Bagaimana Kurikulum 2013 Menghubungkan Sekolah Dengan Kehidupan Nyata Siswa?
Latiefah Ramadhani
Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Email Penulis: latiefahramadhani@gmail.com
ABSTRAK
Kurikulum 2013 menekankan pembelajaran kontekstual yang mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) bertujuan meningkatkan relevansi pembelajaran melalui pengalaman sehari-hari, sehingga siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan secara bermakna. Artikel ini membahas implementasi CTL dalam Kurikulum 2013 dan peran guru dalam mengoptimalkan pembelajaran berpusat pada siswa. Dengan pembelajaran kontekstual, siswa diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan secara luas dan membangun karakter melalui nilai budaya dan kearifan lokal.
Kata Kunci : Kurikulum 2013, pembelajaran kontekstual, Contextual Teaching and Learning, CTL, pembelajaran bermakna, pendidikan karakter
ABSTRACT
The 2013 Curriculum emphasizes contextual learning that connects lesson materials with students' real-life experiences. The Contextual Teaching and Learning (CTL) approach aims to enhance learning relevance through daily experiences, enabling students to develop meaningful knowledge and skills. This article discusses CTL implementation in the 2013 Curriculum and the teacher's role in optimizing student-centered learning. Through contextual learning, students are expected to apply knowledge broadly and build character through cultural values and local wisdom
Keywords : 2013 Curriculum, contextual learning, Contextual Teaching and Learning, CTL, meaningful learning, character education
PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 (K13) adalah sebuah inovasi signifikan dalam sistem pendidikan di Indonesia yang menekankan pengembangan kompetensi siswa secara holistik, mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Salah satu ciri khas K13 adalah penerapan pembelajaran kontekstual yang mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata siswa. Metode ini bertujuan agar siswa tidak hanya mengetahui teori secara konseptual, tetapi juga dapat menerapkan pengetahuan yang didapat dalam situasi sehari-hari.
Pendidikan yang terhubung dengan kehidupan sehari-hari sangat penting untuk menciptakan peserta didik yang siap menghadapi tantangan zaman modern sambil memiliki akhlak yang baik. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana Kurikulum 2013 mengaitkan sekolah dengan kehidupan sehari-hari siswa melalui pembelajaran kontekstual, peran pendidik, keuntungan, serta tantangan yang dihadapi dalam penerapannya.
Pembelajaran Kontekstual dalam Kurikulum 2013
Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan metode pengajaran yang menghubungkan materi ajar dengan pengalaman dan lingkungan siswa. Di K13, CTL berfungsi sebagai dasar utama dalam kegiatan pembelajaran. Konsep ini mengharuskan siswa untuk secara aktif mencari, mencoba, dan mengalami materi yang dipelajari secara langsung agar mereka dapat menjalin hubungan yang berarti antara pengetahuan akademis dan kehidupan sehari-hari.
Contohnya, pada pelajaran matematika, siswa dilibatkan dalam menghitung anggaran belanja, mengukur area tanah, atau merencanakan waktu belajar, bukan hanya sekadar menghafal rumus. Dalam mata pelajaran IPA, siswa melakukan percobaan sederhana menggunakan barang-barang di sekitar rumah atau sekolah. Metode ini menghidupkan pembelajaran dan menambah makna, sehingga siswa dapat lebih mudah memahami serta mengingat materi.
Berdasarkan penelitian di SMPN 13 Banjarmasin, penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika yang mencakup tujuh komponen dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa selama proses belajar mengajar. Ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual dalam K13 bukan hanya sekedar teori, tetapi juga terbukti berhasil dalam praktik.
Peran Guru sebagai Fasilitator Pembelajaran
Keberhasilan mengaitkan sekolah dengan kehidupan sehari-hari siswa sangat ditentukan oleh peran guru. Dalam Kurikulum 2013, guru berfungsi sebagai fasilitator yang menyiapkan pembelajaran sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan peserta didik. Guru perlu dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata siswa serta lingkungan sekitarnya.
Namun, tantangan yang dihadapi oleh para guru tidaklah kecil. Banyak pendidik masih menghadapi tantangan dalam merancang rencana pembelajaran yang sesuai konteks dan melakukan penilaian autentik yang menyeluruh. Di samping itu, kurangnya pelatihan dan sumber daya menyebabkan guru belum sepenuhnya siap untuk menerapkan metode pembelajaran yang aktif dan partisipatif sesuai K13.
Maka dari itu, pengembangan profesional bagi guru melalui pelatihan dan lokakarya sangat penting agar mereka dapat memahami dan menerapkan pembelajaran kontekstual dengan baik. Dukungan dari pihak manajemen sekolah serta tersedianya sarana dan prasarana juga merupakan faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan K13.
Manfaat Pembelajaran Kontekstual bagi Siswa
Pengajaran yang mengaitkan topik pelajaran dengan kehidupan sehari-hari memberikan beragam keuntungan bagi murid. Pertama, siswa menjadi lebih terdorong dan berpartisipasi karena materi yang diajarkan terasa penting dan bermanfaat bagi hidup mereka. Kedua, pemahaman konsep semakin mendalam karena siswa terlibat langsung dalam proses belajar melalui praktik dan pengalaman nyata.
Di samping itu, pembelajaran kontekstual mendukung siswa dalam mengasah keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Mereka juga mengembangkan sikap positif seperti tanggung jawab, kolaborasi, dan empati, sebab pembelajaran sering kali melibatkan interaksi sosial dan keputusan yang nyata.
Pembelajaran tematik yang diterapkan di SD dalam K13 juga menunjukkan cara materi dari berbagai pelajaran diintegrasikan dalam tema yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti tema kesehatan, lingkungan, dan keluarga. Hal ini menjadikan pembelajaran lebih terintegrasi dan bernilai.
Tantangan dalam Implementasi Kurikulum 2013
Walaupun memiliki banyak keuntungan, pelaksanaan Kurikulum 2013 menemui berbagai hambatan. Salah satu hambatan utama adalah kurangnya sarana dan prasarana, terutama di sekolah yang belum memiliki fasilitas yang cukup untuk mendukung pembelajaran kontekstual dan teknologi pendidikan.
Selain itu, ketidakmerataan kesiapan guru menjadi kendala yang signifikan. Banyak pengajar yang belum memperoleh pelatihan yang cukup mengenai metode pengajaran dan penilaian dalam K13, sehingga mengalami kesulitan dalam mengelola pembelajaran yang fleksibel dan berfokus pada siswa.
Penilaian yang rumit dalam K13, yang perlu mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan, juga memerlukan waktu dan perhatian yang tidak sedikit dari guru. Beban administratif ini kadang-kadang mengurangi waktu pengajar untuk berkonsentrasi pada proses pembelajaran yang inovatif dan interaktif.
Usaha Memperkuat Pelaksanaan Kurikulum 2013
Dalam menghadapi tantangan tersebut, beberapa sekolah telah melakukan bermacam-macam usaha. Pelatihan terus-menerus untuk guru menjadi fokus utama agar mereka dapat menciptakan metode pengajaran yang inovatif dan sesuai dengan prinsip K13. Di samping itu, kerja sama antara guru, siswa, dan orang tua diperkuat untuk membangun suasana belajar yang mendukung.
Penggunaan teknologi secara efektif, meskipun ada batasan, juga merupakan cara untuk memperkaya sumber pembelajaran dan mempermudah interaksi antara pengajar dan murid. Pendekatan pembelajaran yang berfokus pada siswa dan proyek kreatif dapat secara signifikan meningkatkan motivasi serta hasil belajar.
Kesimpulan
Kurikulum 2013 dengan pendekatan pembelajaran kontekstualnya sukses mengaitkan sekolah dengan kehidupan nyata siswa melalui proses pembelajaran yang aktif, bermakna, dan relevan. Model pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan dan sikap yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan pelaksanaan K13 sangat ditentukan oleh kesiapan guru, dukungan fasilitas, dan manajemen sekolah yang efektif. Dengan pelatihan yang cukup dan dukungan sistemik, Kurikulum 2013 dapat menjadi dasar yang kokoh dalam membentuk generasi Indonesia yang cerdas, inovatif, dan berbudi pekerti.
DAFTAR PUSTAKA
Afferi Yanti, R. (2022). Pembelajaran kontekstual dan pembelajaran berbasis Kurikulum 2013. Jurnal Lencana, (Vol. xx), 66-77.
Kartika, D. (2016). Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Kurikulum 2013.
Sukardi. (2013). Pembelajaran berbasis Kurikulum 2013. Jurnal Pendidikan.
Nurhadi dalam Rusman. (2010). Model-model pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2020). Panduan praktis penguatan pendidikan karakter kontekstual.
Trianto. (2007). Model pembelajaran kontekstual.