-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEMBEDAH DASAR PENDIDIKAN UNTUK MASA DEPAN

Selasa, 30 Desember 2025 | Desember 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-31T01:39:31Z


MEMBEDAH DASAR PENDIDIKAN UNTUK MASA DEPAN

Khafifah Lutfiyani (2025015006)

Dosen Pengampu: Trio Ardian, M.Pd

Mahasiswa PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Email Penulis : khafifahlutfiyani680@gmail.com



Abstrak

Pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) adalah langkah penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang dasar ilmu pendidikan, yang mencakup bidang pedagogis, psikologis, dan sosiologis. Penguatan literasi, numerasi, dan penguatan karakter adalah fokus utamanya. Hasil diskusi menyimpulkan bahwa pendidikan dasar yang baik bukan sekadar memberikan informasi; itu adalah proses menumbuhkan rasa ingin tahu dan ketangguhan mental anak untuk beradaptasi dengan zaman.

Kata Kunci: Dasar Pendidikan, Masa Depan Anak, Karakter, Literasi, Pedagogi.


PENDAHULUAN

Pendidikan sering kali diibaratkan sebagai membangun sebuah gedung pencakar langit. Seberapa tinggi gedung itu bisa berdiri sangat bergantung pada seberapa kuat fondasi yang ditanam di dalam tanah. Dalam hidup seorang anak, masa Sekolah Dasar adalah fase penanaman fondasi tersebut.

Di era globalisasi yang serba cepat ini, tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita 20 tahun ke depan tidak lagi sama. Mereka tidak hanya dituntut untuk pintar secara akademik, tetapi juga harus adaptif, kreatif, dan memiliki moral yang kuat. Membedah dasar pendidikan berarti kita melihat kembali apa yang sebenarnya paling dibutuhkan anak agar mereka tidak hanya "bertahan hidup", tetapi "berhasil" di masa depan.

  1. Landasan Filosofis: Memanusiakan Manusia

Berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan membangun pendidikan yang berpusat pada anak. Didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi yang luar biasa dan harus dididik sesuai dengan kemampuan dan minatnya, filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara berdiri. Prinsip-prinsip filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara, seperti "Ing Ngarsa Sung Tuladha" dan "Tut Wuri Handayani," menempatkan guru sebagai panutan yang baik bagi siswanya dan memberi mereka bimbingan dan dukungan yang tepat. Pendidikan adalah bagian penting dari pertumbuhan anak. Dengan kata lain, pendidik tidak dapat "membentuk" anak mereka sesuai keinginan mereka; sebaliknya, mereka dapat membantu anak-anak mereka mencapai kebahagiaan dan keselamatan melalui kodrat alami mereka.

  1. Landasan Psikologis Memahami Dunia Anak

Memahami psikologi anak sangat penting untuk mendidik dan mendukung perkembangan mereka dengan cara yang paling efektif. Orang tua dan pendidik dapat memberikan dukungan yang tepat dan menciptakan lingkungan yang mendukung dengan memahami bagaimana anak berpikir, merasa, dan bertindak. Psikologi anak membantu dalam menentukan kebutuhan dan risiko psikologis anak, serta meningkatkan hubungan dan komunikasi dengan anak. Sejak dini, pengembangan karakter dan kemampuan anak sangat penting. 


Anak-anak SD yang berusia antara 7 dan 12 tahun berada di fase operasional konkret. Itu artinya:

  • Anak belajar dari kehidupan nyata, bukan dari teori abstrak.

  • Logika sangat dipengaruhi oleh emosi. Jika anak merasa nyaman dan aman, mereka akan lebih mudah memahami pelajaran.

Landasan Filosofis dan Psikologis-Pedagogis: Pandangan filosofis dan psikologis-  pedagogis menggambarkan cara pakar dalam bidang filsafat, psikologi, dan pendidikan atau ilmu mendidik melihat pentingnya proses pendidikan untuk siswa berusia 6 -13 thn
Dikatakan suatu keniscayaan karena pendidikan untuk anak usia tersebut berlaku secara universal dan telah menjadi kenyataan, atau sering disebut sebagai conditio sine quanon. 

  1. Kompetensi Masa Depan (4C)

Pendidikan dasar modern harus mengintegrasikan 4 kemampuan utama:

  1. Critical Thinking (Berpikir Kritis): Kemampuan memecahkan masalah

Kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menginterpretasi data secara rasional dan objektif dikenal sebagai berpikir kritis. Beberapa bagian penting proses ini termasuk: analisis: Memecah informasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk memahami strukturnya.

Interpretasi: Memahami makna informasi dan menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas; dan inferensi: membuat kesimpulan berdasarkan bukti yang ada. Penjelasan: Menyatakan proses pemikiran dan kesimpulan dengan cara yang mudah dipahami dan efektif.

Dalam berbagai aspek kehidupan, kemampuan berpikir kritis sangat penting untuk memecahkan masalah, membuat keputusan yang tepat, dan meningkatkan kualitas keputusan.

  1. Creativity (Kreativitas): Kemampuan menciptakan inovasi.

Kemampuan untuk menciptakan inovasi dan solusi baru kreativitas melibatkan proses berpikir yang fleksibel dan imajinatif tanpa bergantung pada konvensi. Kreativitas dapat digunakan di banyak bidang, seperti teknologi dan sains serta bisnis dan kehidupan sehari-hari. Kreativitas juga melibatkan kemampuan untuk berpikir out of the box, yaitu keluar dari batasan konvensional dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Beberapa ahli mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan bernilai, yang dapat berarti kombinasi unik dari ide-ide yang sudah ada atau sesuatu yang digunakan dalam konteks yang berbeda.

  1. Collaboration (Kolaborasi): Kemampuan bekerja dalam tim.

Kolaborasi adalah kemampuan penting yang harus dimiliki oleh anak-anak karena memungkinkan mereka untuk belajar bekerja sama, berbagi ide, dan berkomunikasi secara efektif. Salah satu cara yang efektif untuk membangun kemampuan ini adalah melalui proyek kolaborasi, di mana anak-anak belajar bekerja dalam tim, berbagi ide, berkomunikasi, dan menghargai kontribusi anggota tim lainnya. Kemampuan kerja sama anak dalam situasi nyata dapat dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang tepat. 

  1. Communication (Komunikasi):Kemampuan menyampaikan ide dengan jelas.


  1. Strategi Membangun Basis yang Kokoh untuk Meningkatkan Literasi dan Numerasi


  1. Orang-orang ini tidak hanya dapat membaca dan berhitung, tetapi mereka juga dapat memahami arti bacaan dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Pendidikan Karakter sebagai Poros: Keteladanan harus digunakan untuk mengajarkan empati, kejujuran, dan disiplin, bukan hanya membaca teks di buku cetak.


  1. Pemanfaatan Teknologi yang Bijak: Persiapkan anak untuk era digital dengan memberi mereka teknologi sebagai alat belajar (tools), bukan sekadar hiburan.


KESIMPULAN

Fokus pendidikan untuk anak-anak di masa depan tidak terletak pada jumlah informasi yang mereka ingat, tetapi pada kekuatan karakter dan kemampuan berpikir mereka. Pendidikan di jenjang sekolah dasar harus memiliki kemampuan untuk membuat lingkungan yang mendukung rasa ingin tahu anak. Anak-anak yang memiliki dasar yang kuat, seperti ketabahan dan kemampuan berpikir kritis, akan siap menghadapi tantangan apa pun di masa depan.


DAFTAR PUSTAKA

  • Ramadhana, A. (2025). Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara: Sejarah, falsafah, dan pengaruhnya. DIVA Press.​

  • Dewantara, K. H. (2016). Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam kehidupan nyata. Bintang Pusnas Perpusnas.​

  • Piaget, J. (dalam adaptasi). Teori perkembangan kognitif tahap operasional konkret usia 7-11 tahun. Gramedia Literasi.​

  • Barus, R. A. (2024). 4C skills of the 21st century. MIC Journal.

  • Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai Landasan Pendidikan Vokasi di Era Kurikulum Merdeka. Academia.edu (2023).​

  • Analisa Kesiapan Kognitif Siswa SD/MI (Teori Piaget operasional konkret). Jurnal Kariman, Inkadha.​

  • Application of 4C Skills in 21st Century Learning in Sekolah Dasar. Semantic Scholar.​

  • Pengembangan Keterampilan 4C dalam Pembelajaran IPS. Jurnal Aliansi, Appihi (2024).






×
Berita Terbaru Update