Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar: Antara Harapan dan Realita di Lapangan
Oleh:
Yesi Liana Wijayanti 2024015036
PGSD Universitas SarjanawiyataTamansiswa
Latar Belakang
Dunia pendidikan dasar di Indonesia senantiasa bergerak, berupaya menemukan formula terbaik demi mencetak generasi emas. Dalam dekade terakhir, kita telah menyaksikan gelombang perubahan kurikulum yang signifikan, dari Kurikulum 2013 hingga yang terbaru, Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka, dengan filosofinya yang menekankan pada kemandirian dan diferensiasi pembelajaran, digadang-gadang mampu menjawab tantangan kompleks di abad ke-21. Namun, di balik narasi optimisme tersebut, implementasinya di lapangan, khususnya di sekolah dasar, tak luput dari beragam dinamika dan tantangan yang menuntut refleksi mendalam dari semua pihak
Visi Besar Kurikulum Merdeka: Potensi Merdeka Belajar dan Mengajar
Kurikulum Merdeka lahir dari kesadaran akan kebutuhan adaptasi pendidikan terhadap perubahan zaman. Konsep "Merdeka Belajar" dan "Merdeka Mengajar" menjadi inti, memberikan keleluasaan lebih kepada guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Fokus pada “profil pelajar Pancasila”, proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5), serta penyederhanaan materi menjadi beberapa pilar utamanya. Secara teoritis, ini adalah angin segar. Guru tidak lagi terbebani target kurikulum yang kaku, melainkan didorong untuk menjadi fasilitator yang kreatif, memahami setiap keunikan siswa, dan mengembangkan potensi mereka secara holistik. Bagi siswa, pembelajaran diharapkan lebih bermakna, tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif semata, tetapi juga pada pengembangan karakter dan keterampilan abad ke-21.
Dalam observasi singkat melalui pengalaman pribadi saya, yaitu mengajar di MTS Madinah Lampung Timur perode 2023/2024, terlihat antusiasme dari sebagian guru untuk menerapkan semangat Kurikulum Merdeka. Adanya ruang untuk berinovasi dalam metode mengajar, pemilihan sumber belajar, hingga cara penilaian yang lebih fleksibel, membuka kesempatan bagi guru untuk benar-benar memahami bagaimana siswa mereka belajar.
Sebagai contoh, saya mengamati proyek P5 dengan tema "Gaya Hidup Berkelanjutan" di kelas VII. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan ditugaskan untuk mengidentifikasi masalah sampah di lingkungan sekolah. Mereka tidak hanya belajar teori tentang daur ulang, tetapi juga melakukan observasi langsung, mewawancarai petugas kebersihan, bahkan merancang poster kampanye dan membuat kerajinan dari sampah daur ulang. Proses ini jelas memberikan platform bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung, berkolaborasi, dan mengembangkan empati terhadap isu-isu di sekitar mereka. Mereka juga belajar berpikir kritis dan mencari solusi, keterampilan yang esensial di luar bangku sekolah. Ini adalah langkah maju yang esensial, mengingat pendidikan tidak hanya tentang mengisi kepala, tetapi juga membentuk pribadi yang utuh.
Tantangan di Garis Depan: Kesiapan Guru dan Infrastruktur
Meskipun potensi Kurikulum Merdeka sangat besar, realita di lapangan menunjukkan bahwa implementasinya tidak semulus yang diharapkan. Salah satu tantangan terbesar terletak pada kesiapan dan kapasitas guru. Konsep diferensiasi pembelajaran, misalnya, menuntut guru untuk memahami beragam gaya belajar, kecepatan, dan minat siswa dalam satu kelas. Ini bukan tugas yang mudah.
Selama pengalaman saya mengajar di MTS Madinah, beberapa guru terang-terangan menyampaikan kesulitan dalam menyusun “Modul Ajar” yang benar-benar memuat diferensiasi. Seorang guru kelas VII, Bu Rohmayati, bercerita bahwa ia sering merasa kewalahan merancang aktivitas yang sesuai untuk siswa dengan kemampuan berbeda dalam satu kelas. "Pelatihannya memang ada, tapi rasanya masih kurang praktis," ujar Bu Rohmayati. "Bagaimana saya harus mengatur kelompok belajar yang efektif, atau menyiapkan materi yang berbeda untuk anak yang sudah mahir dan yang masih kesulitan, sementara waktu dan sumber daya terbatas?" Pertanyaan ini mencerminkan kegelisahan banyak guru yang berhadapan langsung dengan tuntutan implementasi diferensiasi. Ada kecenderungan untuk tetap menggunakan pendekatan lama, hanya dengan mengganti "label" menjadi Kurikulum Merdeka, karena kurangnya panduan praktis dan pendampingan berkelanjutan.
Selain itu, kesenjangan infrastruktur dan sumber daya antar sekolah juga menjadi hambatan serius. Kurikulum Merdeka mendorong penggunaan beragam media dan metode pembelajaran, termasuk pemanfaatan teknologi. Namun, di daerah saya akses terhadap internet, perangkat keras yang memadai, bahkan buku-buku pendukung yang relevan masih menjadi barang mewah. Ini menciptakan disparitas yang signifikan dalam kualitas implementasi. Bagaimana mungkin seorang guru dapat menerapkan pembelajaran berbasis proyek secara optimal jika bahan-bahan pendukung sulit didapat atau bahkan tidak tersedia?
Menilik Solusi: Kolaborasi dan Pengembangan Berkelanjutan
Merespons tantangan ini, diperlukan langkah-langkah konkret dan berkelanjutan. Pertama, pengembangan profesional guru harus menjadi prioritas utama. Pelatihan tidak bisa lagi bersifat "one-shot," melainkan harus terencana, berkesinambungan, dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik guru di lapangan. Model pelatihan yang lebih banyak melibatkan praktik, lokakarya penyusunan Modul Ajar yang kontekstual, peningkatan literasi, serta program pendampingan individual atau kelompok kerja guru (KKG) yang efektif dapat menjadi forum bagi guru untuk berbagi praktik baik, memecahkan masalah bersama, dan saling mendukung dalam proses adaptasi. Program magang atau PPL yang lebih intensif bagi calon guru juga perlu diperkuat agar mereka memiliki pengalaman nyata dalam mengimplementasikan filosofi Kurikulum Merdeka sejak dini.
Kedua, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas sangat krusial. Perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam penelitian dan pengembangan model pembelajaran yang sesuai dengan konteks lokal, serta menyediakan program pelatihan yang relevan. Pemerintah perlu memastikan pemerataan akses terhadap sumber daya dan teknologi, serta mendesain kebijakan yang responsif terhadap masukan dari lapangan. Peran komunitas, termasuk orang tua, juga tidak kalah penting dalam mendukung proses belajar anak di rumah dan sekolah.
Mewujudkan Merdeka Belajar yang Sejati
Kurikulum Merdeka adalah sebuah lompatan yang berani dan penuh harapan untuk dunia pendidikan dasar di Indonesia. Ia menawarkan visi tentang pembelajaran yang lebih relevan, bermakna, dan mampu membentuk pribadi siswa yang mandiri serta berkarakter Pancasila. Namun, visi ini tidak akan terwujud tanpa dukungan penuh dari semua elemen. Kesiapan guru, ketersediaan infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama. Sebagai calon guru sekolah dasar, kita memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga agen perubahan yang kritis dan adaptif. Dengan terus belajar, berinovasi, dan menyuarakan realita di lapangan, kita dapat berkontribusi dalam mewujudkan Merdeka Belajar yang sejati, di mana setiap anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang sesuai potensinya, meraih masa depan yang cerah.
Daftar Pustaka :
Iskandar, S., Rosmana, P. S., Farhatunnisa, G., Mayanti, I., Apriliya, M., & Gustavisiana, T. S. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka Di Sekolah Dasar. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 3(2), 2322–2336.
Masrurah, U., Rahmawati, F. P., & Ghufron, A. (2024). IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DALAM PENINGKATAN LITERASI PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(04), 340.
Aulia, R., & Andini, P. (2024). Analisis Kesiapan Guru Dalam Menghadapi Tantangan Kurikulum Merdeka: Perspektif Guru Sekolah Dasar. Jurnal Sadewa : Publikasi Ilmu Pendidikan, Pembelajaran dan Ilmu Sosial, 2(3), 81–89.