengatasi Trauma
Guru dapat memulai pendekatan dengan membangun hubungan yang suportif dan empatik. Menyapa siswa dengan ramah, mendengarkan keluh kesahnya, serta memberikan apresiasi atas setiap usaha yang dilakukan siswa dapat meningkatkan rasa aman dan percaya diri mereka.
Selain itu, penting untuk menerapkan metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan, seperti bermain peran, diskusi kelompok, mendongeng, atau aktivitas kreatif lainnya. Strategi ini membantu mengurangi tekanan dan membuat proses belajar menjadi lebih menarik.
Guru juga disarankan untuk menghindari membandingkan siswa satu dengan lainnya. Fokus sebaiknya diarahkan pada proses belajar dan pencapaian pribadi setiap anak, bukan pada hasil akhir semata.
Kerja Sama dengan Orang Tua dan Sekolah
Penanganan trauma belajar tidak dapat dilakukan guru seorang diri. Diperlukan kerja sama antara guru, orang tua, dan jika tersedia, tenaga konselor. Orang tua dapat memberikan dukungan emosional di rumah, menciptakan lingkungan belajar yang tenang, dan menjalin komunikasi rutin dengan guru mengenai perkembangan anak.
Bila sekolah belum memiliki layanan konseling, pelatihan dasar untuk guru mengenai identifikasi dan penanganan awal trauma belajar sangat diperlukan sebagai langkah pencegahan dan penanganan dini.
Contoh Masalah yang terjadi di Sekolah
Salah satu contoh adalah seorang siswa kelas tiga yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menjadi korban ejekan. Ia kemudian enggan tampil di kelas. Guru mengambil pendekatan yang lebih personal dengan mengajaknya membaca secara privat di pojok kelas dalam suasana santai. Guru memberikan pujian atas usahanya dan melibatkan siswa dalam kegiatan kelompok.
Hasilnya, siswa tersebut secara bertahap menjadi lebih percaya diri, kembali aktif di kelas, dan menunjukkan kemajuan yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang bersifat empatik dan konsisten dari guru sangat efektif dalam membantu siswa pulih dari trauma belajar.
Kesimpulan
Trauma belajar merupakan permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian dalam dunia pendidikan dasar. Guru berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman serta mendampingi siswa yang mengalami tekanan psikologis akibat pengalaman negatif saat belajar.
Melalui strategi pembelajaran yang mendukung, komunikasi empatik, serta kerja sama yang efektif dengan orang tua dan tenaga profesional, guru dapat membantu siswa mengatasi trauma belajar. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat yang tidak hanya mencerdaskan secara akademik, tetapi juga mendukung kesejahteraan mental dan emosional peserta didik.