-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Meninjau Ulang Kurikulum Sekolah Dasar: Menggeser Fokus dari Kuantitas Menuju Kualitas Pembelajaran

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-07T00:37:17Z

Meninjau Ulang Kurikulum Sekolah Dasar: Menggeser Fokus dari Kuantitas Menuju Kualitas Pembelajaran

Oleh: Zanuar Bayu Permana

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa







Pendahuluan

Kurikulum sekolah dasar (SD) memiliki peran strategis dalam sistem pendidikan nasional. Sebagai pijakan awal dalam jenjang pendidikan formal, kurikulum SD seharusnya dirancang untuk membentuk karakter, membangun keterampilan berpikir, dan menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan. Namun, kenyataannya di Indonesia, kurikulum yang diterapkan kerap kali belum sepenuhnya menjawab kebutuhan perkembangan anak maupun tantangan zaman. Isu mengenai beban belajar yang terlalu berat, kurangnya kontekstualisasi pembelajaran, serta kurangnya pelatihan guru dalam implementasi kurikulum baru menjadi sorotan penting yang menuntut perhatian serius dari semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan.


Isi

Untuk memahami secara lebih menyeluruh permasalahan dalam implementasi kurikulum sekolah dasar di Indonesia, penting bagi kita untuk menelaah berbagai aspek fundamental yang selama ini menjadi hambatan dalam mewujudkan pendidikan yang bermakna. Kurikulum yang seharusnya menjadi panduan dalam menumbuhkan karakter, kecakapan berpikir, serta keterampilan hidup justru kerap kali menjadi alat penekan yang menuntut capaian akademik semata.Alih-alih memfasilitasi proses belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, banyak praktik pembelajaran di lapangan justru didominasi oleh kegiatan hafalan, ujian, dan beban materi yang berlebihan. Ketimpangan antara idealisme kurikulum dan pelaksanaannya menunjukkan adanya masalah struktural dan kultural dalam sistem pendidikan kita.

Berikut ini adalah beberapa isu utama yang menunjukkan bahwa kurikulum sekolah dasar di Indonesia masih lebih menekankan kuantitas materi yang diajarkan, dibandingkan dengan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang bermakna:


  1. Beban Materi dan Tekanan Akademik Sejak Dini

Banyak siswa sekolah dasar di Indonesia yang mengalami tekanan belajar yang tidak proporsional dengan tahap perkembangan mereka. Pada usia 7–12 tahun, anak-anak sebenarnya sedang berada dalam masa eksplorasi dan membentuk rasa ingin tahu yang alami. Namun dalam praktiknya, anak-anak justru dihadapkan pada tumpukan materi pelajaran, tuntutan ujian, dan tugas-tugas yang bersifat akademik semata. Beberapa riset mengungkapkan bahwa beban kurikulum yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental, motivasi belajar, bahkan perkembangan sosial. Proses belajar pun lebih cenderung bersifat pasif, dengan dominasi ceramah dan hafalan, ketimbang partisipatif dan berbasis pengalaman langsung.

  1. Kurikulum yang Tidak Kontekstual dan Minim Keterkaitan dengan Dunia Nyata

Kurikulum SD di Indonesia juga dinilai kurang memberi ruang pada pengalaman lokal, budaya sekitar, dan kehidupan sehari-hari siswa. Materi pelajaran seringkali bersifat nasional dan seragam, tanpa mempertimbangkan konteks sosial budaya masing-masing daerah. Hal ini menjadikan pembelajaran terasa jauh dan tidak relevan dengan kehidupan anak. Padahal, menurut pendekatan pendidikan kontekstual (contextual teaching and learning), peserta didik akan lebih mudah memahami konsep jika materi dikaitkan dengan pengalaman nyata dan lingkungan mereka. Kurikulum yang terputus dari kehidupan nyata hanya akan menghasilkan pengetahuan dangkal, bukan pemahaman yang bermakna.

  1. Kurikulum Merdeka: Harapan Baru yang Perlu Dioptimalkan

Sebagai respons terhadap berbagai kritik, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan fleksibilitas, diferensiasi pembelajaran, serta penguatan karakter dan kompetensi. Kurikulum Merdeka menawarkan sejumlah kelebihan, seperti:

Proyek penguatan profil pelajar Pancasila yang menekankan nilai-nilai gotong royong, keberagaman, dan berpikir kritis.

Pengurangan beban konten materi dan peningkatan kegiatan eksploratif dan kreatif.

Kebebasan guru dalam merancang pembelajaran sesuai kebutuhan siswa dan konteks lokal. Namun, implementasi kurikulum ini masih menghadapi kendala, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur, tenaga pendidik, dan akses pelatihan. Banyak guru yang masih bingung dalam mengubah pendekatan pembelajaran konvensional menjadi lebih berpusat pada siswa. Belum lagi tantangan dalam penilaian formatif yang lebih menekankan proses ketimbang hasil akhir.


Solusi: Reformasi Kurikulum yang Inklusif dan Holistik

Reformasi kurikulum SD tidak cukup hanya mengganti nama atau dokumen kurikulum. Diperlukan perubahan yang lebih menyeluruh, termasuk:

1. Reorientasi Tujuan Kurikulum

Pendidikan dasar harus difokuskan pada pengembangan karakter, kemampuan berpikir kritis, literasi dasar, serta kebiasaan belajar mandiri.

2. Pelibatan Guru dan Komunitas Sekolah dalam Perumusan Kurikulum Kontekstual

Guru perlu dilibatkan secara aktif dalam pengembangan kurikulum sekolah agar materi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan dan realitas siswa.

3. Pelatihan Guru yang Berkelanjutan dan Berbasis Praktik

Kurikulum yang baik akan sia-sia tanpa guru yang memahami dan mampu mengimplementasikannya. Pelatihan tidak boleh bersifat sekali jadi, melainkan harus berkelanjutan dan kontekstual.

4. Evaluasi Pembelajaran yang Humanistik

Penilaian harus berorientasi pada proses belajar dan perkembangan karakter, bukan semata-mata angka. Penekanan harus bergeser dari “hasil belajar” menjadi “proses belajar”.

5. Pemanfaatan Teknologi Secara Bijak

Teknologi harus digunakan untuk memperkuat pembelajaran aktif, bukan menggantikan interaksi antara guru dan siswa.


Penutup

Kurikulum sekolah dasar adalah fondasi dari masa depan pendidikan bangsa. Jika fondasinya kokoh, maka pendidikan ke jenjang lebih tinggi akan lebih mudah dibangun. Namun jika sejak awal anak-anak sudah terbebani, kehilangan minat belajar, dan tidak melihat makna dari apa yang mereka pelajari, maka kita gagal memenuhi tujuan pendidikan nasional. Kurikulum yang ideal bukanlah yang paling lengkap isinya, tetapi yang paling bermakna dan relevan bagi peserta didik. Maka, saatnya kita beralih dari paradigma “mengajar untuk mengejar nilai” menjadi “mendidik untuk membangun manusia seutuhnya”. Karena sejatinya, pendidikan yang memerdekakan dimulai dari kurikulum yang berpihak pada anak.


Daftar Pustaka

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Piaget, J. (1952). The origins of intelligence in children. New York: International Universities Press.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Supriatna, N. (2021). Kurikulum dan kontekstualisasi pendidikan di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, 12(1), 45–56. 


×
Berita Terbaru Update