-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Membangun Indonesia Emas Dengan Pendidikan Tamansiswa

Kamis, 09 Januari 2025 | Januari 09, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-01-09T13:10:50Z

nama : fadila dewi ana tassya 

kelas : 1E/2024915151 

prodi : pendidikan guru sekolah dasar 

Membangun Indonesia Emas Dengan Pendidikan Tamansiswa 



Pendidikan berperan penting dalam membentuk identitas dan pengetahuan siswa. dalam membentuk pengetahuan dan identitas siswa. Pondasi untuk menciptakan masyarakat yang berintegritas dan berkualitas adalah pendidikan itu sendiri. Kualitas individu yang nantinya akan mengambil bagian dalam pertumbuhan bangsa dan negara akan dipengaruhi oleh pengelolaan kuantitas dan kualitas pendidikan yang tepat. Karena pendidikan merupakan sarana untuk mengembangkan kepribadian dan memaksimalkan potensi manusia, maka pendidikan pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan manusia. Proses pendidikan memiliki dampak yang signifikan terhadap seberapa baik manusia berfungsi sebagai makhluk yang memiliki banyak aspek. Hal ini mengimplikasikan bahwa kualitas hasil pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh proses yang efektif dan tepat. Metode pendidikan yang efektif dan tepat akan berdampak besar pada kualitas hasil. Secara alamiah, hal yang paling penting bagi manusia adalah pendidikan. Menyadari bahwa pendidikan dan pengetahuan yang diperoleh dari orang tua dan guru di masa lalu telah memberikan kontribusi pada kondisi masyarakat saat ini adalah hal yang sangat penting. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa mendidik seorang anak sama dengan mendidik sebuah negara. Oleh karena itu, sangat penting untuk memantau dengan seksama bagaimana generasi siswa saat ini akan dididik, karena hasil pendidikan mereka akan menentukan arah negara ini. (Dewantara, 1977: 3). 

Anak-anak berusia antara 0 hingga 8 tahun dianggap berada pada tahap anak usia dini, ketika mereka memiliki potensi paling besar untuk berkembang di semua bidang kehidupan mereka, termasuk bahasa, kognitif, fisik-motorik, sosial-emosional, keyakinan agama dan moral, serta ekspresi artistik. Agar berbagai aspek perkembangan bayi dapat dimaksimalkan, diperlukan stimulasi yang tepat. Memberikan otonomi kepada anak untuk memilih aktivitas edukasi yang mereka inginkan berdasarkan dunia bermain mereka adalah salah satunya. Dengan jumlah penduduk usia kerja yang besar, piramida demografi Indonesia akan mencapai puncaknya antara tahun 2015 dan 2045. Sebagai hasilnya, Indonesia akan mendapatkan bonus sumber daya manusia, yang sering disebut sebagai Bonus Demografi, mulai tahun 2045. Bagi Indonesia, bonus demografi menghadirkan keuntungan sekaligus masalah. Dengan keuntungan demografis ini, Indonesia diprediksi akan memiliki generasi emas pada tahun 2045. Potensi, kecerdasan, produktivitas, literasi, kompetensi, karakter, dan daya saing menjadi penentu generasi ini. Pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), merupakan salah satu cara untuk mewujudkan Bonus Demografi menjadi generasi emas di tahun 2045. (Sandi,2016:4)

Perlu dipahami bahwa hanya berfokus pada komponen intelektual di sekolah hanya akan membuat anak-anak menjadi lebih terisolasi secara sosial. Namun ternyata pendidikan selama ini hanya berfokus pada pertumbuhan kreativitas, dan kurang memperhatikan perkembangan perasaan dan etika. Manusia akan menjadi kurang manusiawi jika hal ini terus berlanjut. Kemerdekaan politik tidak ada gunanya jika tidak mencakup hak untuk hidup bebas dan sarana penghidupan, tetapi persatuan nasional diwujudkan sebagai kesatuan negara yang merdeka. Dan karena cara hidup dan mata pencaharian tersebut sepenuhnya merupakan budaya nasional yang perlu dilestarikan, upaya untuk memajukan nilai-nilai budaya bagi suatu negara juga mencakup pengajaran dan pendidikan. Upaya untuk memupuk nilai-nilai budaya bagi suatu negara termasuk pengajaran.(Dewantara, 1977: 185) 

Salah satu pilar utama yang mendukung kemajuan suatu negara adalah pendidikan. Kunci utama untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045 di Indonesia adalah pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Pendidikan Tamansiswa merupakan salah satu strategi pendidikan yang dapat menjadi solusi. Ki Hajar Dewantara mendirikan pendidikan Tamansiswa yang menekankan pada pengembangan karakter dan potensi individu secara holistik selain akademik. Salah satu metode pendidikan yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri pendidikan Indonesia, adalah pendidikan Tamansiswa. Pentingnya pendidikan yang berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai budaya ditekankan oleh paradigma pendidikan ini. Pendidikan Tamansiswa dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan tujuan ini dalam rangka Indonesia Emas 2045. 

Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat besar dalam hal jumlah penduduk. Pada tahun 2017, dibandingkan dengan usia produktif dan pasca produktif, usia sekolah atau usia pra produktif yang tersebar mulai dari PAUD, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi memiliki proporsi terbesar. Perhitungan menunjukkan bahwa usia pra produktif ini akan mulai produktif pada tahun 2030, saat mahasiswa di perguruan tinggi mulai berproduksi, diikuti oleh kelompok usia sekolah dasar, sekolah menengah, dan PAUD. Kelompok usia PAUD dan sekolah dasar, yang merupakan mayoritas dari populasi Indonesia, diprediksi akan mencapai usia produktif pada tahun 2045, yang menandai periode puncak produktivitas negara ini. Dengan kata lain, Indonesia akan mendapatkan bonus sumber daya manusia, yang dikenal sebagai Bonus Demografi, mulai tahun 2045. Tergantung bagaimana persiapan yang dilakukan sebelum itu, Bonus Demografi dapat menjadi beban atau aset bagi bangsa di tahun 2045. Tujuan dari Bonus Demografi adalah mengubah generasi saat ini menjadi generasi emas, yaitu generasi yang cerdas, cakap, produktif, melek huruf, kompeten, berdaya saing, dan berkarakter. Salah satu upaya terpenting untuk menjadikan Bonus Demografi sebagai generasi emas di tahun 2045 adalah melalui pendidikan. 

Indonesia Emas 2045 adalah visi besar yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia. Pentingnya menciptakan bangsa yang maju, mandiri, dan berdaya saing ditekankan dalam perspektif ini. Namun, sejumlah komponen masyarakat, termasuk sektor pendidikan, harus berpartisipasi aktif untuk mewujudkan tujuan ini. Pendidikan Tamansiswa yang menekankan pada nilai

pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berikut ini adalah beberapa prinsip pendidikan Tamansiswa yang dapat membantu Indonesia mencapai Indonesia Emas 2045: 

1. Pendidikan berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai budaya: Pendidikan Tamansiswa menempatkan fokus yang kuat pada nilai pemahaman dan penghormatan terhadap kearifan lokal dan nilai-nilai budaya. Hal ini dapat menumbuhkan kebanggaan dan kesadaran akan identitas nasional. 

2. Pendidikan Tamansiswa sangat menekankan nilai keseimbangan antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan demikian, akan tercipta generasi yang utuh dan menyeluruh. 

3. Pendidikan Tamansiswa menempatkan fokus yang kuat pada nilai keterlibatan masyarakat dalam proses pendidikan. Partisipasi dalam pembangunan bangsa dan kesadaran masyarakat dapat ditingkatkan dengan cara ini. 

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengimplementasikan pendidikan Tamansiswa sebagai solusi menuju Indonesia Emas 2045 antara lain dengan membuat kurikulum yang berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai budaya: 

1. Kearifan lokal dan nilai-nilai budaya harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. 

2. Menciptakan strategi pengajaran yang holistik: Strategi pembelajaran harus dibuat untuk mendorong keseimbangan antara unsur kognitif, emosional dan psikomotorik. 3. Menciptakan sistem evaluasi yang partisipatif: Untuk melibatkan masyarakat dalam proses peninjauan, sistem evaluasi harus dibuat. 

Pendidikan Tamansiswa dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045. Pendidikan Tamansiswa dapat berkontribusi dalam pembangunan generasi yang utuh dan menyeluruh dengan menekankan pentingnya pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, holistik, dan partisipatif. Oleh karena itu, pendidikan Tamansiswa perlu dikembangkan dan diimplementasikan di seluruh wilayah Indonesia. Apabila pendidikan lebih berorientasi pada hasil atau manfaat maka praksis pendidikan lebih menghamba pada kepentingan kapital yang tidak manusiawi, bahkan cenderung mereduksi kemanusiaan sebagai bagian dari sumber daya ekonomi saja, bukan sebagai manusia yang bebas, merdeka dan bermartabat (Darmanigtyas,2008:145-146). Praksis pendidikan seperti ini pada akhirnya berujung pada hasil yang negatif, seperti tawuran antar pelajar, meningkatnya kenakalan remaja, seperti penggunaan narkoba, dan pergaulan bebas, sehingga generasi muda terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme, dan bahkan mungkin ketakutan akan sifat-sifat generasi muda yang tidak sesuai dengan tuntutan globalisasi. 

Agar anak didik dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat, Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan haruslah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan

kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Atau, pendidikan menurut Driyarkara adalah proses humanisasi dan hominisasi. Baik Ki Hadjar Dewantoro maupun Driyarkara menempatkan manusia sebagai subyek dari pendidikan, sehingga rumusan mengenai tujuan pengajaran dan pendidikan itu sendiri bertolak dari filsafat manusianya (Darmanigtyas, 2008:145). Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai budaya bangsa (Yamin, 2005: 179). Fondasi atau titik tumpu pendidikan Indonesia adalah nilai-nilai budaya bangsa. Nilai-nilai budaya tersebut diajarkan kepada anak didik sebagai modal dasar di rumah, dan secara sistematis dan metodis dibawa ke sekolah sebelum digunakan lagi di masyarakat. Anak-anak di negeri ini akan mempertahankan identitas budayanya semakin kuat nilai-nilai budaya yang diajarkan. 

referensi 

Susilo, S. V. (2018). Refleksi nilai-nilai pendidikan ki hadjar dewantara dalam upaya upaya mengembalikan jati diri pendidikan indonesia. Jurnal Cakrawala Pendas, 4(1). 

Prameswari, T. W. P. (2020, October). Merdeka belajar merdeka belajar: sebuah konsep pembelajaran anak usia dini menuju indonesia emas 2045: Konsep pembelajaran anak usia dini menuju indonesia emas 2045. In Seminar Nasional Penalaran Dan Penelitian Nusantara (Vol. 1, No. 1, pp. 76-86). 

Abi, A. R. (2017). Paradigma membangun generasi emas Indonesia tahun 2045. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 2(2), 85-90. 

Wardhana, I. P., & Pratiwi, V. U. (2020). Konsep pendidikan taman siswa sebagai dasar kebijakan pendidikan nasional merdeka belajar di Indonesia.


×
Berita Terbaru Update