EMOSI DAN PERKEMBANGAN SOSIAL PADA ANAK DI SEKOLAH DASAR
Penulis: Ragil Wijiarti
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
Pendahuluan
Perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi pada manusia yaitu proses bertambahnya kemampuan menjadi lebih baik ataupun sebaliknya, begitu juga dengan perkembangan anak. Bertambahnya kemampuan anak, baik dilihat dari postur tubuh, fungsi tubuh yang lebih sempurna. Perkembangan menyangkut adanya perubahan dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya.
Perkembangan sosial dan emosional anak usia sekolah dasar merupakan tahap penting dalam kehidupan anak. Pada periode ini, anak-anak mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam aspek sosial dan emosional mereka.
Perkembangan sosial dan emosional adalah proses di mana anak-anak mengembangkan keterampilan dan pemahaman mereka dalam berinteraksi dengan orang lain dan mengelola emosi mereka. Ini melibatkan kemampuan anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berempati terhadap orang lain, serta kemampuan mereka untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi mereka sendiri.
Pentingnya Perkembangan Sosial dan Emosional
Perkembangan sosial dan emosional anak usia sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Keterampilan sosial yang baik membantu anak untuk membina hubungan yang sehat dengan teman sebaya, orang tua, dan guru. Selain itu, perkembangan emosional yang baik memungkinkan anak untuk memahami dan mengatasi emosi mereka, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan menjaga kesejahteraan mental mereka.
Tahap-tahap Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Sekolah Dasar
1. Perkembangan Sosial
Hubungan dengan Teman Sebaya: Anak-anak usia sekolah dasar mulai membentuk hubungan yang erat dengan teman-teman sebayanya. Mereka belajar tentang kerjasama, kepercayaan, dan empati dalam berinteraksi dengan teman-teman mereka.
Hubungan dengan Orang Tua: Hubungan dengan orang tua tetap penting. Anak-anak usia sekolah dasar mulai mengembangkan kemandirian, tetapi tetap membutuhkan dukungan dan panduan dari orang tua.
Hubungan dengan Guru: Hubungan dengan guru juga berperan penting dalam perkembangan sosial anak. Anak-anak belajar tentang kedisiplinan, respek, dan tanggung jawab di sekolah.
2. Perkembangan Emosional
Pemahaman Emosi: Pada tahap ini, anak-anak mulai memahami berbagai emosi, baik yang mereka rasakan maupun yang dialami orang lain. Mereka belajar mengidentifikasi emosi seperti bahagia, sedih, marah, dan cemas.
Pengendalian Emosi: Anak-anak usia sekolah dasar belajar mengendalikan emosi mereka. Mereka mengembangkan keterampilan untuk mengatasi rasa marah, frustasi, atau kecemasan dengan cara yang sehat dan produktif.
Perasaan Diri: Perkembangan emosional juga mencakup perkembangan perasaan diri. Anak-anak mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka sukai, dan apa yang membuat mereka unik.
Pentingnya Lingkungan Emosional yang Suportif
Anak usia SD sangat rentan terhadap berbagai bentuk tekanan psikologis, baik dari lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, maupun dari sistem pendidikan itu sendiri. Lingkungan belajar yang mendukung secara emosional akan membantu anak merasa aman, diterima, dan dihargai. Hal ini akan memengaruhi motivasi belajar, kepercayaan diri, serta perkembangan emosi mereka secara keseluruhan.
Menurut teori perkembangan Erik Erikson, anak SD berada pada tahap "industry vs inferiority". Artinya, anak mulai belajar untuk merasa kompeten dalam tugas-tugasnya, atau sebaliknya merasa rendah diri jika tidak mendapatkan dukungan yang cukup. Dalam konteks ini, guru harus mampu memberikan penguatan positif, memahami kebutuhan emosional siswa, dan merespons secara empatik terhadap perilaku mereka.
Dampak Perkembangan Anak Yang Tidak Berhasil
Jika perkembangan anak tidak berhasil dalam aspek sosial, dapat menyebabkan perasaan kesepian karena merasa tidak populer di antara teman-temannya. Anak mungkin tidak mendapatkan pengakuan atau penerimaan dari teman sebaya mereka. Selain itu, jika anak dipaksa untuk bermain dengan cara yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, hal ini dapat menyebabkan timbulnya sikap agresif. Konflik dengan teman sebaya dapat terjadi dan akibatnya anak mungkin mengalami penolakan. Penolakan ini dapat memiliki dampak yang serius terhadap perkembangan sosial mereka, karena jika perkembangan sosial kurang baik, anak tidak akan memiliki pengalaman sosial yang memadai dan kesempatan untuk belajar berperilaku secara sosial akan terbatas.
Peran Guru dalam Membangun Lingkungan Suportif
Menunjukkan Empati dan Kepedulian Guru yang peduli dan memahami kondisi emosional siswa dapat membangun hubungan yang positif. Ketika siswa merasa dimengerti, mereka akan lebih terbuka, nyaman, dan percaya kepada guru. Ini adalah pondasi utama dalam membangun iklim kelas yang suportif.
Menjadi Teladan dalam Pengendalian Emosi Guru harus mampu mengelola emosi diri sendiri, karena anak akan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Ketika guru menunjukkan sikap tenang, sabar, dan terbuka, anak-anak akan belajar melakukan hal yang sama.
Tantangan dan Solusi
Beberapa guru mungkin merasa kesulitan dalam memahami kondisi psikologis siswa karena keterbatasan waktu atau kurangnya pelatihan. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan untuk memberikan pelatihan psikologi dasar bagi guru. Selain itu, kolaborasi antara guru, orang tua, dan tenaga ahli seperti psikolog sekolah harus terus ditingkatkan.
Kesimpulan
Peran guru sangat vital dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif secara emosional di SD. Guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai figur yang membimbing dan mendampingi perkembangan emosi siswa. Dengan menciptakan suasana kelas yang aman dan hangat, proses belajar akan menjadi lebih bermakna dan menyenangkan bagi anak-anak.
Daftar Pustaka
Erikson, E. H. (1993). Childhood and Society (2nd ed.). W. W. Norton & Company.
Hurlock, E. B. (2002). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Kelima). Erlangga.
Santrock, J. W. (2011). Psikologi Pendidikan (Edisi Kedua). Salemba Humanika.
Sujiono, Yuliani Nurani. (2010). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Indeks.
Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2012). Human Development (12th ed.). McGraw-Hill.
Yusuf, S. (2011). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Remaja Rosdakarya.