PENGARUH GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSIONAL PADA ANAK
Niha Salsabila
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
PENDAHULUAN
Semakin bertambah dan bertukarnya tahun ke tahun maka semakin banyak juga hal yang sudah kita lewati ini mengakibatkan pula semakin banyak dan juga berkembang teknologi yang ada di masyarakat. Dengan berkembangnya teknologi ini membuat kita tidak perlu lagi kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus bertemu, juga dalam mencari informasi tentang sesuatu kita dapat dengan cepat dan mudah sudah bisa mendapatkan informasi yang kita mau sekalipun dari negara lain. Hanya dengan menggunakan gadget atau gawai saja kita sudah dapat mempermudah mencari dan mendapatkan sesuatu. Dalam penggunaannya, gadget ini tidak hanya digunakan oleh orang dewasa saja tetapi anak kecilpun sudah bisa menggunakan gadget. Biasanya, anak kecil ini tidak perlu diajari oleh orangtuanya untuk dapat mengoprasionalkan gadget ini, tetapi anak cenderung selalu melihat dan mengamati ketika orang tuanya ataupun orang dewasa lainnya ketika mengoprasionalkan gadget ini. Sehingga, tanpa dituntunpun sang anak sudah bisa menjalankannya dengan sendirinya. Namun, ketika penggunaan gadget secara berlebihan menjadikan seseorang tidak terkendali dan ketergantungan yang berlebihan, dan akan menimbulkan kecenderungan negatif bagi kehidupannya, termasuk pada anak-anak. Penggunaan gadget yang berlebihan, lama-kelamaan akan membuat anak menjadi kurang peduli dengan lingkungan di sekitarnya, menjadi lebih malas dalam melakukan aktivitas, menjadi kurang konsentrasi karena hanya terlalu fokus dengan gadget yang ada di tangannya (Chusna, 2017). Sebagaimana istilah yang sering digunakan orang masa sekarang, “Gadget mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. Hal ini terjadi ketika seseorang anak sedang asyik main gadget, maka akan lupa waktu yang telah menjadi konsep dalam hidupnya.
Menurut Yohana Yembise mengatakan bahwa para orang tua harus mengontrol anak mereka yang sudah bermain gadget. Sebab, dari memegang gadget seperti handphone (HP) maupun tablet, anak bisa mendapatkan berbagai informasi yang belum tersaring dengan baik. Peran orang tua yang dulunya sebagai teman bermain bagi anaknya sekarang telah digantikan oleh gadget. Padahal masa anak-anak adalah masa dimana tumbuh dan berkembangnya fisik maupun psikis manusia. Dimasa ini anak harus banyak bergerak agar tumbuh kembang anak optimal. Apabila dimasa ini anak-anak hanya asyik berada didepan gadgetnya, kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan anak akan kurang optimal baik itu fisik maupun psikis. Mereka akan menjadi pribadi yang tidak sabar dan cepat marah serta sulit mengendalikan emosi, bahkan tidak dapat mengatur emosinya. Mungkin ada yang beranggapan bahwa memberikan gadget selain untuk mendiamkan anak juga agar anak dapat bermain games yang dapat melatih Problem Solving anak. Sebaiknya Problem Solving tidak dari hal tersebut karena kreatifitas anak akan terpaku pada teknologi dikemudian hari. Problem Solving bisa diajarkan dengan bahasa, sentuhan, dan sikap yang orang tua tanamkan kepada mereka dan tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berulang kali agar terbiasa untuk menangani hal-hal yang datang dari luar.
KAJIAN TEORI
Gadget
Gadget atau gawai menurut pendapat Widiawati (dalam Novitasari, 2019) merupakan sebuah perangkat atau media elektronik yang memiliki tujuan sebagai perangkat praktis yang dapat memudahkan kegiatan maupun aktivitas manusia yang dimana gadget atau gawai ini sebagai perangkat elektronik yang memiliki ukuran yang kecil namun memiliki fungsi khusus. Adapun yang dinamakan gawai atau gadget ini seperti misalnya, smartphone.
Sedangkan menurut Fathoni, 2017 (dalam Syifa, Setianingsih & Sulianto, 2019) ia menyatakan bahwa gadget atau gawai ini adalah sebuah teknologi yang terkenal dan banyak diminati tidak hanya diminati oleh orang dewasa saja tetapi gadget ini sudah diminati oleh anak-anak, dapat dilihat bahwa anak-anak sekarang sudah banyak yang menggunakan gadget. Gadget ini menargetkan anak-anak menjadi target pasarnya sehingga ini juga mengakibatkan anak-anak menjadi pengguna gadget yang lebih aktif.
Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang berkelanjutan dan sistematis dalam diri seseorang sejak tahap konsepsi sampai meninggal. Secara sederhana (Afandi, 2019) mendefinisikan perkembangan sebagai “Long-term changes in a person’s growth, feelings, patterns of thinking, social relationships, and motor skill.” Menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI (dalam Rahmat, 2021) bahwa perkembangan merupakan segala sesuatu tentang berkembang, dimana maksud dari berkembang ini berupa meningkatnya segi kepribadian, daya pikir, ilmu atau pemahaman dan lain sebagainya.
Emosi
Menurut pendapat Retno (2013) ia berpendapat bahwa emosi ini adalah ketika seseorang menunjukan dan mengungkapkan perasaanya terhadap bentuk pengungkapan perasaan terhadap suatu peristiwa atau kejadian. Menurut pendapat Sarlito Wirawan Sarwono (dalam Sabana. A. A, 2018) ia berpendapat bahwa emosi ini merupakan aktivitas yang melibatkan perasaan seseorang yang disertai dengan warna efektif pada tingkat rendah (sempit) maupun tingkat tinggi (umum). Menurut Mulyani, 2013 (dalam Fauziyah & Maemonah, 2020) ia berpendapat bahwa emosi merupakan sebuah rasa yang dimiliki seseorang dan rasa ini bisa timbul baik dari sisi positif maupun sisi negatif. Adapun dalam pengertian yang lebih sempit emosi ini dapat dimengerti sebagai keadaan psikologis manusia.
PEMBAHASAN
Perkembangan emosional anak
Masih banyak yang belum mengetahui bahwa perkembangan emosi ini memiliki kedudukan yang sangat berguna dalam perkembangan anak, ini dikarenakan adanya perkembangan emosi ini akan yang akan mengakibatkan bagaimana prilaku anak dikemudian hari. Perkembangan emosi ini juga terjadi pada masa bayi, pada masa prasekolah, juga pada tahapan perkembangan lainnya.
Adapun bentuk komunikasi yang terjadi dalam perkembangan anak ini menjadi dalah satu faktor dari emosi. Dengan adanya emosi ini akan menjadikan sang anak memiliki kepribadian dan orientasi anak dengan lingkungan sosialnya. Faktor-faktor yang menjadi pengaruh atau dampak bagi perkembangan emosi pada anak diantaranya adalah ketika sang anak merasa merasa bahwa ia dirinya ini memilki suatu kekurangan yang akan menyebabkan sang anak menjadi rendah diri. Sehingga ketika sang anak merasa memiliki kekurangan yang dimiliki ini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosialnya. Karena, ini akan mengakibatkan anak menjadi menutup dirinya sendiri dengan lingkungan sekitar.
Dampak gadget terhadap perkembangan anak
Dampak positif
Menambah Pengetahuan
Menurut Dhani Rizki Syaputra menyimpulkan bahwa dengan menggunakan gadget yang berteknologi canggih, anak-anak dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan informasi mengenai tugas nya disekoloah.
Memperluas Jaringan Persahabatan
Gadget dapat memperluas jaringan persahabatan karena dapat dengan mudah dan cepat bergabung ke social media. Jadi, kita dapat dengan mudah untuk berbagi bersama teman kita
Melatih Kreativitas Anak
Kemajuan teknologi telah menciptakan beragam permainan yang kreatif dan menantang. Banyak anak yang termasuk kategori ADHD diuntungkan oleh permainan ini oleh karena tingkat kreativitas dan tantangan yang tinggi.
Dampak negative
Mengganggu Kesehatan
Gadget dapat mengaganggu kesehatan manusia karena efek radiasi dari teknologi sangat berbahaya bagi kesehatan manusia terutama pada anak-anak yang berusia 12 tahun kebawah. Efek radiasi yang berlebihan dapat mengakibatkan berbagai penyakit yang berbahaya.
Dapat Mengganggu Perkembangan Anak
Gadget memilki fiture-fiture yang canggih seperti, kamera, video, games dan lain-lain. Fiture itu semua dapat mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Misalnya ketika guru menerangkan pelajaran di depan salah satu siswa bermain gadget nya di belakang atau bias juga di pergunakan sebagai alat untuk hal-hal yang tidak baik.
Dapat Mempengaruhi Perilaku Anak
Menurut Ratih Ibrahim, bahwa “Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap apa yang didapatnya dari internet atau teknologi lain adalah pengetahuan yang terlengkap dan final”. Pada faktanya ada begitu banyak hal yang harus digali lewat proses pembelajaran tradisional dan internet tidak bisa menggantikan kedalaman suatu pengetahuan. Kalau tidak dicermati, maka akan ada kecenderungan bagi generasi mendatang untuk menjadi generasi yang cepat puas dan cenderung berpikir dangkal.
Pengaruh pola asuh orang tua
Secara etimologi, pola berarti bentuk, tata cara, sedangkan asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau system dalam menjaga, merawat dan mendidik. Jika ditinjau dari terminology, pola asuh anak adalah suatu pola atau system yang diterapkan dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak yang bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Karakter seorang anak dibentuk melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang utama dan pertama bagi anak adalah lingkungan keluarga. Didalam lingkungan keluarga, seorang anak akan mempelajari dasar-dasar perilaku yang penting bagi kehidupannya.
Model orang tua secara tidak langsung akan dipelajari dan ditiru oleh anak. Bila anak kita melihat kebiasaan baik orang tua maka maka dengan cepat akan mencontohnya, demikian sebaliknya bila orang tua berprilaku buruk maka akan ditiru oleh anak-anak. Di dalam berkomunikasi kepada sang anak sebaiknya tidak mengancam dan menghakimi tetapi dengan perkataan mengasihi atau member motovasi supaya sang anak mencapai keberhasilan dalam pembentukan karakter anak. pola asuh sendiri terdapat dua tipe yaitu gaya pelatihan emosi (Parental Emotional Style) dan gaya pendisiplinan, adalah sebagai berikut:
Gaya pelatihan emosi: pola asuh orang tua yang berperan membantu anak untuk menangani emosi terutama emosi negatif sebagai kesempatan untuk menciptakan keakraban tanpa kehilangan kesabaran.
Gaya pendisiplinan: menurut Diana Baumrind, seorang psikologi klinis dan perkembangan ada empat tipe pola asuh yang dapat dikembangkan dalam pengasuhan, diantaranya pola asuh demokratis, pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan pola asuh penelantaran.
DAFTAR PUSTAKA
Wulandari¹, Dwi, and Triana Lestari. "Pengaruh gadget terhadap perkembangan emosi anak." (2021).
Subarkah, Milana Abdillah. "Pengaruh gadget terhadap perkembangan anak." Rausyan Fikr: Jurnal Pemikiran Dan Pencerahan 15.1 (2019).
Annisa, Nor, et al. "Dampak gadget terhadap perkembangan anak usia dini." Jurnal Pendidikan Indonesia 3.9 (2022): 837-849.