-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tantangan dan Peluang Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar

Senin, 07 Juli 2025 | Juli 07, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-07T10:24:09Z

 Tantangan dan Peluang Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar

Mifta Aliefia Deagustin

Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa


Pendahuluan

Pendidikan dasar merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter dan kompetensi anak bangsa. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadirkan Kurikulum Merdeka sebagai jawaban atas dinamika global dan kebutuhan lokal. Kurikulum ini menawarkan fleksibilitas kepada sekolah untuk menyusun pembelajaran berdasarkan kebutuhan, potensi, dan karakteristik peserta didik. Namun, seperti setiap perubahan besar, implementasi Kurikulum Merdeka tidak luput dari tantangan di lapangan.

Sebagai calon guru sekolah dasar, saya melihat langsung pergeseran filosofi pendidikan yang cukup signifikan: dari pendekatan yang seragam dan sentralistik menuju pendekatan yang lebih kontekstual dan partisipatif. Dalam tulisan ini, saya akan merefleksikan tantangan dan peluang implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar, berdasarkan literatur, pengalaman praktikum, dan hasil studi yang relevan.


  1. Tantangan Implementasi

Meskipun Kurikulum Merdeka menawarkan pembelajaran yang lebih adaptif dan berpusat pada siswa, pelaksanaannya tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan pemahaman dan kompetensi guru. Banyak guru merasa belum siap secara pedagogis maupun teknologis dalam mengadopsi model pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis proyek yang diusung Kurikulum Merdeka. Hanya sekitar 40% guru yang merasa percaya diri menerapkan kurikulum ini di kelas mereka (Supriyadi, 2023 dalam Monaliza & Marta, 2024).

Tantangan lain yang sangat mencolok adalah fasilitas dan infrastruktur. Tidak semua sekolah memiliki akses internet stabil, perangkat teknologi memadai, atau sumber daya pembelajaran yang fleksibel. Menurut Rahayu et al. (2024), guru di SD Negeri 2 Pangsan mengaku harus ekstra kreatif membuat media ajar karena minimnya dukungan sumber daya.


Selain itu, dukungan orang tua dan masyarakat juga menjadi faktor penting. Kurikulum Merdeka mengharuskan kolaborasi antara sekolah dan rumah. Namun, tidak semua orang tua memahami arah kurikulum ini, bahkan sebagian masih berorientasi pada capaian nilai semata. Ini menimbulkan ketimpangan pemahaman antara harapan sekolah dan ekspektasi keluarga.


  1. Peluang Penguatan Pendidikan

Meski penuh tantangan, Kurikulum Merdeka membuka banyak peluang. Pertama, kurikulum ini mendorong kemandirian dan kreativitas siswa. Dalam studi oleh Tiara Monaliza & Alfroki Marta (2024), 80% guru melaporkan bahwa siswa menjadi lebih aktif, termotivasi, dan antusias belajar ketika diberi kebebasan memilih topik sesuai minat.

Kedua, pendekatan yang beragam seperti pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), kolaboratif, dan kontekstual memungkinkan proses belajar menjadi lebih bermakna dan menyenangkan. Ini sejalan dengan studi dari Eka Wulan Andriyani (2018) yang menunjukkan bahwa pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 sebagai pendahulu Kurikulum Merdeka mendorong siswa untuk berpikir kritis dan komunikatif.

Ketiga, kurikulum ini membuka ruang bagi integrasi nilai-nilai karakter dan kearifan lokal, yang memperkuat identitas budaya siswa. Sebagaimana dijelaskan oleh Rochaendi et al. (2025), Kurikulum Merdeka bukan sekadar inovasi administratif, melainkan representasi dari nilai-nilai moral dan kebutuhan masyarakat lokal dan global.


  1. Strategi dan Harapan

Agar Kurikulum Merdeka dapat diimplementasikan secara optimal, beberapa strategi perlu dikedepankan. Pertama, pelatihan berkelanjutan bagi guru sangat mendesak. Pelatihan tidak boleh berhenti pada level teknis, tetapi juga mencakup pendekatan reflektif dan kontekstual.

Kedua, perlu ada dukungan kebijakan dari pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan infrastruktur dan pendampingan intensif. Sekolah-sekolah di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) memerlukan perhatian khusus agar tidak tertinggal dalam reformasi pendidikan ini.

Ketiga, penguatan kemitraan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat harus terus dibangun. Kolaborasi lintas sektor dapat menjadi solusi atas keterbatasan sumber daya yang ada.


Simpulan

Kurikulum Merdeka merupakan langkah maju dalam menciptakan pendidikan dasar yang lebih kontekstual, adaptif, dan berpusat pada siswa. Tantangan seperti keterbatasan sumber daya, kesiapan guru, dan ketimpangan pemahaman publik menjadi pengingat bahwa perubahan kurikulum harus diiringi dengan reformasi sistemik dan dukungan menyeluruh.


Namun, peluang besar yang ditawarkan oleh Kurikulum Merdeka kebebasan berinovasi, pembelajaran aktif, dan penguatan karakter menjadikannya sebagai landasan penting untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, adaptif, dan berkarakter kuat. Sebagai calon guru, saya percaya bahwa dengan semangat belajar dan kolaborasi, kita bisa bersama-sama mengubah tantangan menjadi peluang dalam mewujudkan pendidikan yang benar-benar memerdekakan.


Daftar Referensi

Monaliza, T., & Marta, A. (2024). Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Jurnal Intelek Insan Cendikia, 1(10), 8031–8034.

Rahayu, N. W. P., Sudirman, I. N., Suardana, I. P. O., & Pradnyana, P. B. (2024). Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka di SD Negeri 2 Pangsan. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka, 6(1), 44–46.

Rochaendi, E., Sholihah, D. A., & Ma’mun, S. (2025). Kurikulum Sekolah Dasar: Perspektif Filosofis, Inovasi, dan Implementasi. ITERA Press.

Andriyani, E. W. (2018). Implementasi Kurikulum 2013 di Kelas IV SD Negeri 4 Wates. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 14, 1356–1358.










×
Berita Terbaru Update