-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DI BALIK LABEL “NAKAL” DAN “MALAS”: MENGURAI TRAUMA BELAJAR DAN STRATEGI RESTORATIF DI SEKOLAH DASAR

Rabu, 31 Desember 2025 | Desember 31, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-31T10:30:18Z

DI BALIK LABEL “NAKAL” DAN “MALAS”: MENGURAI TRAUMA BELAJAR DAN STRATEGI RESTORATIF DI SEKOLAH DASAR

Nama Penulis: Nayla Mutia Ramadhani, Trio Ardhian

Instansi: PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

naylamutia320@gmail.com

Abstrak

Trauma belajar, juga dikenal sebagai trauma akademik (academic trauma) sering kali disembunyikan di balik istilah seperti “nakal”, “malas”, atau “tidak konsentrasi”. Dengan studi kasus dan analisis teori perkembangan otak (Bruce Perry) dan konsep Window of Tolerance (Dan Siegel), artikel ini mengangkat masalah trauma belajar. Hasil analisis menunjukkan bahwa banyak perilaku bermasalah di kelas merupakan respons pertahanan diri terhadap pengalaman belajar yang traumatik, seperti (fight, flight, freeze). Dengan mengutamakan peran guru sebagai basis yang aman dan praktik regulasi emosi bersama, artikel ini memberikan strategi restoratif berbasis lingkungan belajar yang aman secara psikologis (trauma-informed classroom). Kesimpulannya, metode pendidikan yang berempati dan memahami dasar trauma sangat penting untuk mengakhiri siklus belajar yang menyakitkan dan meningkatkan kesejahteraan psikologis anak-anak di sekolah dasar.

Kata kunci: trauma belajar, pendidikan dasar, strategi restoratif, kesehatan mental anak, trauma informed teaching.

Pendahuluan

Di kelas IV SD Negeri Tunas Jaya, ada seorang siswa bernama Didit (nama samaran). Setiap kali pelajaran matematika dimulai, dia menunjukkan perilaku yang mengganggu, seperti menggigit pensil, menunduk keras, atau tiba-tiba bercanda dengan teman sebangkunya. Catatan perilaku yang sering ditemukan dalam rapor termasuk “sering mengganggu konsentrasi kelas” dan “kurang motivasi belajar”, membuatnya dilabeli “malas” dan “nakal”.

Namun, observasi mendalam selama tiga bulan menunjukkan pola yang sama. Perilaku Didit hanya muncul saat dia mengerjakan tugas matematika dan berhitung. Melalui wawancara dengan orang tua dan guru sebelumnya informasi penting akhirnya terungkap. Satu tahun lalu, Didit dipermalukan di depan kelas oleh guru matematikanya karena tidak bisa menjawab soal yang diberikan. Di depan semua teman kelasnya, guru itu menyebut Didit sebagai anak yang pemalas. Sejak saat itu, matematika telah berubah dari pelajaran menjadi pengingat tentang rasa malu yang mendalam. Didit bukan hanya anak yang nakal, dia juga mengalami trauma pendidikan.

Kasus Didit tidak menjadi sebuah rahasia yang umum. Pola serupa telah terlihat dalam praktik lapangan penulis di sejumlah sekolah dasar selama lima tahun terakhir. Anak-anak dengan perilaku “bermasalah” biasanya menunjukkan reaksi terhadap kerusakan akademik yang tidak terlihat. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang trauma belajar dari sudut pandang teori perkembangan, memecahkan kesalahpahaman tentang label negatif yang diberikan kepada siswa, dan memberikan konsep praktis yang dapat digunakan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari di kelas.

Memahami Trauma Belajar: Lebih dari Sekadar Kesulitan 

Definisi dan Karakteristik

Trauma Belajar juga dikenal sebagai trauma akademik adalah kondisi psikologis di mana seorang anak mengembangkan respons negatif berupa penghindaran dan ketakutan yang mendalam terhadap proses atau situasi belajar tertentu sebagai akibat dari pengalaman yang dirasakan mengancam, memalukan, atau menyakitkan secara emosional (Santiago, 2021). Trauma belajar bersifat emosional-afektif dan dialami oleh anak-anak dengan keterebatasan intelektual apa pun. Ini berbeda dengan kesulitan belajar, yang bersifat kognitif-neurologis.

Trauma belajar memiliki beberapa fase:

  1. Pengalaman di sekolah: 

Perundungan akademik (bullying), perkataan merendahkan dari guru, sistem peringkat yang mempermalukan, tekanan berlebihan untuk mencapai target, atau metode pembelajaran yang tidak sesuai.

  1. Faktor-faktor dalam lingkungan rumah:

Harapan orang tua yang perfeksionis, hukuman fisik akibat nilai buruk, perbandingan dengan saudara, atau suasana rumah yang penuh konflik.

  1. Faktor internal:

Anak-anak dengan gangguan belajar tertentu, seperti disleksia atau diskalkulia, tidak selalu mengetahui mengapa mereka mengalami “kegagalan”.

Tanda-Tanda Trauma Belajar di Kelas SD

Melalui observasi menyeluruh, guru yang peka dapat menemukan gejala trauma belajar sebagai berikut:

  • Penghindaran akademik yang spesifik:

Anak berpura-pura sakit perut setiap hari Kamis saat pelajaran tertentu, “kehilangan” buku berulang kali, atau bolos ke toilet saat diminta maju ke depan.

  • Reaksi fisio-emosional yang berlebihan:

Berkeringat dingin, gemetar, sakit perut, atau menangis ketika menghadapi kuis, ujian, atau saat diminta membaca dengan keras.

  • Perubahan perilaku yang terkondisi:

Perubahan dari perilaku aktif menjadi pasif atau sebaliknya, terutama dalam konteks akademik.

  • Self-talk negatif yang konsisten:

Pernyataan seperti ”Aku pasti gagal,” “Aku bodoh dalam hal ini,” atau “Untuk apa aku mencoba?” yang diucapkan sebelum melakukan upaya apa pun.

  • Regresi perilaku:

Perilaku kekanak-kanakan yang muncul kembali, seperti mengompol dan menghisap jempol, dikaitkan dengan keadaan akademik yang menekan.

Dasar Teoretis: Mengapa Trauma Belajar Terjadi?

Model Otak Bertingkat (Bruce Perry) dan Respons Bertahan Hidup

Psikiater anak terkenal Bruce Perry menjelaskan melalui model Neurosequential Model bahwa otak manusia berkembang secara bertahap dan merespons stres dengan struktur hierarkis (Perry, 2006). Saat anak merasa aman, bagian otak berpikir (Neokorteks) bekerja dengan lebih baik untuk berkreasi, memecahkan masalah, dan belajar. Namun, sistem alarm otak (terutama batang otak dan sistem limbik) mengambil alih untuk bertahan hidup ketika ada ancaman. Ini terjadi saat Didit diminta untuk mengerjakan tugas di papan tulis.

Ketika situasi ini terjadi, otak tidak dapat beroperasi secara “offline”. Anak-anak akan masuk ke mode fight, flight, atau freeze, sebagai berikut:

  • Fight (Melawan):

Anak menjadi agresif, membangkang, dan mencari masalah, sehingga sering disebut sebagai “nakal”.

  • Flight (Lari):

Anak cenderung akan menjauh, membolos, dan berpura-pura sakit, yang kerap disebut sebagai malas” atau “tidak bertanggung jawab”.

  • Freeze (Beku):

Anak melamun, tampaknya tidak responsif dan blank, sehingga dianggap “tidak memperhatikan” atau “lamban”.

Konsep Window of Tolerance (Dan Siegel)

Window of Tolerance adalah kondisi ideal ketika seorang anak dapat berpikir jernih, mengatur emosinya, dan belajar dengan baik (Siegel, 1999). Trauma membuat “jendela” toleransi ini menyempit secara signifikan. Stimulus yang biasa bagi anak lain, seperti soal matematika, dapat mendorong anak yang mengalami trauma keluar dari jendela toleransinya dan masuk ke zona hiperarousal (gelisah, marah, impulsif) atau hipoarousal (lesu, menarik diri, dan tidak peduli).

Strategi Restoratif: Peran Guru dalam Menciptakan Kelas yang Trauma-Informed:

Pendekatan pembelajaran trauma-informed bukan tentang menjadi terapis, melainkan tentang menciptakan lingkungan belajar yang aman, dapat diprediksi, dan responsif. Berikut ini adalah strategi konkret yang dapat diterapkan di kelas. 

  1. Prinsip Dasar: Regulate, Relate, and Reason (Perry, 2006)

Pendekatan ini harus dilakukan secara bertahap, sebagai berikut:

  • Regulate:

Bantu anak menenangkan sistem sarafnya sebelum mengajak mereka berpikir. Teknik sederhana seperti, antara lain:

“Ayo kita tarik napas dalam tiga kali bersama-sama.”

“Mau minum air dulu?”

“Pegang benda kesayanganmu sebentar.”

  • Relasi (Bangun Hubungan):

Setelah anak menjadi lebih tenang, tunjukkan rasa empati melalui koneksi yang hangat. Misalnya:

“Kamu tampak marah tadi. Apa yang terjadi?"

Guru perlu mendengarkan dengan hati-hati dan tanpa menghakimi.

  • Reason (Berpikir Rasional):

Selanjutnya, ajak anak-anak untuk berpikir tentang solusi, misalnya:

"Lain kali kalau mulai merasa seperti tadi, apa yang bisa kita lakukan?"

  1. Membangun Predictability (Keteraturan yang Memberi Rasa Aman)

Keteraturan membantu anak merasakan kendali. Trauma sering kali dikaitkan dengan ketidakpastian dan rasa tidak berdaya.

  • Ritual pembukaan yang konsisten:

Mulai pelajaran setiap hari dengan cara yang sama, misalnya nyanyian singkat, peregangan, atau melakukan pengamatan emosi.

  • Jadwal visual:

Tambahkan gambar yang jelas ke jadwal harian dan beri tahu jika ada perubahan.

  • Instruksi yang jelas dan bertahap:

Contoh: "Langkah pertama, keluarkan buku matematika. Langkah kedua, buka halaman 25."

  1. Bahasa Edukatif yang Memulihkan Kosakata Mengubah Dinamika Hubungan

Dari, "Kamu selalu terlambat mengumpulkan!" menjadi, "Saya melihat tugas ini menantang. Bagian mana yang paling menantang?”

Dari "Diam dan duduk dengan tenang!" menjadi "Tubuhmu tampaknya perlu bergerak. Maukah kamu membantu membagikan buku ini kepada teman-teman?"

Dari pernyataan, "Ini mudah, kok! Yang lain bisa." menjadi "Soal ini memang memerlukan usaha tambahan. Saya hadir untuk membantu.”

  1. Kendali Mikro Trauma dan Memberi Pilihan: Rasa agensi pulih disebabkan oleh kehilangan kendali.

Kamu ingin mengerjakan soal nomor 1 atau 5 terlebih dahulu?"

“Kamu lebih suka melakukan koreksi secara pribadi atau bersama pasangan?"

‘Kamu ingin menggambar atau menulis jawaban?"

  1. Kolaborasi Segitiga: Guru-Orang Tua-BK

Pendekatan harus terstruktur dan holistik:

  • Komunikasi dengan Orang Tua yang Empatik:

Contoh: “Kami memperhatikan bahwa Didit sangat cemas saat presentasi. Bagaimana kondisinya di rumah? Apakah ada hal yang dapat kita diskusikan bersama untuk mendukungnya?"

  • Kolaborasi dengan guru BK atau psikolog sekolah:

Merujuk siswa untuk pemeriksaan lebih lanjut serta penyusunan rencana intervensi yang tepat dan berkelanjutan.

Studi Kasus: Intervensi pada Didit

Berdasarkan pemahaman mengenai trauma belajar, intervensi berikut diberikan kepada Didit.

Minggu 1-2: Penekanan pada Regulasi dan Hubungan

  • Sebelum pelajaran matematika, guru berkata kepada Didit, "Didit, aku tahu matematika bisa terasa sulit." Jika Didit mulai merasa gelisah, guru menyepakati srategi regulasi, yaitu mengangkat jempol sebagai tanda dan mengambil napas selama dua menit di pojok baca.

  • Selain itu, guru memberikan peran positif kepada Didit. Ia dipercaya menjadi asisten kelas yang bertugas memberikan alat peraga, sehingga Didit merasa memiliki tempat dan kontribusi di dalam kelas.

Minggu 3-4: Peralihan ke Dunia Akademik

  • Memberi soal tingkat kesulitan yang berbeda secara bertahap, dimulai dengan yang sangat mudah untuk membangun kepercayaan diri.

  • Sebelum maju ke depan kelas, izinkan Didit menjawab secara lisan terlebih dahulu kepada guru agar kecemasannya dapat diminimalkan.

Minggu 5-8: Konsolidasi dan Generalisasi

  • Orang tua diajak bekerja sama untuk menghindari hukuman matematika tetapi lebih memfokuskan pada aktivitas positif yang berkaitan dengan angka di rumah, seperti memasak dan berbelanja.

  • Selain itu, sesi regulasi emosi singkat diadakan setiap minggu oleh guru BK untuk memperkuat kemampuan pengelolaan emosi Didit.

Hasil setelah dua bulan:

Setelah dua bulan intervensi, tingkat perilaku mengganggu menurun sekitar tujuh puluh persen. Didit mulai mencoba mengerjakan tugas tanpa tekanan yang berlebihan, meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama. Secara bertahap, label “Didit yang berusaha” mulai menggantikan label “nakal” yang sebelumnya melekat.

Kesimpulan dan Rekomendasi:

Dalam sistem pendidikan saat ini, trauma belajar sering kali tidak teridentifikasi. Anak-anak yang membawanya ke sekolah bukanlah "masalah" yang perlu ditangani, sebaliknya mereka adalah individu yang membutuhkan pemahaman dan bantuan untuk memperbaiki kesalahan akademik mereka.

Dalam pendidikan abad ke-21, mengubah paradigma dari pendekatan disiplin konvensional menuju pendekatan trauma-informed merupakan keharusan moral. Guru sekolah dasar adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas pemulihan strategis. Dengan menerapkan aturan, membangun hubungan yang aman, dan mengubah praktik mengajar, guru memiliki kemampuan untuk mengubah ruang kelas yang berpotensi retraumatisasi menjadi tempat yang aman untuk pertumbuhan.

Pertimbangkan sistem yang lebih luas:

  1. Pelatihan Wajib: Materi tentang regulasi emosi dan trauma belajar harus dimasukkan dalam pelatihan pra-jabatan dan dalam jabatan guru.

  2. Kebijakan Sekolah: Bukan hanya protokol disiplin, sekolah harus membuat protokol respons terhadap siswa yang menunjukkan trauma.

  3. Kolaborasi Lintas Profesi: Berkolaborasi dengan psikolog, konselor, dan pekerja sosial untuk mendapatkan pendampingan yang menyeluruh.

Memulihkan trauma belajar adalah investasi yang bertahan lama. Ini bukan hanya tentang meningkatkan nilai akademik, tetapi juga tentang memulihkan keyakinan anak bahwa mereka cukup mampu, cukup baik, dan layak untuk belajar tanpa khawatir. Tujuan ini tidak hanya akan menghasilkan pembelajar yang lebih baik, tetapi juga orang yang lebih kuat dan tahan terhadap bahaya.

Daftar Pustaka

Perry, B. D. (2006). The Neurosequential Model of Therapeutics. ChildTrauma Academy.
https://www.childtrauma.org/cta-library/

Harvard Center on the Developing Child. (2020). Toxic Stress

https://developingchild.harvard.edu/science/key-concepts/toxic-stress/

Souers, K., & Hall, P. A. (2022). Relationship, Responsibility, and Regulation: Trauma-Invested Practices for Fostering Resilient Learners. ASCD.

https://www.ascd.org/books/relationship-responsibility-and-regulation?variant=122034

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2023). Laporan Survei Kesehatan Mental Peserta Didik.

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2023/10/laporan-survei-kesehatan-mental-peserta-didik-indonesia

Greenberg, M. T., et al. (2017). The Prosocial Classroom: Teacher Social and Emotional Competence in Relation to Student Outcomes. Journal of School Psychology.

https://doi.org/10.1016/j.jsp.2017.07.002

Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL). (2021). Trauma-Informed SEL.

https://casel.org/fundamentals-of-sel/how-does-sel-support-educational-equity-and-excellence/trauma-informed-sel/







×
Berita Terbaru Update