PERAN TEMAN SEBAYA DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI ANAK SEKOLAH DASAR
Linda Rahmadani
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
PENDAHULUAN
Masa kanak-kanak merupakan fase awal yang krusial dalam proses pembentukan identitas diri individu. Pada tahap ini, anak tidak hanya mengalami perkembangan secara fisik dan kognitif, tetapi juga mulai membangun kesadaran akan siapa dirinya, bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain, serta bagaimana ia harus bertindak dalam lingkungan sosial. Dalam konteks pendidikan dasar, anak-anak mulai memasuki dunia sosial yang lebih luas di luar keluarga — yakni dunia sekolah — yang mempertemukan mereka dengan guru, teman sebaya, dan berbagai norma serta nilai baru yang belum tentu sama dengan nilai-nilai yang diajarkan di rumah.
Salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh dalam pembentukan identitas diri anak sekolah dasar adalah keberadaan teman sebaya. Teman sebaya bukan hanya sekadar rekan bermain atau belajar, tetapi juga menjadi kelompok sosial yang memberi anak pengalaman dalam mengenal dirinya melalui interaksi dan umpan balik sosial. Di sinilah anak mulai belajar bagaimana menjadi bagian dari kelompok, memahami aturan tidak tertulis dalam hubungan sosial, serta mengevaluasi diri berdasarkan penerimaan atau penolakan dari lingkungan teman sebaya.
Perkembangan psikososial anak dalam masa sekolah dasar mengalami kemajuan yang pesat. Menurut teori perkembangan Erik Erikson, tahap ini disebut sebagai fase "industry vs. inferiority" di mana anak mulai mengembangkan rasa kompetensi dan harga diri melalui pengalaman sosial, khususnya melalui pencapaian di sekolah dan hubungan dengan teman sebaya. Ketika anak berhasil merasa dihargai dan diterima dalam lingkup sosialnya, ia akan lebih mudah membentuk identitas diri yang positif. Sebaliknya, ketika anak mengalami penolakan sosial atau kesulitan berinteraksi, ia bisa tumbuh dengan perasaan rendah diri dan kebingungan identitas.
Teman sebaya juga berperan sebagai cermin sosial yang membantu anak memahami peran dan identitas sosialnya. Anak belajar menilai apakah perilaku atau pemikirannya dapat diterima oleh kelompok, dan mulai menyesuaikan diri atau bahkan mengadopsi nilai dan kebiasaan kelompok demi merasa diterima. Proses ini merupakan bagian alami dari sosialisasi yang mendukung pembentukan identitas diri. Interaksi sosial dengan teman sebaya juga dapat memperkuat aspek-aspek tertentu dari kepribadian anak, seperti empati, kepemimpinan, kerja sama, dan rasa tanggung jawab.
Namun demikian, tidak semua pengaruh dari teman sebaya bersifat positif. Dalam beberapa kasus, tekanan kelompok (peer pressure) dapat membuat anak merasa terdorong mengikuti perilaku yang bertentangan dengan nilai moral atau aturan yang diajarkan di rumah dan sekolah. Oleh karena itu, peran teman sebaya dalam pembentukan identitas tidak hanya harus dikenali, tetapi juga perlu dibimbing oleh peran orang dewasa seperti guru dan orang tua agar anak tidak terjerumus dalam krisis identitas.
Dengan memahami betapa pentingnya teman sebaya dalam proses perkembangan identitas diri anak sekolah dasar, artikel ini bertujuan untuk mengulas secara lebih mendalam bagaimana interaksi sosial anak di lingkungan sekolah — khususnya dengan rekan sebaya — memengaruhi arah pembentukan identitas diri mereka. Fokus artikel akan membahas peran positif dan negatif teman sebaya, faktor-faktor yang memengaruhi interaksi tersebut, serta implikasi bagi dunia pendidikan dan peran pendidik dalam mengarahkan pembentukan identitas anak yang sehat dan konstruktif.
PEMBAHASAN
Identitas diri adalah konsep tentang siapa diri kita, yang dibentuk melalui interaksi sosial, pengalaman pribadi, dan refleksi diri. Pada anak usia sekolah dasar (sekitar usia 6–12 tahun), tahap perkembangan kognitif menurut Piaget telah memasuki tahap operasional konkret, di mana anak mulai memahami dunia melalui logika konkret dan mampu melihat sudut pandang orang lain. Di sinilah interaksi sosial dengan teman sebaya menjadi sangat penting.
Menurut Elisabeth dkk. (2024), anak-anak pada usia sekolah dasar mengalami perkembangan pesat dalam aspek sosial-emosional. Mereka mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan di luar keluarga, memahami norma sosial, dan menunjukkan preferensi pribadi dalam aktivitas sehari-hari. Perkembangan sosial ini melibatkan pembelajaran tentang kerja sama, empati, dan tanggung jawab dalam kelompok — semua hal ini terbentuk dalam interaksi dengan teman sebaya.
Fauziah dan Rusli (2013) menambahkan bahwa kemampuan sosial anak tidak muncul begitu saja, melainkan diperoleh melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan teman-temannya. Teman sebaya memberikan ruang eksplorasi bagi anak untuk mencoba berbagai peran sosial, membentuk opini sendiri, serta belajar menyampaikan dan menerima kritik. Bahkan, dalam konteks kelompok sebaya, anak mulai belajar tentang konformitas, yaitu kecenderungan untuk mengikuti nilai dan kebiasaan kelompok, yang dapat membentuk identitas kolektif mereka.
Lebih lanjut, kelompok sebaya juga memberikan cerminan sosial bagi anak. Dalam pergaulan, anak dapat mengamati bagaimana perilaku tertentu diterima atau ditolak oleh kelompok. Jika anak diterima, ia akan menginternalisasi perilaku tersebut sebagai bagian dari dirinya. Sebaliknya, jika ditolak, anak bisa merasa terasing dan mengalami krisis identitas. Oleh karena itu, kualitas interaksi dengan teman sebaya sangat menentukan arah perkembangan identitas diri anak.
Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi serta memfasilitasi hubungan sosial anak dengan teman sebayanya. Dalam konteks sekolah, guru dapat membentuk aktivitas kelompok yang sehat dan inklusif, seperti kerja kelompok, permainan edukatif, dan diskusi terbimbing. Aktivitas semacam ini memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri, belajar dari perbedaan, dan membangun kepercayaan diri dalam kelompok. Sementara itu, orang tua dapat membantu anak merefleksikan pengalamannya bersama teman sebaya dan memberikan bimbingan bila anak menghadapi konflik sosial.
Namun, perlu juga diwaspadai bahwa pengaruh negatif dari teman sebaya bisa merusak proses pembentukan identitas diri yang sehat. Misalnya, jika anak terlibat dalam kelompok yang mendorong perilaku menyimpang, ia bisa terdorong untuk mengadopsi identitas yang tidak sesuai dengan nilai moral atau norma yang berlaku. Oleh karena itu, pendampingan sosial dan emosional dari lingkungan dewasa tetap penting.
Menurut Mamin Suparmin (2010), penting bagi guru untuk memahami psikologi perkembangan peserta didik. Anak-anak tidak hanya berbeda secara fisik, tetapi juga secara kepribadian dan sosial. Memahami perbedaan ini memungkinkan guru memberikan pendekatan pembelajaran dan bimbingan yang sesuai dengan karakter masing-masing anak, sehingga identitas diri yang terbentuk menjadi otentik dan positif.
PENUTUP
Peran teman sebaya dalam pembentukan identitas diri anak sekolah dasar tidak dapat diabaikan. Interaksi sosial yang intens di masa ini menjadi laboratorium alami tempat anak belajar mengenal dirinya dan dunia sosialnya. Oleh karena itu, penting bagi para pendidik dan orang tua untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat, suportif, dan inklusif agar proses pembentukan identitas berlangsung positif dan membangun karakter anak yang mandiri, percaya diri, serta mampu bersosialisasi secara sehat.
Mengingat besarnya pengaruh teman sebaya, maka pembinaan karakter melalui pendidikan formal dan informal harus menyertakan aspek sosial ini dalam perencanaan kurikulum, aktivitas pembelajaran, serta pola asuh di rumah. Anak yang mampu membentuk identitas diri yang kuat sejak dini akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan siap menghadapi tantangan sosial di masa depan.
REFERENSI
Elisabeth Ellena Christy Ejunea dkk. (2024). Perkembangan Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Sosial dan Konseling, Vol. 2 No. 3, 1030–1033.
Fauziah, R.S.P. & Rusli, R.K. (2013). Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik Secara Sosial. Jurnal Sosial Humaniora, Vol. 4 No. 2, 101–107.
Suparmin, Mamin. (2010). Makna Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Jurnal Ilmiah SPIRIT, Vol. 10 No. 2.