Menumbuhkan Kesejahteraan Psikologis Anak SD: Tanggung Jawab Emosional Anak dalam Lingkungan Belajar
Meitsa Dinartiwi Utami
PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Abstrak
Pendahuluan
Pendidikan dasar bukan hanya tentang kemampuan kognitif semata, tetapi juga tentang bagaimana anak merasa aman, diterima, dan didukung secara emosional. Banyak anak di sekolah dasar yang datang dengan latar belakang berbeda: ada yang ceria dan terbuka, ada pula yang pendiam karena tekanan keluarga, bahkan ada yang mengalami trauma atau kesulitan beradaptasi sosial. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan mendasar muncul: sudahkah kita memperhatikan kesejahteraan psikologis mereka di sekolah?
Sebagai pendidik, kita bukan hanya pengajar materi, tapi juga fasilitator tumbuh kembang anak secara utuh—termasuk aspek emosionalnya.
Kesejahteraan Psikologis Anak: Pondasi yang Sering Terlupakan
Menurut teori kebutuhan dasar Abraham Maslow, rasa aman dan rasa memiliki adalah kebutuhan psikologis yang harus terpenuhi sebelum anak bisa belajar secara optimal. Jika anak merasa takut, cemas, atau terasing di lingkungan sekolah, maka kemampuannya untuk berkonsentrasi dan menyerap pelajaran akan terganggu.
Sayangnya, kesejahteraan psikologis ini sering kali luput dari perhatian. Fokus pendidikan masih terpusat pada capaian akademik, ujian, dan peringkat kelas. Sementara itu, anak yang menangis diam-diam karena dibully, anak yang takut salah menjawab karena pernah dimarahi guru, atau anak yang tak mampu fokus karena konflik orang tua di rumah—semua itu terabaikan.
Peran Emosional Guru dalam Lingkungan Belajar
Guru SD bukan hanya pengantar kurikulum, melainkan juga tokoh penting dalam kehidupan anak. Anak SD berada dalam fase perkembangan sosial-emosional yang sensitif, sebagaimana dijelaskan Erik Erikson dalam tahap “Industry vs. Inferiority” (usia 6–12 tahun). Mereka sangat membutuhkan pengakuan, dorongan, dan dukungan dari lingkungan—terutama guru.
Guru yang mampu menciptakan suasana kelas yang aman secara emosional akan menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar anak. Sebaliknya, guru yang sering membandingkan, memarahi tanpa pemahaman, atau mengabaikan perasaan siswa justru dapat menanamkan perasaan rendah diri yang berlarut-larut.
Kasus Nyata: Luka Emosional dari Siswa yang Abai
Saya pernah mengamati seorang siswa kelas 2 SD, sebut saja Raka, yang tiba-tiba menjadi pemurung dan enggan menjawab pertanyaan di kelas. Setelah beberapa minggu diamati, ternyata Raka pernah ditegur keras oleh gurunya karena salah membaca. Sejak saat itu, ia merasa takut bicara dan berpikir dirinya “bodoh.” Situasi ini bukan hanya memperlambat perkembangan akademiknya, tetapi juga merusak kepercayaan dirinya.
Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi. Seorang anak yang sedang belajar semestinya diberi ruang untuk keliru, lalu dibimbing dengan empati.
Membangun Lingkungan yang Suportif: Langkah Nyata Guru
Sebagai pendidik, ada beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan untuk menjaga kesejahteraan psikologis siswa SD:
1. Menciptakan hubungan yang hangat dan terbuka.
Guru harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berbagi, tanpa takut dihakimi atau direndahkan. Kehadiran guru yang menyapa dengan tulus, mendengarkan dengan perhatian, dan memberi pujian sederhana sangat berpengaruh terhadap rasa nyaman anak.
2. Mengelola kelas dengan pendekatan positif.
Daripada menghukum keras, guru dapat menggunakan pendekatan reflektif dan dialogis ketika terjadi masalah. Misalnya, menanyakan alasan anak berperilaku negatif, lalu mengajaknya berpikir solusi bersama.
3. Mengintegrasikan aktivitas sosial-emosional dalam pembelajaran.
Guru dapat menyisipkan kegiatan seperti menulis jurnal perasaan, bermain peran, atau diskusi kelompok kecil tentang bagaimana mengelola emosi. Ini membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosinya dengan sehat.
4. Bekerja sama dengan orang tua dan konselor.
Guru tidak bekerja sendiri. Kolaborasi dengan orang tua dan konselor sekolah dapat membantu menangani anak-anak yang memiliki masalah psikologis lebih serius, seperti kecemasan, trauma, atau gangguan perilaku.
Refleksi dan Tantangan ke depan
Mendorong kesejahteraan psikologis di sekolah dasar bukan hal yang instan. Butuh kesadaran kolektif dan perubahan paradigma. Guru pun perlu didukung dengan pelatihan psikologi dasar, bukan hanya metodologi mengajar. Sekolah juga harus menyediakan ruang konseling yang aktif dan sistem pelaporan yang melindungi anak dari kekerasan verbal maupun emosional.
Tantangan lainnya adalah beban administratif dan target kurikulum yang sering membuat guru “terburu-buru.” Akibatnya, perhatian pada sisi emosional anak menjadi hal yang dianggap sekunder. Di sinilah pentingnya keberpihakan kebijakan pendidikan yang menempatkan anak sebagai subjek, bukan objek sistem.
Penutup: Sekolah Harus Jadi Tempat Aman Emosional Anak
Anak-anak SD bukan miniatur orang dewasa. Mereka unik, rapuh, dan sedang membentuk fondasi kepribadiannya. Dalam setiap interaksi, guru punya kesempatan untuk menyembuhkan luka atau justru menambah beban. Maka, membangun lingkungan belajar yang suportif secara emosional bukan hanya tugas tambahan, tapi inti dari profesi guru itu sendiri.
Sudah saatnya kita melihat anak-anak bukan hanya dari nilai ujian, tetapi dari ekspresi matanya, gestur tubuhnya, dan suara kecilnya yang kadang ingin didengar. Di sanalah pendidikan yang sejati dimulai.
Daftar Pustaka
Erikson, E. H. (1994). Identity and the Life Cycle. W. W. Norton & Company.
Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396.
Slavin, R. E. (2012). Educational Psychology: Theory and Practice (10th ed.). Pearson.
Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology (5th ed.). McGraw-Hill.
Kompas.com. (2023). Kesehatan Mental Anak Sekolah dan Peran Guru. Diakses dari https://www.kompas.com/