-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN UNTUK PENCEGAHAN PERUNDUNGAN SISWA SEKOLAH DASAR.

Selasa, 30 Desember 2025 | Desember 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-31T07:47:09Z

PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN UNTUK PENCEGAHAN PERUNDUNGAN SISWA SEKOLAH DASAR.


Pramesti Sita Ariyani 

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa, Jl Batikan UH III/1043 Yogyakarta – 55167.

Email Penulis: pramestisita8@gmail.com 

Abstract 


Bullying is a term for acts of violence or oppression carried out by those who are stronger, both in terms of age, strength are physical bullying, verbal bullying, and mental/ psychological bullying behavior are physical bullying which can have a negative impact on victims, such as bruises, wounds, pain, fear, etc, and for the long term, namely disruption of psychological conditions and poorr social adjustment. The role of educational psychology counselors have an important role in preventing and overcoming bullying in schools, for this reason an efficient and comprehensive service is needed for all student using various skills and media that can help the performance of educational psychology, bullying elementary schools.



Abstrak 


Bullying merupakan istilah untuk tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat baik dari segi umur, kekuatan, kekuasaan kepada pihak yang lemah. Bentuk dari perilaku bullying yaitu bullying fisik, bullying verbal, dan bullying mental/ psikologis yang dapat berdampak buruk kepada korbannya, seperti lebam, luka, sakit, penakut, dan lain sebagainya, dan untuk jangka Panjang yaitu terganggunya kondisi psikologis dan penyesuaian social yang buruk. Peran psikologi pendidikan konselor memiliki peranan penting dalam mencegah dan menanggulangi bullying di sekolah, untuk itu diperlukan pelayanan yang efisien dan komprehensif kepada seluruh siswa dengan menggunakan berbagai keterampilan dan media yang dapat membantu kinerja psikologi pendidikan dalam menangani bullying.  


PENDAHULUAN 

           Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia karena pendidikan merupakan modal yang harus dimiliki dalam mengahadapi tuntutan zaman yang semakin maju, jika pendidikan suatu bangsa yang baik, maka akan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi spiritual, intelegensi dan keterampilan. Pendidikan harus memberikan pengaruh yang komprehensif dan signifikan terhadap kepribadian manusia, terutama bagi peserta didik. Sekolah sebagai lembaga Pendidikan formal merupakan faktor penentu perkembangan kepribadian peserta didik, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku. Berbagai macam permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah, salah satu masalah yang sangat penting untuk dilakukan pencegahan adalah Tindakan bullying. Bullying merupakan suatu bentuk perilaku negative yang diwujudkan dengan perlakuan secara tidak sopan dan penggunaan kekerasan atau paksaan untuk mempengaruhi orang lain yang dilakukan cara berulang atau berpotensi berulang. Fenomena bullying telah lama menjadi bagian dari dinamika sekolah, umumnya orang lebih mengenalnya dengan istilah – istilah seperti penggencetan, pemalakan, menggertak, menghina, pengucilan, intimidasi, dll. Istilah bullying sendiri memiliki makna yang lebih luas mencakup berbagai bentuk penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti orang lain sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. (Wiyani, 2014:17)

           Di lingkungan sekolah bullying harus dihindari, karena bullying dapat mengakibatkan korbannya berpikiran negative, dimana korban harus merasa dirinya lemah, tak berdaya, minder, menutup dirinya, takut untuk bersosialisasi dengan orang lain, sehingga malas untuk masuk ke sekolah. Tindakan bullying yang sering terjadi ialah seperti memanggil korban dengan sebutan nama ejekan (si gendut, jelek, pendek, dan sebagainya), kontak fisik yang berpotensi mencederai, menjadikan seorang sebagai subjek rumor mengamcam korban, dan mengambil barang – barang korban secara paksa. Apabila kejadian bullying di diamkan atau masih terjadi, maka peserta didik disekolah akan mengalami pelecehan atau tindakan kekerasan dan akibatnya secara psikologis mengalami trauma dan korban dapat menderita seumur hidupnya. Maka seharusnya di sekolah para siswa saling menghormati, membantu, membina kerja sama, dan toleransi dalam pergaulan dilingkungan sekolah, terutama antara teman, kakak kelas, dan dikelas sehingga dapat menghindari tindakan bullying. 

           Pelu kerja sama antara semua pihak termasuk guru sebagai pelaksana pembelajaran termasuk pendidikan karakter bagi siswa. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menjadikan siswa lebih mampu memahami dirinya agar bermanfaat bagi semua orang. Pendidikan karakter berupa pembiasaan sehari – hari oleh siswa mengenai baik dan buruk tentang sesuatu. Pendidikan bertanggung jawab atas pembentukan karakter siswa ini, dengan adanya pendidikan karakter maka siswa tidak hanya cerdas pengetahuan tetapi juga akan menjadi cerdas emosionalnya. Sehingga ketika adanya permasalahan dapat diselesaikan dengan bijaksana tanpa menyakiti dirinya atau orang lain. Pada kurikulum 2013 terdapat 18 pendidikan karakter (Faidin, 2019) di antaranya nilai religious, jujur, toleransi, kerja keras, kreatif, disiplin, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, menghargai prestasi, cinta damai, bersahabat/ komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, semangat kebangsaan dan bertanggung jawab. 

           Namun, saat ini pendidikan karakter sudah mulai menurun seperti maraknya bullying di sekolah dasar. Bullying merupakan tindakan yang agresif, kekerasan, menyakiti orang lain yang dilakukan secara terus menerus. Penyebabnya beragam, mulai dari lingkungan keluarga yang selalu bertengkar, tontonan yang kurang mendidik, lingkungan Masyarakat yang yang kurang ramah anak, dan bahkan guru yang masih belum totalitas memahami cara mengatasi perilaku bullying disekolah. Data yang dimiliki Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menyimpulkan bullying yang terjadi di indonesia sebesar 41,1% dan Indonesia peringkat ke 5 tertinggi dari 78 negara yang paling banyak mengalami bullying (Hartika Sari Butar Butar, 2022). Selain mengalami perundungan, murid di Indonesia mengaku sebanyak 18% didorong oleh temannya 15% mengalami intimidasi, 19% dikucilkan, 14% murid di Indonesia mengaku diancam, dan 20% terdapat murid yang kabar buruknya disebarkan oleh pelaku bullying (Hidayat, 2022). Data lain dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat, pada tahun 2022 ada 17 kasus ialah melibatkan siswa dan guru, selanjutnya berdasarkan data dari (PPA, 2022) sebaran jumlah kasus kekerasan per januari tahun 2022 totalnya 9.678 jumlah kasus dengan rincian 1.515 korban laki – laki dan 8.978 korban Perempuan. Kasus yang tidak terlaporkan juga mengkhawatirkan, sehingga perlu untuk memberikan perhatian yang serius terhadap bullying ini. Solusinya terkait bullying ini tertu terus untuk diimplementasikan. 






PEMBAHASAN 

Karakteristik Perilaku Bullying 

           Ada empat unsur yang terdapat dalam bullying dan selalu melibatkan tiga u sur yaitu, 1. Ketidakseimbangan kekuatan, 2. Niat untuk mencederai, 3. Ancaman agresi lebih lanjut, 4. Terror (Colorosa, 2007). Bullying bisa aja dilakukan oleh prang yang lebih tua, lebih besar, dan lebih kuat karena bullying bukan perkelahian yang melibatkan dua orang yang memiliki kekuatan yang seimbang. Perilaku bullying biasanya menyebabkan timbulnya kepedihan emosional, luka fisik, dan kedua duanya. Pelaku akan merasa senang Ketika melihat korban menderita, bullying tidak terjadi hanya sekali, pelaku dan korban mengetahui bahwa Tindakan bullying itu bisa terjadi berulang ulang, tanpa henti dan semakin meningkat, jika semua hal itu terjadi maka akan muncul terror. 

            Tindakan bullying mempunyai tiga karakteristik yang terintergrasi, yaitu: Adanya perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban, Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan rasa tertekan pada korban, dan Perilaku ini dilakukan secara terus menerus atau berulang (Rigby dalam Asturi, 2008;4). Pelaku bullying merasa senang atau puas Ketika melihat target atau korbannya menderita, mereka akan memiliki kepuasan batin dan kesenangan hati apabila dapat menyakiti korbannya. 

            Karakteristik anak yang rentan menjadi korban bullying yaitu: anak yang baru dilingkungannya, anak termuda di sekolahnya, anak yang pernah mengalami trauma, anak yang tidak mau berkelahi, anak yang pemalu, anak yang miskin atau kaya, anak yang ras suku etnisnya dipandang inferior oleh pelaku, anak yang agamnya dipandang inferior oleh pelaku, anak yang cerdas, berbakat atau memiliki kelebihan, anak yang gemuk atau kurus, anak yang memiliki ciri fisik yang berbedadengan orang lain, dan anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah (Colorosa, 2007). 


Bentuk – Bentuk Perilaku yang Dikategorikan Bullying 

            Secara umum, bullying dapat dikelompokan pada tiga kategori, yaitu: Bullying fisik, Bullying verbal, dan Bullying mental/ psikologis. Bullying fisik merupakan jenis bullying yang dapat dilihat secara kasat mata, siapapun bisa melihatnya karena terjadi sentuhan fisik antara perilaku bullying dengan korbannya, seperti: memukul, mencekik, mendorong,menggigit, menampar. dan lain sebagainnya. (Insani, 2008).

            Kata-kata adalah alat yang kuat dan dapat mematahkan semangat seseorang yang menerimanya. Bullying verbal merupakan bentuk bullying yang paling umum digunakan, baik oleh laki-laki maupun oleh Perempuan. Bullying verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikan dihadapan orang dewasa atau teman sebaya tanpa terdeteksi. Bullying verbal dapat berupa julukan nama, fitnah, menuduh, mencemooh, memaki, menebar gossip dan lain sebagainya (Colorosa, 2007).

              Bullying mental/psikologis yang paling berbahaya karena sulit terdeteksi dari luar. Seperti memandang dengan sinis, menampilkan ekspresi wajah yang merendahkan, mengucilkan, menjauhkan dan lain sebagainya (Insani, 2008).


Faktor Penyebab Bullying 

            Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying (Beane , 2008:23). Menjelaskan kemungkinan penyebab terjadinya bullying yaitu: Physical influences, Biological factors, Temperament, Social influence, Violence, Prejudice, Fear, Poor self-esteem, Poor family environment, and etc. Anak-anak yang memiliki kekurangan secara fisik cenderung menjadi korban bullying seperti anak-anak yang badannya terlalu gemuk, anak yang tingi badannya tidak sama dengan teman-temannya yang lain seperti badan yang pendek, anak yang berkebutuhan khusus dan sebagainnya. 

              Faktor biologis juga bisa menjadi salah satu penyebab anak menjadi korban bullying seperti lingkungan yang buruk, dan sudah menganggap biasa terjadi bullying, maka kecenderungan anak akan meniru dan Tindakan/perilaku yang ditampilkan di lingkungan sosialnya karena hal ini akan memungkinkan si anak ingin mempelajari bullying dalam artian ingin tahu lebih banyak tentang bullying sehingga membuat mereka mencoba untuk melakukannya. 

             Pada kalangan remaja, jika mereka bisa menunjukan kekuatannya secara fisik kepada temannya, maka ia akan dianggap kuat. Anak-anak seperti mereka biasanya menyakini bahwa dengan menunjukan kekuatannya itu mereka memiliki keunggulan dari teman-temannya. Salah satu penyebabnya anak-anak seperti itu karena terpengaruh oleh media massa yang menampilkan kekerasan yang terjadi pada olahraga yang sering menampilkan tindakan anarkis, secara tidak langsung anak-anak belajar dari kejadian yang ditampilkam atau di lihat itu tersebut. 

            Anak-anak yang penakut sangat rentan menjadi korban bullying karena mereka tidak bisa melindungi diri mereka dari serangan pelaku bullying. Anak yang memiliki egosentris, kurang sensitive terhadap orang lain dan lingkungan serta kurang mendapat perhatian biasanya akan cenderung menjadi pelaku bullying, karena mereka menilai dari sudut pandang mereka sendiri, sehingga mereka tidak sensitive terhadap orang lain dan lingkungan mereka. Kelompok anak-anak yang pintar biasanya akan sering membully anak-anak yang kurang dari mereka, merasa memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang lain sehingga kelebihannya digunakan untuk menindas orang lain yang memiliki self-esteem yang rendah. 



Perilaku Bullying Di Sekolah 

            Bullying merupakan perilaku kekerasan, menyakiti orang lain, menyimpang baik secara verbal, fisik maupun psikologis (Dewi, 2020). Pendapat lain juga mengatakan bahwa bullying adalah perilaku agresif atau negative sehingga dapat merusak dan berbahaya, dilakukan berulang-ulang sehingga membuat korban bullying trauma, cemas berlebihan dan membuat ketidaknyamanan (Septiyuni et al, 2025). Faktor-faktor perilaku bullying dapat dikelompokam atas: a). Faktor orang tua, yang mencakup keluarga dalam mendidik anak diharapkan keluarga atau orang tua menciptakan suasana yang harmonis dan perhatian lebih kepada anak. b). Faktor lingkungan, yaitu lingkungan sekolah dan Masyarakat atau pergaulan dengan teman. c). Faktor teman sebaya, yaitu sikap buruk pada perilaku siswa. d). Faktor media sosial, berupa media cetak dan elektronik. Maka dapat disimpulkan perilaku bullying di sekolah dasar sangat tidak baik bagi mental anak secara psikologis, dan dampak dimasa yang akan datang bahkan dapat membuat siswa trauma dan mengalami kecemasan dan harus diantisipasi dengan mengenali faktor-faktor peilaku bullying sehingga perilaku bullying dapat diatasi sedini mungkin. 


Peran Psikolog Pendidikan/Konselor Mencegah Tindakan Bullying 

            Bullying sebagai salah satu masalah besar yang harus dicegah karena dapat menimbulkan trauma pada korbannya sehingga membuat kehidupan korban bullying menjadi tidak efektif dan siswa yang menjadi pelaku bullying perlu digali lebih dalam lagi apa yang latar belakangnya melakukan bullying sehingga psikologi pendidikan/ konselor bisa mengambil tindakan yang tepat untuk penanggulangan permasalahan bullying. 

            Untuk itu, psikologi Pendidikan/konselor perlu memberikan pelayanan konseling yang optimal dan komprehensif sesuai kebutuhan siswa dengan menyediakan program Psikologi Pendidikan yang cocok untuk menanggulangi bullying seperti meyelenggarakan kayanan orientasi, layanan informasi, layanan konsultasi, layanan penguasaan konten, dll (Prayitno, 2009:45). Kemudian Psikologi Pendidikan/Konselor membuat modul untuk pencegahan bullying di sekolah, membuat model konseling untuk korbang bullying, membuat kegiatan konseling teman sebaya dan lain sebagainya. 

           Strategi pelayanan konseling yang dapat diperhatikan konselor dalam mengatasi permasalahan bullying disekolah berdasarkan penelitian (Diniyati, 2012:149) yaitu: 1. Make sure an adult known is happening to their children, 2. Make it clear that bullying is never acceptable, 3. Recognize that bullying can occur at all levels who within the hierarchy of the school, 4. Hold a school conference day a forum devoted to bully/victim problems, 5. Increase adult supervision in the yard, halls and washrooms, more vigilantly, 6. Emphasize caring, respect and safety, 7. Emphasize consequences for aggressive behaviors, 8. Improve communication among school administrator teacher, parent and student, 9. Have a school problem box where kids can report problem, concerns, and offer suggestion, and etc.

           Dapat disimpulkan bahwa Psikologi Pendidikan/Konselor dalam konteks menjalankan perannya di sekolah harus menyediakan pelayanan yang baik dan optimal untuk seluruh siswa sesuai dengan tanggung jawabnya serta merencanakan layanan sesuai dengan kebutuhan siswa di sekolah, sehingga dengan demikian pelayanan yang di berikan kepada siswa bisa tepat sasaran dan berefek pada perubahan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik. Psikologi Pendidikan/ Konselor juga perlu berkolaborasi yaitu melakukan pendekatan untuk mengambil kebijakan dalam mencegah perilaku bullying sehingga perilaku bullying tidak terjadi lagi di sekolah. Pelaku bullying perlu diberikan perhatian dan empati di samping control dan meminimalkan peluang terjadinya penindasan. Selain itu, Psikologi Pendidikan/Konselor perlu melakukan kerja sama dengan berbagai pihak seperti kepala sekolah, wakil kepsek, dan guru mata Pelajaran serta orang tua. Hal ini penting, agar koordinasi dan supervise terhadap pencegahan bullying benar terjalin sehingga bullying tidak membudaya dan tidak di anggap biasa lagi oleh siswa di sekolah.


KESIMPULAN

            Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan masalah yang serius yang mengakibatkan trauma bagi para korbannya, baik secara psikologis, fisik, sosial, dan akademis. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya bullying, jika dikelompokkan secara umum maka dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu latar belakang keluarga, pribadi individu, dan lingkungan sekitar (sekolah, masyarakat, teman, dan sosial).

           Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk yaitu fisik, verbal, dan psikologis/mental. Semua bentuk bullying tersebut akan berdampak negative kepada korbannya. Dampak terlihat jelas yaitu bullying fisik, sedangkan bullying verbal dan psikologis akan terlihat pada jangka panjang yaitu terganggungya kondisi psikologis dan penyesuaian sosial yang buruk.

            Dari paparan diatas, maka diharapkan kepada Psikologi pendidikan/konselor untuk berperan dalam mencegah dan mengentaskan perilaku bullying yang ada di lingkungan sekolah. Beberapa peran psikologi Pendidikan/konselor yaitu memberikan pelayanan kepada siswa sesuai dengan kebutuhannya secara optimal dan efisien. Kemudian melakukan kolaborasi dengan orang tua, kepala sekolah, guru mata pelajaran dan termasuk warga yang ada di sekolah untuk menyediakan pengawasan yang baik untuk siswa sehingga sikap dan perilakunya dapat di control. 


DAFTAR PUSTAKA 

Alawiyah, M. dan A. B. (2018). Peran Guru Dan Lingkungan Sosial Terhadap Tindakan Bullying Siswa Sekolah Dasar. Joyful Learning Journal, 7(2), 78–86.

Astuti, R. P. (2008). Meredam Bullying (3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan pada Anak). Grasindo.

Beane, A. L. (2008). Protect Your Child From Bullying. Jossey-Bass.

Colorosa, B. (2007). Stop Bullying (Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga SMU). Ikrar Mandiri Abadi.

Dewi, P. Y. A. (2020). ‘Perilaku School Bullying Pada Siswa Sekolah Dasar’,. Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar, 1(1), 39–48.

Diniyati, A. (2012). Bullying Versus Tantrum sebagai Perilaku Agresif pada Anak dan Aplikasi Konseling dalam Mengatasinya. Seminar Internasional Bimbingan Dan Konseling.

Faidin, A. (2019). ‘Implementasi Nilai Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 

pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri I Palibelo. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES.

Firmansyah, F. A. (2021). Peran Guru Dalam Penanganan Dan Pencegahan Bullying di Tingkat Sekolah Dasar. Jurnal Al Husna, 2(3), 205–216.

Hartika Sari Butar Butar, Y. K. (2022). ‘Persepsi Pelaku Terhadap Bullying dan Humor’,. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(1).

Hidayat, R. dan M. T. (2022). ‘Strategi Guru dalam Mengatasi Perilaku Bullying Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 4566–4573.

Insani, Y. S. J. (2008). Bullying: Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan. Grasindo.

PPA. (2022). Peta Sebaran Jumlah Kasus Kekerasan Menurut Provinsi. SimfoniPPA. https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan

Prayitno. (2009). Wawasan Profesional Konseling. UNP.

Riauskina. (2005). ”Gencet_gencetan” di Mata Siswa/Siswi Kelas 1 SMA: Naskah Kognitif Tentang Arti, Skenario, dan Dampak ”Gencet-Gencetan”. . . Jurnal Psikologi Sosial, 12(1), 1–13.

Septiyuni, D. A., Budimansyah, D., & Wilodati, W. (2015). ‘Pengaruh kelompok teman sebaya (peer group) terhadap perilaku bullying siswa di sekolah.’ SOSIETAS, 5(1).

Wiyani, N. A. (2014). Save Our Children From School Bullying. PT. AR-RUZZ MEDIA.


×
Berita Terbaru Update