-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENGUATKAN PSIKOLOGI DAN BIMBINGAN PESERTA DIDIK SD MELALUI PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) DEMI SUKSESKAN KURIKULUM MERDEKA

Rabu, 31 Desember 2025 | Desember 31, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-31T11:50:16Z

 MENGUATKAN PSIKOLOGI DAN BIMBINGAN PESERTA DIDIK SD  MELALUI PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG)   DEMI SUKSESKAN KURIKULUM MERDEKA


Penulis:

 LISTIYANI NUR AFIFAH 


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA

2025










Abstrak : Sekolah Dasar (SD) adalah masa penting dalam pertumbuhan akademik dan perkembangan sosial-mental anak. Kurikulum Merdeka memberikan peluang belajar yang lebih fleksibel dan berdasarkan kebutuhan anak, tetapi keberhasilannya sangat tergantung pada pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik, terutama kesehatan dan gizi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga mendukung kemampuan belajar dan kesejahteraan psikologis siswa.

MBG tidak hanya meningkatkan perhatian dan semangat belajar, tetapi juga membantu guru dalam memberikan bimbingan yang lebih tepat untuk kebutuhan emosional dan sosial anak. Aktivitas makan bersama di sekolah juga menjadi sarana pembentukan sikap dan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Oleh karena itu, MBG merupakan bagian penting dari penerapan Kurikulum Merdeka yang berlandaskan manusia dan inklusif, yang mendukung pertumbuhan peserta didik SD secara menyeluruh.

Kata Kunci : Psikologi Siswa, Bimbingan Siswa SD, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kurikulum Merdeka, Kesejahteraan Anak, Profil Pelajar Pancasila.


PEMBAHASAN

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) merupakan dasar penting dalam membentuk karakter, kemampuan akademik, dan perkembangan psikososial anak. Di masa ini, anak-anak tidak hanya belajar keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga belajar mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, serta berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, proses belajar di SD sangat tergantung pada kondisi psikologis anak yang perlu diperhatikan secara menyeluruh. Dalam konteks ini, Kurikulum Merdeka hadir sebagai inovasi yang menekankan pembelajaran fleksibel dan berpusat pada kebutuhan anak. Namun, saya berpendapat bahwa Kurikulum Merdeka tidak akan berjalan optimal jika kebutuhan dasar peserta didik, terutama kebutuhan gizi, belum terpenuhi secara baik. Di sini peran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat penting sebagai salah satu bagian utama dalam mendukung pembelajaran yang humanis dan inklusif.

Secara psikologis, anak usia SD berada pada tahap perkembangan yang sangat khusus. Menurut teori Jean Piaget, mereka sedang dalam tahap operasional konkret, di mana kemampuan berpikir logis mulai berkembang, namun masih tergantung pada pengalaman nyata dan interaksi langsung dengan lingkungan. Sementara itu, menurut Erik Erikson, anak usia ini berada pada tahap industry versus inferiority, di mana mereka membutuhkan dukungan dan pengakuan dari lingkungan untuk membangun rasa percaya diri dan kemampuan. Artinya, selain kebutuhan akademik, kebutuhan emosional dan sosial anak juga perlu dipenuhi agar mereka dapat berkembang secara optimal. Namun, aspek dasar yang sering terlupakan adalah kondisi fisik, terutama kebutuhan gizi yang sangat memengaruhi kesiapan belajar dan ketenangan emosi anak.


Anak-anak yang tidak mendapat asupan gizi yang cukup atau datang ke sekolah dalam keadaan lapar sering kali kesulitan fokus, cepat lelah, dan lebih rentan mengalami masalah emosi. Hal ini tentu mengganggu proses belajar yang membutuhkan konsentrasi, partisipasi aktif, dan keseimbangan emosi. Kurikulum Merdeka yang berfokus pada peserta didik secara tidak langsung mendorong sekolah untuk memperhatikan kesejahteraan anak secara menyeluruh, termasuk memenuhi kebutuhan dasar seperti asupan gizi. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka pembelajaran yang seharusnya inklusif dan adaptif tidak akan bisa terwujud. 

Selain itu, peran bimbingan peserta didik di Sekolah Dasar sangat penting dan tidak bisa diabaikan. Bimbingan ini tidak selalu dilakukan lewat layanan konseling resmi, tetapi lebih sering dilakukan melalui kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh guru kelas. Guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang mengamati perilaku siswa, membantu mengatasi kesulitan belajar, serta mendampingi siswa dalam mengelola perasaan mereka. Dalam Kurikulum Merdeka, peran guru semakin penting karena mereka diminta untuk memahami kepribadian dan kebutuhan setiap siswa secara individu. Dengan demikian, guru menjadi pihak pertama yang mampu mengenali faktor-faktor non-akademik yang memengaruhi proses belajar, seperti semangat belajar, minat, kondisi emosional, dan latar belakang keluarga.

Sayangnya, faktor non-akademik yang sering tidak diperhatikan adalah kondisi gizi para siswa. Padahal, asupan gizi yang cukup sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar dan kestabilan mental anak. Di sini, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimulai oleh pemerintah berperan penting. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik dengan memberikan makanan bergizi secara gratis di sekolah. Dari sudut pandang psikologi pendidikan, program ini sangat relevan dengan teori kebutuhan dasar Abraham Maslow, yang menyatakan bahwa kebutuhan fisiologis seperti makan dan minum harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang dapat memenuhi kebutuhan lebih tinggi, seperti belajar dan mengembangkan diri.

Berdasarkan observasi dan penelitian, terlihat bahwa pemenuhan gizi sangat penting dalam proses belajar. Contohnya, dari hasil penelitian Wardoyo dan Sarifah (2025) yang terbit dalam Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, ditemukan bahwa Program Makan Bergizi Gratis berdampak positif terhadap minat belajar siswa SD. Siswa yang mendapatkan asupan gizi yang baik menunjukkan semangat belajar yang lebih tinggi, lebih fokus saat mengikuti pelajaran, dan lebih aktif bertanya serta berdiskusi di kelas. Ini merupakan bukti bahwa pemenuhan kebutuhan dasar gizi berkontribusi signifikan terhadap kesiapan belajar dan perkembangan psikologis anak.

Kurikulum Merdeka berfokus pada pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan setiap siswa. Oleh karena itu, persiapan fisik dan psikologis anak sangat penting agar pembelajaran bisa berjalan dengan baik. Program MBG membantu mempersiapkan hal ini dengan mengurangi hambatan belajar yang disebabkan oleh faktor fisik seperti lapar atau lelah. Jika tubuh anak sehat dan cukup tidur, mereka lebih siap belajar secara optimal. Dari sisi bimbingan, guru juga bisa membantu siswa dengan lebih baik karena siswa lebih tenang dan kooperatif secara emosional.

Selain itu, kegiatan makan bersama di sekolah yang diatur oleh program MBG juga memiliki manfaat sosial dan pendidikan yang besar. Guru bisa menggunakan momen ini untuk membimbing siswa dalam berbagai nilai penting seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan rasa syukur. Nilai-nilai ini selaras dengan Profil Pelajar Pancasila yang menjadi dasar Kurikulum Merdeka dalam membentuk karakter siswa. Dengan demikian, MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memperkuat aspek psikososial dan karakter anak.

Selain memberi dampak pada siswa, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memengaruhi suasana belajar di sekolah secara keseluruhan. Saat kebutuhan gizi siswa terpenuhi, suasana kelas menjadi lebih nyaman karena siswa lebih tenang, tidak mudah marah, dan bisa mengikuti aturan belajar dengan lebih baik. Hal ini secara tidak langsung memudahkan para guru dalam mengelola kelas, sehingga mereka bisa berfokus lebih baik pada metode pengajaran yang kreatif dan sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. Dengan suasana belajar yang positif, hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih hangat dan menyenangkan, sehingga proses bimbingan, pembentukan sikap, serta penguatan semangat belajar bisa berlangsung lebih efektif dan terus-menerus.

Bagi sekolah dasar, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dianggap sebagai program tambahan atau bantuan sosial biasa. MBG harus menjadi bagian yang penting dalam rencana pendidikan yang membantu perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Sekolah bisa menggabungkan MBG dengan kegiatan bimbingan, pengajaran karakter, serta projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Guru juga harus terus mengamati perubahan perilaku dan semangat belajar siswa setelah MBG diterapkan. Hasil observasi ini sangat penting sebagai dasar untuk membuat pembelajaran yang lebih tepat, sesuai dengan kebutuhan psikologis dan fisik peserta didik.

Secara keseluruhan, aspek psikologi dan bimbingan peserta didik sangat penting dalam kesuksesan pendidikan di sekolah dasar. Kurikulum Merdeka mengharapkan sekolah tidak hanya memperhatikan pencapaian akademik saja, tetapi juga kesejahteraan dan pertumbuhan peserta didik secara menyeluruh. MBG adalah salah satu upaya nyata yang sangat membantu mencapai tujuan tersebut. Dengan terpenuhi kebutuhan gizi, peserta didik akan lebih siap secara psikologis untuk belajar, sehingga proses bimbingan dan pembelajaran bisa lebih efektif dan menyenangkan.

Oleh karena itu, MBG bisa dianggap bukan hanya sebagai program sosial, tetapi juga bagian penting dalam menerapkan Kurikulum Merdeka untuk menciptakan pembelajaran yang manusiawi, inklusif, dan berfokus pada pertumbuhan peserta didik SD secara keseluruhan. Saya yakin, jika semua pihak yang terkait—mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga orang tua—bekerjasama mendukung kelanjutan MBG, maka pendidikan dasar di Indonesia akan semakin baik dan mampu melahirkan generasi masa depan yang sehat, pintar, dan memiliki karakter yang kuat.


KESIMPULAN 

Pendidikan di Sekolah Dasar tidak hanya menekankan pencapaian nilai akademik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan fisik, emosional, dan sosial siswa. Kurikulum Merdeka mengedepankan cara belajar yang berpusat pada anak dan mengakui perbedaan kebutuhan belajar masing-masing siswa, sehingga kesiapan fisik dan mental siswa sangat penting dalam menunjang keberhasilan belajarnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah upaya nyata untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar siswa, yang ternyata berdampak besar pada konsentrasi, stabilitas emosi, dan semangat belajar anak.

Dengan adanya MBG, proses belajar mengajar di SD dapat lebih efektif karena siswa lebih sehat dan siap untuk berpartisipasi. Selain itu, kegiatan makan bersama juga membantu menanamkan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, seperti disiplin, rasa hormat, dan rasa syukur. Karena itu, MBG bukan hanya program bantuan tambahan, tetapi bagian yang sangat penting dalam menciptakan proses belajar yang manusiawi, inklusif, dan mengembangkan siswa secara menyeluruh. Kombinasi antara Kurikulum Merdeka, peran guru, dan pelaksanaan MBG diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan dasar serta membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki karakter yang baik.



DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022). Kurikulum Merdeka: Panduan untuk belajar dan mengevaluasi. Jakarta: Kemendikbudristek. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/

Erikson, E. H. (1963). Childhood and society. New York: W. W. Norton & Company.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek.

https://profilpelajarpancasila.kemdikbud.go.id

Maslow, A. H. (1954). Motivation and personality. New York: Harper & Row.

Piaget, J. (1970). Science of education and the psychology of the child. New York: Orion Press.

Wardoyo, A., & Sarifah, S. (2025). Pengaruh program makanan bergizi gratis terhadap minat belajar siswa sekolah dasar. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(1), 45–55.

https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas

Organisasi Kesehatan Dunia. (2020). Gizi dan prestasi belajar di sekolah. Geneva: WHO.

https://www.who.int


×
Berita Terbaru Update