STRATEGI IMPLEMENTASI DAN TANTANGAN KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH DASAR
Oleh: Rizkia Yunas Fitri Wulandari – PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Pada masa kini yang terus berkembang karena globalisasi dan revolusi industri 4. 0, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga bisa beradaptasi, kreatif, dan memiliki sikap serta karakter yang kuat. Untuk menghadapi tantangan ini, pemerintah Indonesia mengenalkan Kurikulum Merdeka sebagai salah satu perubahan besar dalam sistem pendidikan nasional. Kurikulum ini memberikan ruang lebih luas bagi sekolah dan guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan setiap siswa.
Kurikulum Merdeka hadir dengan semangat untuk memerdekakan proses belajar, menghilangkan tekanan beban materi yang berlebihan, serta menekankan pada pembelajaran yang berdiferensiasi dan berbasis projek. Namun, idealisme kurikulum ini tidak serta-merta mudah diimplementasikan, terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang memiliki keragaman latar belakang siswa, keterbatasan sumber daya, dan kesiapan tenaga pendidik yang beragam pula.
Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka di SD
Rendahnya Pemahaman Guru tentang Konsep KurikulumBerdasarkan hasil pengamatan dan wawancara penulis saat menjalani program PPL di salah satu SD negeri, ditemukan bahwa masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi. Mereka masih cenderung menggunakan pendekatan pengajaran yang sama untuk semua siswa, tanpa mempertimbangkan perbedaan gaya belajar, minat, dan kemampuan individual. Bahkan beberapa guru mengaku kebingungan dalam menyusun modul ajar karena minimnya pelatihan praktis yang diterima. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan guru perlu diperkuat dan difokuskan pada praktik langsung, bukan hanya sekadar teori.
Keterbatasan Sarana dan Prasarana
Kurikulum Merdeka sangat menekankan pada penggunaan teknologi dan pembelajaran berbasis projek. Namun kenyataannya, tidak semua sekolah memiliki akses terhadap perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Sekolah di daerah pelosok atau pedesaan sering kali mengalami keterbatasan listrik, koneksi internet, bahkan ketersediaan buku dan alat peraga belajar. Hal ini menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna, sebagaimana yang diharapkan dalam Kurikulum Merdeka.
Kesiapan Siswa untuk Belajar Mandiri
Salah satu prinsip Kurikulum Merdeka adalah mendorong siswa menjadi pembelajar aktif dan mandiri. Namun, pada kenyataannya, siswa SD—terutama di kelas rendah—masih membutuhkan pendampingan intensif dan pembelajaran yang sangat terstruktur. Banyak siswa belum terbiasa melakukan eksplorasi atau pemecahan masalah secara mandiri. Ini menuntut guru untuk memiliki kemampuan mendampingi secara bertahap tanpa menghilangkan semangat kemandirian.
Kurangnya Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat
Keberhasilan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh sekolah dan guru, tetapi juga oleh dukungan lingkungan sekitar, termasuk orang tua. Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memahami perubahan paradigma pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka. Mereka masih berorientasi pada nilai akademik semata, bukan proses belajar yang bermakna. Ketidaksinkronan ini sering menimbulkan miskomunikasi antara guru dan wali murid.
Strategi Menghadapi Tantangan
Sebagai calon guru SD, penting bagi kita untuk tidak hanya mengidentifikasi tantangan, tetapi juga mulai merumuskan strategi-solusi untuk menghadapinya. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:
Penguatan Kompetensi Guru secara Berkelanjutan
Pemerintah dan institusi pendidikan guru perlu menyediakan pelatihan berbasis praktik yang dapat diakses secara fleksibel oleh guru. Pelatihan tersebut dapat dilakukan dalam bentuk workshop, micro teaching, hingga komunitas belajar (teacher learning community) yang memungkinkan guru saling berbagi pengalaman dan strategi pembelajaran berdiferensiasi.
Pemanfaatan Sumber Daya Lokal
Sekolah dapat memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber belajar, seperti lingkungan sekitar, budaya daerah, hingga profesi orang tua siswa. Ini bisa menjadi solusi dari keterbatasan teknologi, sekaligus menguatkan pembelajaran kontekstual yang menjadi prinsip utama Kurikulum Merdeka.
Pendekatan Pembelajaran Bertahap dan Humanistik
Guru perlu menyusun strategi pembelajaran yang mengakomodasi perkembangan kognitif dan sosial-emosional siswa. Pembelajaran berbasis projek sebaiknya diberikan secara bertahap dengan bimbingan yang intensif, bukan dilepaskan begitu saja. Selain itu, guru perlu lebih banyak membangun kedekatan emosional agar siswa merasa nyaman dalam mengeksplorasi.
Kolaborasi dengan Orang Tua dan Komunitas
Melibatkan orang tua dalam proses belajar, misalnya dengan menghadirkan mereka sebagai narasumber atau kolaborator projek siswa, dapat meningkatkan kesadaran dan dukungan mereka terhadap perubahan kurikulum. Sekolah juga dapat mengadakan forum komunikasi rutin untuk menjembatani pemahaman antara guru dan wali murid.
Menjadi Guru Reflektif dan Transformatif di Era Kurikulum Merdeka
Perubahan kurikulum tidak akan berarti tanpa adanya perubahan cara berpikir dan sikap para pendidik. Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk menjadi lebih dari sekadar pengajar; guru dituntut menjadi fasilitator, motivator, pembimbing, dan sekaligus pemelajar sepanjang hayat. Dalam diskusi kelas, banyak mahasiswa menyadari bahwa untuk menjadi guru yang sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka, diperlukan kompetensi profesional yang kuat, tetapi juga karakter yang tangguh, fleksibel, dan adaptif.
Guru yang reflektif mampu melihat tantangan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk berinovasi. Ia terbuka terhadap masukan, tidak takut mencoba pendekatan baru, dan selalu menyesuaikan metode mengajarnya agar sesuai dengan kebutuhan murid. Guru yang demikian tidak hanya mengubah proses belajar, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan sosial di masyarakat.
Refleksi Sebagai Calon Guru SD
Sebagai mahasiswa PGSD, kita tidak cukup hanya memahami isi kurikulum secara teoritis, tetapi juga perlu mengasah kemampuan berpikir reflektif terhadap berbagai praktik pendidikan yang terjadi di lapangan. Pemahaman kurikulum harus disertai dengan kepekaan terhadap kondisi nyata di kelas dan kebutuhan individual peserta didik. Pengalaman di lapangan saat menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL) memberikan banyak pelajaran berharga, salah satunya bahwa implementasi kurikulum tidak pernah sesederhana yang tertulis dalam dokumen resmi. Terdapat berbagai tantangan seperti keterbatasan sarana, karakteristik siswa yang beragam, serta dinamika sekolah yang kompleks. Maka dari itu, dibutuhkan sikap adaptif untuk menyesuaikan rencana pembelajaran dengan kondisi yang ada, empati untuk memahami latar belakang serta kebutuhan setiap siswa, dan juga kemampuan berpikir inovatif untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, serta berpihak pada peserta didik. Melalui refleksi yang terus menerus, calon guru tidak hanya menjadi pelaksana kurikulum, tetapi juga agen perubahan yang mampu menjawab tantangan pendidikan dengan solusi kreatif dan humanis.
Penutup
Kurikulum Merdeka membuka peluang besar bagi transformasi pendidikan dasar di Indonesia, dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar sesuai dengan minat, bakat, dan tahap perkembangannya. Namun, agar perubahan ini tidak hanya berhenti pada tataran kebijakan atau dokumen resmi, diperlukan komitmen, kesiapan, dan kolaborasi dari semua pihak yang terlibat dalam ekosistem pendidikan. Guru sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat vital untuk menjembatani idealisme kurikulum dengan realitas di lapangan. Mereka dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang reflektif, kontekstual, dan bermakna, serta mampu merespons kebutuhan siswa secara humanis dan fleksibel.
Sebagai calon guru SD, kita tidak hanya dituntut untuk memahami kurikulum secara teknis, tetapi juga memiliki tanggung jawab intelektual dan moral untuk terus mengembangkan diri melalui pembelajaran sepanjang hayat. Kita perlu mengkritisi kebijakan pendidikan dengan landasan akademis dan sikap terbuka, bukan sekadar mengikutinya secara pasif. Lebih dari itu, kita juga harus mampu menjadi bagian dari agen perubahan di dunia pendidikan—yang membawa semangat pembaruan, menjunjung nilai-nilai keadilan, serta mengedepankan kepentingan peserta didik. Dalam semangat Kurikulum Merdeka, calon guru ditantang untuk keluar dari zona nyaman, mengeksplorasi berbagai pendekatan pembelajaran, serta membangun praktik yang adaptif dan relevan dengan zaman.