-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PERKEMBANGAN EMOSI DAN SOSIAL ANAK SD

Rabu, 31 Desember 2025 | Desember 31, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-01T05:47:37Z

 PERKEMBANGAN EMOSI DAN SOSIAL ANAK SD


MARSHA AULIA SABRINA

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan 

Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

E-mail: marshaauliasabrina6@gmail.com








Abstrak

  Artikel ini bertujuan untuk mengetahui : 1. Pengertian Perkembangan Emosi, 2.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi, 3. Pengertian Perkembangan Sosial Anak. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian dengan studi literatur yang mengkaji beberapa artikel ilmiah yang berkaitan dengan perkembangan sosial dan emosi anak. Perkembangan sosial dan emosi merupakan aspek penting dalam kehidupan anak. Proses ini membentuk bagaimana anak berhubungan dengan orang lain, memahami norma sosial, dan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Anak usia Sekolah Dasar memiliki karakteristik yang unik. Pada usia ini, anak mengalami perkembangan sosial dan emosi yang pesat. Namun, perkembangan sosial dan emosi setiap anak tidaklah sama. Ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, antara lain factor lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat.

Kata Kunci : Perkembangan, Sosial, Emosi, Anak SD


Pendahuluan

    perkembangan emosi dan sosial anak  sekolah dasar merupakan tahap penting dalam anak. Pada massa ini anak-anak mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam aspek sosial dan emosional mereka. Perkembangan menyangkut adanya perubahan dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Kemampuan yang seperti itu tidak bisa dicapai begitu saya, tetapi perlu adanya usaha melatih anak sejak masih kecil. 

   Untuk melatih anak perlu menguasai berbagai kemampuan terutama kemampuan sosial kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih  luas. Seseorang tidak hanya dituntut untuk mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain, tetapi juga didalamnya bagaimana ia mampu mengendalikan dirinya secara baik. 

   Menurut (Hurlock), perkembangan sosial emosional adalah perkembangan perilaku yang sesuai dengan tuntunan sosial, dimana perkembangan emosional adalah suatu proses dimana anak melatih rangsangan-rangsangan sosial terutama yang didapat dari tuntutan kelompok serta belajar bergaul dan bertingkah laku. Sedangkan menurut Salovey dan John Mayer yang dikutip dalam buku (Ali Nugraha) pengembangan social emosional meliputi: empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengalokasi rasa marah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai kemampuan menyelesaikan masalah antara pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, kesopanan dan sikap hormat.







Tinjauan Teoritis

Konsep Perkembangan Emosi Pada Anak

  1. Pengertian Perkembangan Emosi


   Istilah emosi berasal dari kata “emotus” atau “emovere” atau “mencerca” (to stir up) yang berarti sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu, missal emosi gembira mendorong untuk tertawa, atau perkataan lain emosi didefinisikan sebagai suatu keadaan gejolak penyesuaian diri yang berasal dari dalam dan melibatkan hamper keseluruhan diri individu (Sujiono, 2009).


( Menurut Retno Wulandari dkk, 2016) Perkembangan  secara  termitologis  adalah  proses  kualitatif yang  mengacu  pada  penyempurnaan  fungsi  sosial  dan  psikologis dalam  diri  seseorang  dan  berlangsung  sepanjang  hidup. Perkembangan ialah proses perubahan kuantitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ jasmaniahnyaitu sendiri (Muhibbin, 2009). Dengan kata lain, penekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik. Perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia mengakhiri hayatnya.


   Kemampuan anak dalam merespon pembicaraan orang tua, tawa orang dewasa, merangkak, berjalan, memengang suatu benda, dan sebagainya". Oleh karena itu, hubungan sosial sangat penting dalam perkembangan anak. Perkembangan dapat diartikan juga sebagai perubahan yang bersifat progresif dan kontinyu (berkesinabungan) dalam diri induvidu dari mulai lahir sampai mati (Syamsul Yusuf, 2014).


   Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang begejolak dalam diri individu yang sifatnya didasari. Oxford English Dictionary mengartikan emosi sebagai sesuatu kegiatan atau pergolakan pikiran, prasaan, nafsu atau setiap keadaan mental yang hebat. Selain itu, Daniel Goleman merumuskan emosi sebagai sesuatu yang merujuk pada suatu prasaan dan pikiranpikiran khasnya, sesuatu keadaan biologis dan psikologis, serta serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi dapat dikelompokkan sebagai suatu rasa marah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel atau malu.


   










  1. Perkembangan Emosional Anak Usia Dini


   Perkembangan emosi melibatkan perubahan dalam pengenalan, pemahaman, dan

pengelolaan emosi individu yang mencakup perkembangan kemampuan mengenali emosi

sendiri dan orang lain, mengatasi stres, mengontrol emosi, dan mengembangkan

kesejahteraan emosi (Yulia, dkk., 2023). Kematangan emosi didefinisikan sebagai suatu

kemampuan dalam memperoleh suatu keadaan negatif yang berasal dari lingkungan,

dan tidak melakukan pembalasan dengan perilaku negatif namun dibalas dengan

perilaku yang positif (Solihah, dkk.,2024). Perkembangan emosi merupakan keadaan yang

lebih kompleks yang ditandai dengan perubahan pikiran dan perasaan akibat tindakan

seperti emosi, nafsu, atau keadaan mental yang tidak terkendali. Ketika individu dapat

memahami dan mengelola emosi dengan baik, maka akan tercipta keseimbangan dalam

kehidupan yang lebih harmonis dengan orang-orang di sekitar. Memahami emosi juga berarti

menerima bahwa tidak semua perasaan akan selalu positif.

Adapun karakteristik perkembangan emosi anak Sekolah Dasar antara lain :

(1) Pada usia 7-8 tahun anak sudah memiliki rasa malu dan bangga terhadap

sesuatu. Anak dapat mengungkapkan emosi yang dirasakannya. Semakin

bertambah usia anak semakin anak dapat memahami perasaan orang lain;

(2) Pada usia 9-10 tahun anak sudah dapat menyembunyikan dan

mengungkapkan emosinya dan sudah dapat merespon emosi orang lain. Anak juga

bisa mengontrol emosi negatifnya. Anak mengetahui apa saja yang membuat dirinya

merasa sedih, takut dan marah sehingga anak mampu beradaptasi dengan

emosinya;

(3) Pada usia 11-12 tahun, anak sudah mengetahui tentang baik-buruk, nilai-nilai, dan

norma-norma yang berlaku pada masyarakat serta adanya perkembangan yang

meningkat tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Anak sudah

mengetahui bahwa adanya perubahan pada nilai-nilai, norma-norma dan

perilaku serta anak. Perilaku anak juga semakin beragam (Munawwaroh, &

Panjaitan, 2022).


  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi


1. Faktor Internal (Biologis & Psikologis)

Genetik dan Temperamen: Setiap anak lahir dengan karakter alami yang menentukan kecerdasan, motivasi, dan perilaku dasar. Anak dengan temperamen toleran lebih mudah mengelola emosi dibandingkan anak dengan temperamen sulit.

Kematangan Otak: Keadaan "otak emosional" (amigdala, neokorteks, dan sistem limbik) sangat memengaruhi kecerdasan emosional individu.

Kesehatan Fisik dan Gizi: Status gizi yang baik dan kondisi fisik yang sehat mendukung kestabilan emosi. Gangguan kesehatan atau kurang tidur dapat memicu emosi tidak stabil.


2. Faktor Eksternal (Lingkungan & Sosial)

Lingkungan Keluarga: Ini adalah faktor paling dominan. Kehangatan hubungan orang tua-anak, keterlibatan ayah, dan tingkat stres pengasuhan yang rendah berkontribusi positif pada kesejahteraan perilaku anak.

Pola Asuh Orang Tua: Gaya pengasuhan yang positif dan suportif membantu anak belajar mengelola emosi. Sebaliknya, pola asuh otoriter atau lalai cenderung menurunkan kecerdasan emosional anak.

Interaksi Teman Sebaya: Melalui interaksi sosial, anak belajar beradaptasi, berempati, dan membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Lingkungan Sekolah: Suasana belajar yang aman, inklusif, dan penuh kasih sayang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan emosi dengan sehat.

Paparan Teknologi (Gadget): Pada tahun 2025, peran orang tua dalam mengontrol penggunaan gawai menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan antara interaksi digital dan sosial nyata.


3. Faktor Kontekstual lainnya

Status Sosial Ekonomi: Pendapatan dan tingkat pendidikan orang tua yang lebih tinggi sering kali memberikan akses yang lebih baik ke nutrisi, pendidikan, dan layanan kesehatan yang mendukung perkembangan emosi.

Budaya: Nilai-nilai budaya dan norma sosial di masyarakat memengaruhi cara anak mengekspresikan dan memahami emosi mereka.




















Konsep Perkembangan Sosial Anak

 

Pengertian Perkembangan Sosial Anak


   Perkembangan sosial adalah tingkat jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas. Sementara perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, perkembangan sosial-emosional adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Mengembangkan hubungan emosi-sosial merupakan tonggak penting bagi anak-anak. Bagi banyak anak, bersosialisasi adalah pengalaman pertama kali harus membicarakan kesepakatan dengan teman sebayanya. Meskipun anak-anak seusia mereka masih terlibat dalam permainan paralel, tetapi mereka semakin tertarik untuk bermain dengan anak-anak yang lain.


  ( Menurut Turner dan Helms), kegiatan bermain lebih menekankan sebagai sarana sosialisasi anak. Oleh karena itu, kegiatan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk bergaul dengan anak-anak yang lain dan belajar mengenal berbagai aturan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Secara garis besar, (menurut Martuti), kegiatan bermain dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu : 

  1. Bermain menjelajahi dan manipulative. Kegiatan ini bisa diamati sejak masa bayi, anak sering menunjukkan rasa senang atau antusiasme yang besar sewaktu ia bermain atau mengamati benda-benda yang ada di sekelilingnya. Perasaan senang anak juga terlihat saat anak menjelajahi atau merasakan sesuatu. pada bagian tubuhnya, misalnya saat anak memasukkan jempol atau jari-jarinya ke dalam mulut, waktu telapak kakinya digelitik, bahkan ia sanggup terpingkal-pingkal ketika diajak bercanda, ia bisa tertidur di ayunan, dan sebagainya. Jadi sebenarnya, kegiatan bermain ini berkaitan erat dengan awal pembentukan konsep diri anak.

  2. Bermain menghancurkan. Bermain menghancurkan mulai tampak pada awal masa balita. Dalam usia ini, anak sering bermain sambil menghacurkan barang-barang yang sudah disusunnya dengan susah payah dan berhati-hati, lalu menatanya kembali untuk dihancurkan lagi. Misalnya seorang anak yang bemain dengan balok kayu. Dalam sudut pandang kognitif, kegiatan ini mendukung berkembangnya pemahaman anak mengenai berbagai ciri alat permainannya. Anak menjadi paham untuk menyusun bangunan dari balok, bagian yang besar harus diletakkan di bawah, dan lainnya.

  3. Bermain khayal atau pura-pura. Kegiatan bermain khayal atau purapura mulai dilakukan sejak anak berusia 3 tahuanan. Kegiatan bermain pura-pura ini, melibatkan unsur imajinasi dan peniruan terhadap perilaku orang dewasa. Misalnya, bermain dokter-dokteran, sekolah-sekolah, pasar-pasaran, dan lainnya. Khayalan anak sering kali menggambarkan keinginan, perasaan, dan pandangan anak mengenai dunia di sekelilingnya.


Dalam kegiatan bermain ini, anak sering mengubah identitas, nama, cara bicara, berpakaian, bahkan melakukan tindakan yang sama sekali berbeda dengan perilakunya sehari-hari. Dalam khayalannya dalam bermain, anak mengemukakan gagasan yang asli hasil cipataannya sendiri.misalnya, sebatang kayu, suatu saat bisa menjadi pedang, saat lain digunakan sebagai tombak, kemudian berubah menjadi senapan, dan seterusnya. Pengembangan emosi anak dapat di bentuk melalui kegiatan bermain. Selain itu pengembangan emosi anak juga dapat dibentuk dari lingkungan dimana anak itu tinggal. Karena dari lingkungan anak juga mendapat pengalaman dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada anak. Dan dari pengalaman dan peristiwa penting itu, kepribadian anak juga akan terbentuk.



Oleh karena itu, guru dan orang tua harus mengembangkan perkembangan emosi anak dengan tepat dan baik, agar perkembangan emosi anak berkembang sesuai tahap perkembangannya. Perkembangan sosial dan emosi yang positif memudahkan anak untuk bergaul dengan sesamanya dan belajar dengan lebih baik, juga dalam aktivitas lainnya di lingkungan sosial. Oleh karena itu, sangat penting memahami dan membantu anak-anak untuk memahami perasaan sendiri dan perasaan anakanak lain untuk mengembangkan rasa hormat dan kepedulian kepada orang lain.






KESIMPULAN

 

   Perkembangan emosi dan sosial merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan anak, khususnya pada usia Sekolah Dasar, karena berperan besar dalam membentuk kepribadian, cara anak berinteraksi, serta kemampuannya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Perkembangan emosi berkaitan dengan kemampuan anak mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan perasaannya secara tepat, sedangkan perkembangan sosial berkaitan dengan kemampuan anak menjalin hubungan dan berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan norma yang berlaku.

Pada usia Sekolah Dasar, anak mengalami perkembangan emosi yang pesat, ditandai dengan meningkatnya kemampuan mengontrol emosi, memahami perasaan orang lain, serta membedakan nilai baik dan buruk. Setiap tahapan usia menunjukkan karakteristik emosional yang berbeda, mulai dari munculnya rasa malu dan bangga, kemampuan mengendalikan emosi negatif, hingga pemahaman terhadap norma dan nilai sosial.


   Perkembangan emosi anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi genetik, temperamen, kematangan otak, serta kondisi kesehatan dan gizi anak. Sementara itu, faktor eksternal mencakup lingkungan keluarga, pola asuh orang tua, interaksi dengan teman sebaya, lingkungan sekolah, budaya, status sosial ekonomi, serta paparan teknologi. Keseluruhan faktor tersebut saling berinteraksi dan menentukan kualitas perkembangan emosi anak.

Perkembangan sosial anak tidak dapat dipisahkan dari perkembangan emosi. Melalui interaksi sosial dan kegiatan bermain, anak belajar memahami aturan, mengembangkan empati, bekerja sama, serta membangun konsep diri. Bermain, baik bermain eksploratif, menghancurkan, maupun bermain khayal, menjadi sarana penting dalam membentuk kemampuan sosial dan emosional anak.


   Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan dalam menciptakan lingkungan yang aman, hangat, dan suportif agar perkembangan emosi dan sosial anak dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan sosial dan emosi yang positif akan membantu anak beradaptasi dengan lingkungan, membangun hubungan yang sehat, serta mendukung keberhasilan belajar dan kehidupan sosialnya di masa depan.



DAFTAR PUSTAKA

Retno Wulandari, Burhannudin Ichsan, Yusuf Alam Romadhon, Perbedaan Perkembangan Sosial anak Usia 3-6 tahun denagn Pendidikan Usia Dini dan Tampa Pendidikan Usia Dini di Kecematan Peterongan, Biomedika, Volume 8 Nomor 1, Februari 2016.

Muhibbin, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindi Persada, 2009.

Syamsul  Yusuf,  Psikologi  Perkembangan  Anak  dan  Remaja,  Cet  14,  Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014.

Hurlock, Elizabeth B. 1996. Perkembangan Anak Jilid I, Edisi keenam. Jakarta: Erlangga.

Nugraha, Ali. 2011. Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Martuti. 2012. Mengelola PAUD. Cet. III. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Yulia, R., dkk.(2023). Perkembangan Emosi Siswa Sekolah Dasar. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Volume 08 Nomor 01, Juni 2023. https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/8425/3189

Solihah, Z.A., Qonita, & Mulyana, E.H. (2024). Upaya Guru Dalam Mencapai Kematangan Kemampuan Sosial Emosional Anak Melalui Bermain Peran. Jurnal Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 6 No. 1. https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/cahayapd/article/view/7232/4918

Munawwaroh, S. & Panjaitan, L.I. (2022). Karakteristik Perkembangan Emosi. Edu Manage Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Vol. 1 No. 1 Juni 2022. https://jurnal.staini.ac.id/index.php/edumanage/article/view/154/122


×
Berita Terbaru Update