-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Pendidikan Bukan Sekadar Nilai: Pentingnya Humanisme dalam Pembelajaran

Jumat, 02 Januari 2026 | Januari 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-02T20:33:42Z

Ketika Pendidikan Bukan Sekadar Nilai: Pentingnya Humanisme dalam Pembelajaran

Dinda Juni Fiarahmawati 1🖂,Bestiana Nizhomi, S.Pd.I., M.Pd   

  1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa


🖂 dindajunif1@gmail.com




Abstrak


Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan moral. Pendidikan sebagai humanisme memandang peserta didik sebagai manusia seutuhnya yang memiliki potensi, perasaan, dan kebutuhan untuk dihargai. Artikel ini bertujuan untuk membahas konsep pendidikan sebagai humanisme serta relevansinya dalam penyelenggaraan pendidikan dasar. Pembahasan disusun berdasarkan kajian teori pendidikan dan pengamatan terhadap praktik pembelajaran di sekolah dasar. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan humanis menekankan pentingnya hubungan yang manusiawi antara guru dan siswa, pembelajaran yang bermakna, serta penanaman nilai-nilai karakter. Pendidikan yang berlandaskan humanisme diharapkan mampu membentuk peserta didik menjadi pribadi yang berkarakter, bertanggung jawab, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat


Kata Kunci: pendidikan humanisme, pendidikan dasar, karakter siswa, peran guru.



PENDAHULUAN

Dalam praktik pendidikan, keberhasilan siswa sering kali diukur melalui angka, nilai rapor, dan peringkat kelas. Ukuran tersebut memang penting, namun tidak cukup untuk menggambarkan tujuan sejati pendidikan. Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diperoleh siswa, tetapi tentang bagaimana pendidikan mampu membentuk manusia yang berkarakter, beretika, dan peduli terhadap sesama. Inilah yang menjadi dasar pemikiran pendidikan sebagai humanisme.

Pada jenjang sekolah dasar, pendidikan memiliki peran yang sangat menentukan karena berada pada fase awal pembentukan kepribadian anak. Anak tidak hanya belajar pengetahuan dasar, tetapi juga belajar memahami dirinya, orang lain, serta lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, pendidikan dasar perlu diarahkan pada proses pembelajaran yang memanusiakan manusia, bukan sekadar mengejar pencapaian akademik.


PEMBAHASAN

      

           Konsep Pendidikan sebagai Humanisme

Pendidikan sebagai humanisme berakar pada pemikiran para tokoh pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusat proses belajar. John Dewey memandang pendidikan sebagai proses pengalaman yang bertujuan membantu peserta didik berkembang secara aktif dalam kehidupan sosial. Menurut Dewey, pendidikan tidak boleh terlepas dari kehidupan nyata siswa, karena belajar akan bermakna ketika dikaitkan dengan pengalaman langsung.

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Konsep ini menekankan bahwa pendidik tidak memaksa kehendak kepada peserta didik, melainkan membimbing dan memberi keteladanan. Prinsip ini sejalan dengan pendekatan humanisme yang menghargai martabat dan kebebasan anak dalam belajar.

Dalam perspektif humanisme, proses belajar lebih dipentingkan daripada hasil akhir. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari perkembangan sikap, nilai, dan kepribadian peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan humanis menekankan hubungan yang manusiawi antara guru dan siswa, suasana belajar yang nyaman, serta pembelajaran yang bermakna.



             A teacher helping students in a classroom

AI-generated content may be incorrect.




Peran Guru dalam Pendidikan Humanis

Guru merupakan tokoh utama dalam mewujudkan pendidikan yang humanis di sekolah dasar. Peran guru tidak hanya terbatas pada menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk suasana belajar yang menghargai kemanusiaan siswa. Dalam praktik sehari-hari, guru dapat menunjukkan sikap humanis melalui hal-hal sederhana, seperti mendengarkan pendapat siswa, menyapa dengan ramah, dan memahami kondisi emosional anak.

Contoh nyata pendidikan humanis dapat terlihat ketika guru menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Alih-alih memarahi atau memberi label negatif, guru membimbing dengan sabar dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan siswa. Guru juga memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tanpa rasa takut dan menghargai setiap usaha yang dilakukan, sekecil apa pun. Sikap tersebut membantu siswa merasa dihargai dan percaya diri.

Selain itu, guru dapat menerapkan pembelajaran yang melibatkan kerja kelompok, diskusi sederhana, dan kegiatan refleksi. Melalui kegiatan ini, siswa belajar bekerja sama, menghargai perbedaan pendapat, serta bertanggung jawab terhadap tugas bersama. Dengan demikian, guru tidak hanya mengajar pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan melalui pengalaman belajar yang nyata.



         A person and children sitting on the floor

AI-generated content may be incorrect.




Pendidikan Humanisme dan Pembentukan Karakter

Salah satu hasil penting dari penerapan pendidikan humanisme adalah terbentuknya karakter peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan. Pendidikan humanis membantu anak mengenal nilai-nilai dasar kemanusiaan melalui pengalaman belajar sehari-hari di sekolah. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan empati tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi dipraktikkan secara langsung dalam interaksi antara guru dan siswa.

Dalam pembelajaran di kelas, pendidikan humanisme mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dan berani menyampaikan pendapat. Ketika siswa diberi ruang untuk berbicara dan didengarkan, mereka belajar menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Proses ini membantu menumbuhkan rasa percaya diri serta sikap saling menghormati. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku positif.

Hasil pembahasan juga menunjukkan bahwa pendidikan humanis berperan penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah. Melalui kerja kelompok dan kegiatan bersama, siswa belajar bekerja sama, menyelesaikan konflik secara damai, serta memahami perbedaan karakter dan latar belakang teman-temannya. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi siswa untuk hidup bermasyarakat di masa depan.





Selain itu, pendidikan humanisme membantu siswa mengembangkan kesadaran moral sejak dini.Guru yang konsisten menanamkan nilai-nilai kemanusiaan melalui keteladanan akan memberikan pengaruh kuat terhadap pembentukan karakter anak. Sikap guru yang adil, sabar, dan peduli menjadi contoh nyata yang ditiru oleh siswa. Dengan demikian, pendidikan humanis tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kepribadian yang matang dan beretika.





            A person helping a student in a classroom

AI-generated content may be incorrect.




SIMPULAN


Kesimpulan dari artikel ini Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mengejar nilai dan prestasi akademik, melainkan upaya membentuk manusia yang utuh dan bermartabat. Melalui pendekatan humanisme, pendidikan menempatkan anak sebagai subjek yang memiliki potensi, perasaan, dan hak untuk dihargai dalam setiap proses belajar. Pendidikan yang demikian tidak hanya mengasah kecerdasan berpikir, tetapi juga menumbuhkan kepekaan nurani dan sikap kemanusiaan.

Guru memiliki peran sentral dalam menghadirkan pendidikan yang humanis melalui sikap empati, keteladanan, dan cara mendampingi siswa dalam keseharian. Perhatian sederhana, kesabaran, dan penghargaan terhadap usaha siswa sering kali memberikan dampak yang lebih bermakna dibandingkan sekadar pencapaian angka di rapor. Dari sinilah nilai-nilai karakter tumbuh dan mengakar.

Dengan menjadikan humanisme sebagai landasan pendidikan, sekolah dasar dapat menjadi ruang yang aman, menyenangkan, dan bermakna bagi perkembangan anak. Pendidikan tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki hati, etika, dan kepedulian terhadap sesama. Inilah tujuan hakiki pendidikan yang perlu terus dijaga dan diperjuangkan.





DAFTAR PUSTAKA


Arends, R. I. (2012). Learning to Teach. New York: McGraw-Hill.

Dewey, J. (2004). Democracy and Education. New York: The Free Press.

Hamalik, O. (2015). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Ki Hadjar Dewantara. (2013). Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Mulyasa, E. (2017). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suyanto & Asep Jihad. (2013). Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Erlangga.

Tilaar, H. A. R. (2012). Kekuasaan dan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Uno, H. B. (2016). Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


×
Berita Terbaru Update