Strategi Tri N untuk Meningkatkan Literasi di Sekolah Dasar
Khauna Shafa Usman / 2022015152
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Pendahuluan
Latar Belakang
Kemampuan literasi adalah dasar Pendidikan yang menentukan seberapa baik siswa dalam memahami berbagai materi pelajaran dan menghadapi tantangan kehidupan di abad ke-21. Literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, dan menyampaikan ide dengan cara yang masuk akal dan jelas. Namun, data lapangan menunjukkan bahwa siswa Indonesia di sekolah dasar masih kurang dalam hal literasi. Banyak siswa menghadapi masalah dalam memahami teks, merangkai ide, dan menyampaikan pendapat secara runtut.
Beberapa penyebab rendahnya literasi adalah pendekatan pembelajaran yang tidak bermakna, kurangnya sumber bacaan yang menarik, dan kurangnya pemanfaatan metode pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang dapat membangun keterampilan literasi secara alami, secara bertahap, dan dengan cara yang menyenangkan memang diperlukan.
Salah satu strategi yang dapat diadaptasi dari warisan pendidikan nasional adalah ajaran Tri N (Niteni, Nirokke, Nambahi) yang diperkenalkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Tri N adalah proses belajar yang dimulai dari tahap mengamati (niteni), meniru (nirokke), hingga mengembangkan (nambahi). Strategi ini sangat cocok untuk pembelajaran literasi karena memungkinkan siswa untuk memahami informasi, mencoba menulis berdasarkan contoh, dan kemudian menulis tulisan yang sesuai gagasan mereka sendiri.
Strategi Tri N dapat membantu siswa belajar membaca dengan teliti, menulis dengan struktur yang jelas, dan berpikir kreatif dalam mengembangkan tulisan mereka. Selain berhasil meningkatkan literasi manual, strategi ini juga dapat diterapkan untuk pembelajaran digital dengan menggunakan e-book, artikel online, dan media pembelajaran digital lainnya.
Urgensi
Permasalahan literasi dasar di Indonesia masih merupakan masalah penting yang perlu ditangani dengan serius. Data dari berbagai asesmen nasional maupun internasional, seperti PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini berdampak langsung pada kemampuan siswa untuk memahami teks, menalar informasi, dan menyampaikan ide dengan cara yang logis dan runtut.
Karena pendekatan pembelajaran yang bersifat mekanis dan kurangnya keterlibatan aktif siswa, tahap awal pembangunan literasi di sekolah dasar seringkali tidak berhasil. Meskipun demikian, peningkatan literasi anak-anak sejak dini sangat penting untuk keberhasilan pendidikan dalam jangka panjang, baik dalam akademik maupun dalam pengembangan karakter dan daya pikir kritis.
Dalam konteks inilah, ajaran Tri N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dari Ki Hadjar Dewantara menjadi sangat relevan dan mendesak untuk diterapkan. Strategi pembelajaran Tri N berbasis pengamatan, peniruan, dan pengembangan selaras dengan pembelajaran alami anak. Siswa tidak hanya belajar menulis dan membaca secara aktif, tetapi strategi ini juga membantu mereka menjadi lebih kreatif dan berpikir kritis.
Sangat penting untuk menulis artikel ini karena kita membutuhkan metode pembelajaran literasi yang berbeda yang berakar pada prinsip-prinsip pendidikan nasional dan tetap relevan dengan kebutuhan siswa saat ini. Sejak sekolah dasar, strategi Tri N dianggap dapat menggabungkan literasi digital dan manual dan memberikan dasar yang kuat bagi siswa untuk menjadi pembelajar yang mandiri, kritis, dan kreatif.
Masalah
Apa saja kendala yang menyebabkan rendahnya tingkat literasi siswa di sekolah dasar?
Bagaimana penerapan strategi Tri N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dalam pembelajaran literasi di sekolah dasar?
Sejauh mana strategi Tri N dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa sekolah dasar?
Apa kelebihan dan kekurangan strategi Tri N dalam upaya peningkatan literasi di tingkat sekolah dasar?
Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi permasalahan literasi yang dihadapi siswa sekolah dasar.
Mendeskripsikan penerapan strategi Tri N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dalam pembelajaran literasi di sekolah dasar.
Menganalisis efektivitas strategi Tri N dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa sekolah dasar.
Mengetahui kelebihan dan kekurangan penggunaan strategi Tri N dalam pembelajaran literasi.
Pertanyaan Penelitian
Apa saja permasalahan literasi yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar?
Bagaimana penerapan strategi Tri N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dalam kegiatan pembelajaran literasi di sekolah dasar?
Sejauh mana strategi Tri N efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa sekolah dasar?
Apa saja kelebihan dan kendala dalam penerapan strategi Tri N untuk meningkatkan literasi di sekolah dasar?
Tinjauan Pustaka
Pengertian Literasi
Literasi umumnya didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi melalui berbagai bentuk komunikasi seperti membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Literasi menurut UNESCO (2006), adalah kemampuan untuk menemukan, memahami, menafsirkan, membuat, berkomunikasi, dan menghitung dengan menggunakan bahan cetak dan tulisan yang terkait dalam berbagai situasi. Literasi mencakup kemampuan untuk menulis, membaca, berbicara, menyimak, dan berpikir kritis dan reflektif untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan hidup (Kemendikbud, 2017). Literasi adalah dasar utama bagi pembelajaran siswa di semua mata pelajaran di sekolah dasar. Literasi tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang memahami apa yang dibaca, menulis ide secara terstruktur, dan berkomunikasi dengan baik.
Tantangan Literasi di Sekolah Dasar
Literasi merupakan dasar penting untuk pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Namun, ada banyak tantangan yang menghalangi kemajuan literasi siswa. Beberapa tantangan utama yang masih ada di lapangan termasuk:
Minat baca yang rendah
Disebabkan oleh lingkungan yang tidak mendukung budaya membaca baik di sekolah maupun di rumah banyak siswa sekolah dasar tidak tertarik untuk membaca. Mereka cenderung lebih tertarik pada hiburan digital seperti permainan dan video.
Keterbatasan akses dalam bahan bacaan
Penyediaan bahan bacaan yang menarik, beragam, dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak masih menjadi tantangan bagi sekolah dasar, terutama di wilayah terpencil atau tertinggal. Salah satu alasan daya dukung fasilitas literasi rendah adalah koleksi perpustakaan yang terbatas dan tidak diperbarui.
Metode pembelajaran yang kurang inovatif
Banyak pendidik menggunakan pendekatan pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Akibatnya, mereka gagal meningkatkan kemampuan literasinya.
Keterbatasan waktu pembelajaran literasi
Karena kurikulum yang padat dan kebutuhan untuk menyelesaikan materi pelajaran lainnya, waktu khusus untuk kegiatan literasi di sekolah sering kali terbatas. Akibatnya, kegiatan literasi tidak lagi menjadi prioritas utama dan tidak terintegrasi dengan baik dalam pembelajaran.
Strategi Tri N dalam Pembelajaran
Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara strategi Tri N terdiri dari tiga tahapan utama : Niteni, Nirokke, dan Nambahi. Tahapan-tahapan ini menunjukkan proses belajar yang alami dan bertahap yang sesuai dengan perkembangan anak.
Niteni ( mengamati )
Tahap awal ini menekankan betapa pentingnya pengamatan sebagai bagian penting dari proses belajar. Siswa diminta untuk memperhatikan dengan teliti teks, gambar, objek, atau fenomena yang dipelajari. Mengamati teks yang sedang dibaca, struktur kalimat, kosa kata, dan isi cerita adalah beberapa cara untuk melakukan niteni dalam konteks literasi. Sebelum, siswa melakukan aktivitas meniru atau menulis sendiri tujuan awalnya adalah untuk meningkatkan pemahaman mereka.
Nirokke ( meniru )
Siswa masuk ke tahap meniru setelah mengamati. Mereka mencoba menyalin atau mencontoh apa yang telah mereka lihat di sini. Dalam pendidikan literasi, Nirokke dapat berupa menyalin kalimat atau paragraf, membuat ringkasan dari apa yang dibaca, atau meniru cara tokoh menulis dalam cerita. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan meningkatkan rasa percaya diri.
Nambahi ( mengembangkan )
Menambah apa yang telah ditiru adalah langkah terakhir. Siswa diajak untuk berpikir kreatif dan mandiri saat mereka membuat teks, menulis komentar, membuat cerita baru, atau mengubah teks yang sudah ada. Ini adalah fase produksi di mana kemampuan literasi tingkat tinggi dilatih, termasuk menulis ekspresif, membangun argumen, dan menyampaikan ide dengan cara yang unik.
Penerapan Strategi Tri N untuk Meningkatkan Literasi
Karena strategi Tri N (Niteni, Nirokke, Nambahi) bersifat bertahap, kontekstual, dan sesuai dengan tahap perkembangan kognitif siswa, strategi ini sangat relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran literasi di sekolah dasar. Strategi ini dapat diterapkan dalam kegiatan membaca dan menulis. Dalam kegiatan literasi di SD, strategi Tri N digunakan sebagai berikut:
Tahap niteni ( mengamati )
Pada tahap ini, guru mengarahkan siswa untuk membaca dan melihat teks atau media bacaan seperti cerita pendek, puisi, buku bergambar, dan gambar berseri. Fokus utama terletak pada:
Identifikasi karakter, setting, dan jalan cerita.
Mempelajari kosa kata baru.
Memahami struktur dan gaya bahasa teks.
Contoh kegiatannya adalah guru membacakan cerita kepada siswa. Kemudian, mereka diminta untuk memperhatikan isi dan menjawab pertanyaan sederhana seperti "Siapa tokoh utama?" "Apa masalah dalam cerita?" dan "Apa yang terjadi di akhir cerita?"
Tahap nirokke ( meniru )
Siswa mulai meniru atau menyalin struktur atau bagian teks yang mereka amati. Kegiatan ini meningkatkan pemahaman mereka tentang format teks dan meningkatkan keterampilan dasar mereka dalam membaca dan menulis. siswa menyalin dialog antar karakter, menulis ulang ringkasan cerita dengan bahasa mereka sendiri, atau membuat daftar kosakata baru yang ditemukan saat membaca termasuk contoh kegiatannya.
Tahap nambahi ( mengembangkan )
Pada tahap ini, siswa diberi kesempatan untuk berimajinasi dan mengembangkan konsep atau teks yang telah mereka pelajari menjadi sesuatu yang baru. Mereka juga diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan literasi mereka yang lebih tinggi, termasuk berpikir kritis, menyusun argumen, dan mengungkapkan pendapat. Contoh aktivitasnya adalah siswa membuat akhir cerita yang berbeda dan siswa membuat cerita baru yang didasarkan pada tokoh yang sama.
Metodologi Penelitian
Jenis Penelitian
Kualitatif eksploratif – deskriptif dengan pendekatan filosofis dan pedagogis
Pendekatan
Studi literatur sistematis
Subjek / Sumber Data
Literatur sekunder ( jurnal, buku akademik ) untuk studi Pustaka
Teknik Pengumpulan Data
Telaah dokumen dan studi literatur
Teknik Analisis Data
Kategorisasi dan interpretasi nilai – nilai dan relevansi ajaran
Validitas Data
Triangulasi sumber dan metode untuk menjamin kredibilitas data
Hasil dan Pembahasan
Penggunaan strategi Tri N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dalam pembelajaran literasi di sekolah dasar menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan siswa dalam membaca dan menulis. Sudah terbukti bahwa strategi ini membuat pengalaman belajar siswa lebih aktif, terarah, dan menyenangkan. Pembelajaran sekarang lebih kreatif, berpartisipasi, dan sesuai dengan cara berpikir anak-anak usia sekolah dasar.
Siswa diberi kesempatan untuk membaca dan mengamati teks secara menyeluruh selama tahap Niteni atau tahap mengamati. Teks yang digunakan dapat sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa, seperti cerita pendek, fabel, deskripsi gambar, atau artikel sederhana. Di sini, guru sangat berperan penting untuk membantu siswa menemukan ide utama, karakter, jalan cerita, dan kosa kata penting yang ditemukan dalam teks. Kegiatan ini berfungsi sebagai landasan awal untuk membantu siswa memahami struktur dan isi teks.
Siswa belajar mengenali pola-pola bahasa, gaya penulisan, dan isi bacaan secara natural melalui kegiatan mengamati. Selain itu, mereka diajak untuk berbicara tentang materi bacaan yang telah mereka amati secara berpasangan atau dalam kelompok. Interaksi ini sangat membantu siswa memahami teks. Pendekatan yang tidak menghakimi dan terbuka juga membuat siswa lebih nyaman untuk mengajukan pertanyaan dan berbagi pendapat tentang apa yang mereka baca.
Selanjutnya adalah tahap meniru. Pada titik ini, siswa berusaha meniru struktur kalimat atau gaya penulisan yang mereka pelajari pada tahap sebelumnya. Meniru bukanlah latihan menyalin secara mekanis. Sebaliknya, itu adalah proses pembelajaran menulis yang dilakukan dengan model atau acuan yang jelas. Siswa diminta untuk menyalin kutipan penting, menulis ulang ringkasan bacaan, atau menyusun kembali cerita dengan urutan yang tepat.
Bagi siswa yang masih mengalami kesulitan menulis tahap ini sangat membantu mereka. Siswa lebih percaya diri untuk memulai menulis karena mereka sudah melihat contoh konkret. Siswa mulai belajar ejaan, struktur kalimat, dan keterpaduan antar paragraf, serta struktur kalimat dan penggunaan tanda baca.
Dalam strategi Tri N, Nambahi adalah tahap terakhir. Pada tahap ini, siswa diberi kebebasan untuk menulis apa pun yang mereka inginkan. Mereka mulai menciptakan dan mengembangkan teks berdasarkan pengalaman dan pengamatan mereka daripada hanya meniru. Misalnya, siswa dapat diminta untuk menulis akhir cerita yang berbeda dari yang ada di awal, menambahkan tokoh baru, atau menulis pengalaman pribadi mereka dalam gaya yang mirip dengan cerita yang telah mereka pelajari.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tahap Nambahi dapat secara signifikan meningkatkan kreativitas siswa. Ketika mereka menulis, siswa menjadi lebih ekspresif, belajar menyusun ide mereka sendiri, dan belajar menggabungkan informasi yang mereka pelajari dengan imajinasi mereka sendiri. Siswa bahkan dapat membuat teks naratif sederhana yang memiliki alur yang masuk akal dan menarik. Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan imajinatif.
Selain meningkatkan kemampuan kognitif siswa, strategi Tri N juga meningkatkan aspek afektif mereka. Banyak siswa yang awalnya tidak tertarik dengan kegiatan membaca dan menulis menjadi lebih tertarik dan terlibat setelah mengikuti pembelajaran berbasis strategi Tri N. Mereka merasa lebih dihargai, lebih percaya diri, dan lebih tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugas literasi. Ini juga menyebabkan partisipasi yang lebih besar dalam diskusi kelas dan tanggung jawab atas tugas individu dan kelompok.
Strategi Tri N juga dianggap lebih fleksibel bagi guru untuk diterapkan dalam pembelajaran. Untuk membuat proses pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual, guru dapat mengaitkan teks bacaan dengan mata pelajaran lain seperti sains, IPS, atau PPKn. Misalnya, siswa membaca teks tentang pentingnya menjaga kebersihan, dan kemudian menulis slogan atau cerita pendek tentang lingkungan. Akibatnya, kemampuan literasi tidak hanya diajarkan, tetapi juga ditanamkan dalam prinsip-prinsip yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi Tri N selaras dengan teori konstruktivistik dan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual yang menekankan betapa pentingnya pengalaman langsung dan keterlibatan aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka. Selain itu, strategi ini selaras dengan pendekatan diferensiasi karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa.
Secara keseluruhan, upaya untuk meningkatkan literasi siswa di sekolah dasar menunjukkan hasil yang menggembirakan dengan menggunakan strategi Tri N. Strategi ini tidak hanya meningkatkan kemampuan dasar membaca dan menulis siswa, tetapi juga menumbuhkan minat, kepercayaan diri, dan kreativitas siswa. Oleh karena itu, strategi ini layak menjadi alternatif untuk diterapkan lebih luas di sekolah dasar.
Simpulan dan Implikasi
Simpulan
Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa strategi Tri N yang terdiri dari tahapan Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (mengembangkan) adalah pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa di sekolah dasar. Strategi ini tidak hanya memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis tetapi juga dapat menanamkan sikap positif terhadap kegiatan literasi.
Pada tahap Niteni, siswa diajak untuk mengamati dan memahami teks secara menyeluruh yang merupakan fondasi penting dalam pengembangan keterampilan literasi. Pada tahap Nirokke, siswa diberi kesempatan untuk meniru struktur dan gaya penulisan sehingga mereka merasa terbantu dalam proses menulis awal. Pada tahap Nambahi, siswa diberi kesempatan untuk mengekspresikan ide dan kreativitasnya secara bebas yang meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan menulusuri.
Strategi Tri N juga meningkatkan suasana belajar menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna. Ini selaras dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia sekolah dasar di mana belajar secara bertahap, konkret, dan berbasis pengalaman terbukti lebih efektif.
Oleh karena itu, strategi Tri N layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran literasi yang dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran di sekolah dasar. Dengan penerapan yang konsisten dan kreatif, strategi ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya literasi sejak dini dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.
Implikasi
Hasil penelitian atau kajian tentang strategi Tri N untuk meningkatkan literasi di sekolah dasar memiliki dampak yang signifikan terhadap berbagai elemen yang terlibat dalam pendidikan, terutama di jenjang sekolah dasar:
Implikasi bagi guru
Strategi Tri N menawarkan pendekatan yang bertahap, kontekstual, dan mudah diterapkan untuk guru dalam mengajar literasi. Guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga membantu siswa melihat, meniru, dan mengembangkan. Ini berarti bahwa guru harus lebih inovatif saat membuat pembelajaran berbasis teks dan menyesuaikan kegiatan literasi dengan tingkat perkembangan siswa.
Implikasi bagi siswa
Strategi Tri N sesuai dengan gaya belajar anak, sehingga siswa dilibatkan secara aktif dan bertahap, mulai dari mengamati, mencoba meniru, hingga mengembangkan ide sendiri. Akibatnya, strategi ini membantu siswa secara langsung. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri, minat baca, dan kemampuan berpikir kritis selain meningkatkan keterampilan membaca dan menulis.
Daftar Pustaka
Akmalia, V. K., Nawangsih, R. D., Wardani, K., & Cahyandaru, P. (2023). Strategi penguatan literasi lingkungan melalui budaya sekolah di sekolah dasar. Indonesian Journal of Educational Management and Leadership, 184 - 196.
Nafiah, T., Kusumawardani, N., Himawanti, R., Sinta, P. P., & Khosiyono, B. H. (2023). Strategi Peningkatan Literasi di Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar, 1 - 16.
Wulandari, D., & Masjid, A. A. (2024). Pengembangan Buku Portofolio Literasi Berbasis Ajaran Tri-N untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 191 - 200.