-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENGARUH KESEHATAN MENTAL TERHADAP PROSES BELAJAR ANAK DI SEKOLAH DASAR

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-07T00:31:16Z

 

PENGARUH KESEHATAN MENTAL TERHADAP   PROSES BELAJAR ANAK DI SEKOLAH DASAR

Penulis: TIARA DEA AMANDA



Menurut WHO, Kesehatan mental adalah kondisi di mana individu mampu mengenali potensinya, mengatasi tekanan hidup normal, bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada komunitasnya. Pada anak sekolah dasar, ini berarti mereka merasa aman secara emosional, dihargai, serta mampu berinteraksi sosial dan belajar dengan baik.

Di balik keberhasilan anak di sekolah dasar, ada faktor penting yang sering kali luput dari perhatian yaitu Kesehatan mental. Selama ini, fokus Pendidikan cenderung pada aspek kognitif seperti membaca, berhitung, dan menghafal. Padahal seorang anak yang secara mental tidak sehat akan kesulitan menyerap Pelajaran, tidak peduli seberapa bagus metode pengajaran yang di gunakan. Anak SD bukan robot yang tinggal diberikan buku dan soal, mereka juga butuh rasa aman, nyaman, dihargai, dan diterima. Psikologi Pendidikan Lev Vygotsky menyebutkan bahwa perkembangan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan emosional. Dengan kata lain, anak hanya bisa belajar secara optimal jika lingkungan di sekitarnya mendukung pertumbuhan emosionalnya.

Belajar adalah proses kompleks yang melibatkan pikiran, emosi, dan motivasi. Anak yang sedang merasa takut, sedih, cemas, atau tidak aman secara psikologis, akan mengalami hambatan dalam menerima materi Pelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Maslow dalam teori kebutuhan dasarnya, kebutuhan akan rasa aman dan cinta harus di penuhi terlebih dahulu sebelum anak mampu mencapai potensi belajar maksimal.


Dari berbagai observasi lapangan dan praktik guru-guru di SD, di temukan bahwa :

  • Anak yang berasal dari lingkungan keluarga bermasalah sering menunjukkan perilaku agresif atau menarik diri.

  • Anak yang mengalami bullying atau perundungan di sekolah sering kali mengalami penurunan prestasi dan kehadiran.

  • Anak yang kurang dukungan emosional dari guru menunjukkan tingkat motivasi belajar yang rendah.

Temuan ini sejalan dengan studi dari National Institute Of Mental Health (NIMH) yang menunjukan bahwa gangguan emosi ringan pada anak usia sekolah dapat berdampak pada pencapaian akademik dan perkembangan sosial.

Kesehatan mental sangat mempengaruhi proses belajar. Anak yang mengalami kecemasan, ketakutan, atau tidak merasa aman di lingkungan sekolah cenderung dapat menyebabkan :

  • Kesulitan Konsentrasi

Anak yang cemas tidak bisa fokus, pikirannya penuh dengan kekuatan atau tekanan, bukan materi Pelajaran.

  • Mudah Lelah Secara Emosional

Anak yang tidak Bahagia akan cepat Lelah, bahkan sebelum pembelajaran di mulai.

  • Enggan Berpartisipasi Di Kelas

Anak yang merasa dirinya “tidak cukup baik” karena sering dimarahi, disbanding-bandingkan, atau di bully, cenderung paasif dan menarik diri dari proses belajar.

  • Nilai Akademik Menurun

Penelitian oleh Walker et al. (2017) menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan emosional cenderung memiliki capaian akademik yang rendah dibandingkan anak-anak lainnya.


Ada juga beberapa faktor pemicu gangguan Kesehatan mental pada anak SD, antara lain :

  • Tekanan belajar yang terlalu tinggi

  • Kurangnya dukungan emosional dari guru/orangtua

  • Lingkungan belajar yang tidak aman secara psikologis (misalnya:bullying)

  • Masalah keluarga, seperti perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)


Guru harus peduli akan hal ini karena, guru bukan hanya penyampai materi, tapi juga pengamat dan pendamping perkembangan anak. Dengan memahami tanda-tanda gangguan Kesehatan mental pada anak.


Langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah dan guru yaitu :

  • Membangun lingkungan kelas yang inklusif dan aman secara emosional

Guru sebaiknya menciptakan suasana kelas yang tidak hanya fokus pada nilai, tetapi juga hubungan  antara anak dan kesejahteraan mereka.

  • Memberikan ruang untuk anak mengekspresikan emosi 

Aktifitas seperti “jurnal emosi”, diskusi kelompok kecil atau konseling ringan bisa sangat membantu anak belajar mengenali dan mengelola perasaan.

  • Mengurangi tekanan akademik yang berlebihan

Belajar yang menyenangakan dan bermakna lebih efektif daripada penekanan pada nilai dan rangking.

  • Kolaborasi dengan orangtua dan konselor sekolah

Kesehatan mental anak adalah tanggung jawab bersama. Guru, orangtua, dan ahli perlu bekerja sama dalam mendukung tumbuh kembang anak.


Penelitian oleh UNESCO menyatakan bahwa kesejahteraan emosional anak secara langsung berpengaruh terhadap kemampuam akademik dan hubungan sosial. Artinya, anak yang sehat secara mental bukan hanya akan lebih mudah belajar, tapi juga lebih sepi menghadapi tantangan hidup.

Kesehatan mental bukan hanya isu orang tua saja. Anak-anak pun bisa stress, bisa cemas, dan bisa merasa tidak berdaya. Kesehatan mental bukan sekedar pelengkap, tapi adalah pondasi utama dalam proses Pendidikan anak di sekolah dasar. Ketika anak merasa tenang, aman, dan diterima, maka potensi belajarnya akan berkembang secara maksimal. Tugas kita sebagai pendidik bukan hanya mengajar, tapi juga merawat haari dan pikiran mereka, juga dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan suportif secara emosional, kita bukan hanya membantu anak belajar lebih baik, tapi juga menumbuhkan generasi yang Tangguh dan Bahagia. Mari hadir sebagai pendidik yang tidak hanya mengejar, tapi juga mendengar, memahami dan peduli karena belajar dimulai dari rasa aman, dan keberhasilan dimulai dari jiwa yang tenang.


 


×
Berita Terbaru Update