MASALAH KONSENTRASI DAN MOTIVASI BELAJAR
Penulis: Dela Meliyana
Pendahuluan
Bayangkan seorang siswa duduk di depan meja belajarnya. Di depannya terbuka buku pelajaran, namun pikirannya entah kemana. Waktu berjalan, namun tidak ada satu pun informasi yang benar-benar masuk. Ini bukan karena ia malas, tapi karena dua hal penting: konsentrasi dan motivasi belajar yang rendah.
Masalah ini tidak hanya dialami oleh satu dua orang. Banyak pelajar, dari SD hingga perguruan tinggi, menghadapi tantangan yang sama. Padahal, tanpa dua aspek ini, proses belajar akan seperti berjalan tanpa arah. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami apa itu konsentrasi dan motivasi belajar, serta bagaimana cara meningkatkannya. Pernahkah kamu merasa belajar berjam-jam tapi tak satu pun yang benar-benar kamu ingat? Jika ya, bisa jadi bukan cara belajarmu yang salah, tapi fokus dan semangatmu yang menurun.
Isi
Konsentrasi adalah kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian pada satu aktivitas dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks belajar, konsentrasi memungkinkan siswa memahami pelajaran tanpa mudah teralihkan. Sayangnya, gangguan terhadap konsentrasi semakin tinggi di era digital. Menurut Rosen et al. (2013), siswa zaman sekarang hanya bisa fokus selama rata-rata 3–5 menit sebelum terganggu oleh notifikasi HP atau pikiran lain. Apakah kamu termasuk yang sulit belajar tanpa melihat ponsel? Jika iya, kamu tidak sendiri.
Faktor lain yang memengaruhi turunnya konsentrasi antara lain: lingkungan belajar yang bising, kurang tidur, terlalu banyak tugas, dan kondisi mental seperti stres. Tanpa konsentrasi, seberapa pun lamanya seseorang belajar, hasilnya tidak maksimal. Maka penting untuk menciptakan suasana belajar yang mendukung fokus.
Kalau konsentrasi adalah mesin, maka motivasi adalah bahan bakarnya. Tanpa motivasi, belajar akan terasa sebagai beban. Ryan & Deci (2000) membagi motivasi menjadi dua: intrinsik (dari dalam diri) dan ekstrinsik (dari luar). Motivasi intrinsik timbul karena rasa ingin tahu atau minat, sementara motivasi ekstrinsik muncul karena nilai, pujian, atau tekanan. Coba tanyakan pada dirimu: kamu belajar karena ingin tahu atau karena takut nilai jelek? Jawabanmu menentukan kualitas belajar yang kamu jalani.
Observasi di sebuah SMA di Yogyakarta pada tahun 2023 menunjukkan bahwa siswa yang memiliki minat terhadap pelajaran tertentu menunjukkan semangat belajar yang lebih tinggi. Mereka tidak belajar hanya karena ada ujian, tetapi karena memang tertarik. Ini menunjukkan bahwa motivasi sejati lahir dari minat dan rasa ingin tahu.
Sayangnya, banyak guru dan orang tua terlalu fokus pada nilai. Ketika nilai siswa turun, yang ditanyakan adalah: “Kok bisa jelek?”, bukan “Apa yang membuat kamu kesulitan fokus?” atau “Apakah kamu merasa senang saat belajar?” Padahal, proses jauh lebih penting dari hasil. Seperti kata Howard Gardner, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Bagaimana mungkin kita menyamaratakan cara belajarnya?
Teknologi juga memainkan peran ganda. Di satu sisi membantu proses belajar, namun di sisi lain bisa menjadi gangguan besar. Menurut Anderson (2014), setelah terdistraksi, otak manusia butuh waktu sekitar 23 menit untuk kembali fokus. Jadi, jika dalam satu jam belajar kamu beberapa kali membuka notifikasi, berapa menit waktu efektifmu?
Untuk meningkatkan konsentrasi, beberapa strategi yang bisa digunakan adalah teknik Pomodoro (belajar 25 menit, istirahat 5 menit), menghindari distraksi digital, dan menciptakan ruang belajar yang nyaman. Tidur yang cukup juga sangat penting. Pernahkah kamu mencoba belajar setelah tidur malam hanya 3 jam? Apa yang terjadi?
Motivasi bisa dibentuk melalui tujuan pribadi. Misalnya, belajar agar bisa membuat game sendiri, bukan hanya demi nilai. Reward kecil untuk setiap pencapaian, seperti waktu istirahat atau makanan favorit, juga dapat membantu. Libatkan diri dalam menentukan metode belajar agar kamu merasa lebih bertanggung jawab terhadap prosesmu.
Selain itu, peran guru dan keluarga sangat penting dalam membentuk budaya belajar yang sehat. Sekolah bukan hanya tempat menyampaikan materi, tapi juga ruang untuk membantu siswa mengenal dirinya. Sudahkah gurumu membantumu menemukan cara belajar terbaikmu? Atau kamu masih harus belajar dengan cara yang sama seperti teman-temanmu?
Untuk itu, penting bagi sekolah dan guru untuk melakukan asesmen awal terhadap gaya belajar siswa. Dengan mengetahui apakah seorang siswa lebih dominan visual, auditori, atau kinestetik, pendekatan pengajaran dapat disesuaikan. Hal ini tidak hanya membantu meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam proses belajar.
Sebagai contoh, dalam salah satu eksperimen pembelajaran di sekolah menengah di Jakarta, guru IPA menggunakan media video eksperimen bagi siswa visual, diskusi kelompok untuk siswa auditori, dan praktik langsung untuk siswa kinestetik. Hasilnya, lebih dari 80% siswa menunjukkan peningkatan partisipasi dan hasil belajar.
Namun kita juga harus jujur bahwa tidak semua siswa memiliki lingkungan belajar yang mendukung. Beberapa siswa belajar di rumah yang bising, tidak memiliki meja belajar yang layak, atau harus berbagi waktu belajar dengan membantu orang tua. Dalam kasus seperti ini, motivasi belajar bisa turun drastis meskipun kemauan belajar tetap ada.
Maka dari itu, dukungan sosial sangat penting. Sekolah bisa menyediakan ruang belajar yang kondusif di perpustakaan atau ruang terbuka yang nyaman. Orang tua juga perlu diberikan edukasi bahwa menciptakan lingkungan belajar yang positif di rumah akan sangat berpengaruh terhadap prestasi anak. Apakah kamu merasa tempat belajarmu di rumah sudah cukup nyaman? Jika tidak, apa yang bisa kamu ubah atau diskusikan dengan keluargamu?
Selain itu, penting juga bagi siswa untuk memiliki waktu istirahat dan relaksasi yang cukup. Belajar terus-menerus tanpa jeda bukanlah cara yang efektif. Bahkan, otak manusia membutuhkan waktu untuk memproses dan menyimpan informasi. Keseimbangan antara belajar dan beristirahat merupakan bagian dari manajemen belajar yang sehat.
Penutup
Akhirnya, membangun motivasi dan konsentrasi tidak bisa dilakukan hanya dalam satu malam. Butuh kebiasaan yang dibentuk terus-menerus, dengan bantuan lingkungan yang mendukung. Proses ini mungkin tidak mudah, tapi sangat mungkin dilakukan jika ada niat dan kesadaran dari dalam diri sendiri. Jadi, pertanyaannya sekarang: apakah kamu sudah siap membentuk kebiasaan belajar yang lebih baik mulai hari ini?
Belajar bukan hanya tentang nilai, tetapi tentang bagaimana menjadi pribadi yang berpikir kritis dan mampu menghadapi tantangan. Konsentrasi dan motivasi adalah dua kunci yang harus dilatih dan dijaga. Tidak bisa instan, tapi bisa dibentuk.
Belajar bukan sekadar kewajiban, tapi proses menemukan makna. Dan agar proses itu bermakna, dibutuhkan arah (konsentrasi) dan bahan bakar (motivasi). Pertanyaannya sekarang: sudahkah kamu punya keduanya dalam perjalanan belajarmu?
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, J. R. (2014). Cognitive Psychology and Its Implications (8th ed.). Worth Publishers.
Gardner, H. (1993). Multiple Intelligences: The Theory in Practice. Basic Books.
Muhibbin Syah. (2011). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya.
Rosen, L. D., Lim, A. F., Carrier, L. M., & Cheever, N. A. (2013). An Empirical Examination of the Educational Impact of Text Message-Induced Task Switching in the Classroom: Educational Implications and Strategies. Computers in Human Behavior, 29(3), 948–958.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Intrinsic and Extrinsic Motivations: Classic Definitions and New Directions. Contemporary Educational Psychology, 25(1), 54–67.
UNESCO. (2020). Education in a post-COVID world: Nine ideas for public action. UNESCO Publishing.