Konsep dan Implementasi Ajaran Tamansiswa dalam Pendidikan Kontemporer: Membangun Karakter melalui Tri Hayu dan Budi Pekerti
Penulis: Adelina Suri leon
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan merupakan pilar utama dalam membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar individu yang cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter kuat dan berbudaya luhur. Namun, realitas pendidikan modern kerap memperlihatkan ketimpangan antara pencapaian akademik dan kualitas karakter peserta didik. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, nilai-nilai moral dan budaya lokal sering kali tergerus, menyebabkan krisis identitas dan lunturnya budi pekerti dalam kehidupan sosial.
Ki Hadjar Dewantara, sebagai tokoh perintis pendidikan Indonesia, melalui ajaran Tamansiswa telah mewariskan konsep-konsep mendalam tentang pendidikan karakter yang berbasis budaya. Salah satunya adalah ajaran Tri Hayu, yang mencakup:
1. Hayuning Sarira (keselamatan/kebahagiaan diri),
2. Hayuning Bangsa (kesejahteraan bangsa), dan
3. Hayuning Bawana (harmoni dunia/alam semesta).
Ajaran ini berpadu erat dengan nilai budi pekerti yang menjadi inti pendidikan Tamansiswa, yaitu pembentukan kepribadian yang berlandaskan pada kebaikan akal, perasaan, dan kehendak.
Urgensi
Revitalisasi ajaran Tri Hayu dan budi pekerti sangat mendesak dalam konteks pendidikan kontemporer, mengingat pentingnya menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan moral dan spiritual. Pendidikan yang berakar pada kearifan lokal ini memiliki potensi besar dalam membentuk peserta didik yang bukan hanya unggul secara akademis, tetapi juga berkontribusi positif terhadap masyarakat dan alam semesta.
Rumusan Masalah
Pendidikan modern masih didominasi oleh orientasi akademik dan capaian kognitif, sementara aspek karakter dan keberlanjutan kehidupan bersama kurang diperhatikan. Nilai nilai luhur seperti gotong royong, tanggung jawab sosial, serta keselarasan dengan lingkungan belum menjadi prioritas dalam sistem pendidikan.
Tujuan Penelitian
1. Mengkaji penerapan ajaran Tri Hayu dalam pembelajaran dan kehidupan sekolah. 2. Mengidentifikasi model internalisasi nilai budi pekerti dalam pembentukan karakter siswa.
3. Menemukan relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap tantangan pendidikan abad ke-21.
Pertanyaan Penelitian (rQs)
1. Bagaimana implementasi prinsip Tri Hayu dalam proses pembelajaran dan kehidupan siswa?
2. Bagaimana internalisasi nilai-nilai budi pekerti dalam praktik pendidikan? 3. Apa relevansi ajaran Tamansiswa dengan pendidikan karakter kontemporer?
TINJAUAN PUSTAKA
Ajaran Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa
Ajaran Tamansiswa mencakup banyak nilai filosofis yang relevan untuk pendidikan karakter. Salah satu yang cukup esensial adalah Tri Hayu, yang menggambarkan filosofi hidup berimbang dan bertanggung jawab, yaitu:
1. Hayuning Sarira – mendidik peserta didik agar mengenal, mencintai, dan menjaga dirinya secara fisik, mental, dan spiritual.
2. Hayuning Bangsa – menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab sosial. 3. Hayuning Bawana – menanamkan kepedulian terhadap alam dan lingkungan hidup sebagai bagian dari semesta.
Konsep ini melengkapi nilai budi pekerti, yang dimaknai sebagai perpaduan antara pikiran (cipta), perasaan (rasa), dan kemauan (karsa) yang menghasilkan tindakan luhur.
Pendidikan Karakter dan Pendidikan Abad 21
1. Pendidikan abad ke-21 menuntut kompetensi holistik, mencakup keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi (4C). Namun, keterampilan tersebut perlu dilandasi karakter yang kuat agar menghasilkan pribadi yang bijak, berintegritas, dan berjiwa sosial.
2. UNESCO (2021) menekankan perlunya pendidikan yang membangun hubungan harmonis antara manusia, masyarakat, dan alam. Hal ini sejalan dengan ajaran Tri Hayu dalam Tamansiswa.
Filsafat Pendidikan Lokal dalam Pendidikan Modern
Pendekatan pendidikan lokal menawarkan pendidikan yang membumi dan kontekstual. Filsafat Ki Hadjar Dewantara, yang menekankan keselarasan antara individu, masyarakat, dan alam, menjadi landasan penting bagi model pendidikan berkelanjutan dan multikultural yang dibutuhkan masa kini.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Kualitatif eksploratif-deskriptif dengan pendekatan filosofis dan pedagogis. Pendekatan
Studi literatur sistematis, dengan penekanan pada analisis nilai-nilai filosofis Tri Hayu dan budi pekerti dalam ajaran Tamansiswa, serta relevansinya dalam pendidikan kontemporer.
Sumber Data
1. Primer: Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara, dokumen ajaran Tamansiswa. 2. Sekunder: Buku, jurnal ilmiah, artikel pendidikan, dan dokumen kebijakan pendidikan terbaru.
Teknik Pengumpulan Data
1. Telaah dokumen
2. Studi pustaka dari berbagai sumber yang relevan
Instrument
Dalam pendekatan kualitatif, peneliti adalah instrumen utama yang melakukan interpretasi terhadap data. Namun demikian, digunakan pula instrumen bantu untuk memastikan keteraturan dalam pengumpulan dan pengolahan data.
Berikut adalah instrumen yang digunakan dalam penelitian ini:
1. Panduan Telaah Dokumen dan Literatur
Instrumen ini digunakan untuk menganalisis isi dokumen dan literatur yang berkaitan dengan ajaran Tri Hayu, budi pekerti, dan implementasinya dalam pendidikan kontemporer.
Table 1. Format Panduan Telaah Dokumen
2. Format Kategorisasi Data Tematik
Format ini digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan tema, seperti: a) Implementasi Tri Hayu dalam pembelajaran
b) Strategi internalisasi nilai karakter
c) Keteladanan dalam praktik pendidikan Tamansiswa
3. Jurnal Refleksi Peneliti
Digunakan untuk mencatat respons, interpretasi, dan refleksi peneliti selama proses telaah pustaka dan analisis berlangsung, sebagai bentuk triangulasi internal dan penguatan subjektivitas yang terkendali.
Teknik Analisis Data
Menggunakan model Miles & Huberman: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses ini dikombinasikan dengan kategorisasi tematik berdasarkan nilai-nilai Tri Hayu dan budi pekerti.
Validitas Data
Validitas dalam penelitian kualitatif menekankan pada kredibilitas dan keandalan interpretasi data. Untuk menjamin validitas dan keabsahan data, digunakan beberapa teknik sebagai berikut:
1. Triangulasi Sumber
Data diperoleh dari berbagai jenis sumber: tulisan asli Ki Hadjar Dewantara, dokumen Tamansiswa, literatur akademik, dan kebijakan pendidikan. Keanekaragaman ini membantu memperkuat validitas isi dan konteks temuan.
2. Triangulasi Metode
Kombinasi teknik studi pustaka, telaah dokumen primer dan sekunder, serta refleksi filosofis digunakan untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam dan tidak bias. 3. Pemeriksaan Sejawat (Peer Review)
Draf awal analisis dan kesimpulan diuji dengan meminta masukan dari sesama akademisi bidang filsafat pendidikan atau praktisi pendidikan karakter, guna memperoleh perspektif tambahan dan menghindari bias pribadi.
4. Audit Trail (Jejak Audit)
Seluruh proses pengumpulan dan analisis data dicatat secara sistematis untuk memungkinkan pelacakan proses analisis secara transparan oleh pihak lain. 5. Peningkatan Ketekunan (Prolonged Engagement)
Peneliti mendalami literatur dan dokumen terkait secara intensif dan mendalam dalam kurun waktu yang memadai untuk memahami makna yang tersembunyi dalam konteks ajaran Tri Hayu dan budi pekerti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Penerapan Prinsip Tri Hayu dalam Pendidikan
1. Hayuning Sarira
Dalam praktik pendidikan, hal ini diterapkan melalui penguatan pendidikan karakter berbasis pengenalan diri dan pengembangan potensi. Sekolah mengembangkan program-program seperti konseling personal, mindfulness, dan refleksi diri siswa. 2. Hayuning Bangsa
Implementasi nilai ini dilakukan dengan menanamkan cinta tanah air, gotong royong, dan tanggung jawab sosial. Praktik nyata dapat berupa kegiatan bakti sosial, pembelajaran berbasis proyek komunitas, hingga integrasi pendidikan kewarganegaraan yang kontekstual.
3. Hayuning Bawana
Sekolah dituntut untuk menciptakan ekosistem belajar yang menghargai alam. Kegiatan seperti program “green school,” pengelolaan sampah, pemanfaatan energi terbarukan, dan integrasi isu lingkungan dalam pembelajaran menjadi bagian dari nilai ini.
B. Model Internalisasi Nilai Budi Pekerti
Internasionalisasi nilai-nilai budi pekerti dilakukan melalui:
1. Pembiasaan: kegiatan rutin seperti berdoa bersama, menyapa dengan sopan, menjaga kebersihan kelas, tepat waktu, dan disiplin.
2. Keteladanan Guru: guru menunjukkan sikap integritas, empati, dan adil dalam keseharian.
3. Kegiatan Ko-kurikuler: seperti Pramuka, OSIS, kegiatan seni budaya, yang menjadi wahana menanamkan nilai kebajikan.
4. Pembelajaran Kontekstual: menghubungkan materi pelajaran dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan nyata.
C. Relevansi Ajaran Tamansiswa dalam Pendidikan Abad ke-21
Ajaran Tri Hayu sangat sejalan dengan prinsip pendidikan berkelanjutan dan pendidikan karakter global. Integrasi nilai-nilai ini membantu sekolah membentuk siswa yang: 1. Memiliki kesadaran ekologis dan spiritual (ecological-spiritual intelligence), 2. Bertanggung jawab sebagai warga negara (civic responsibility),
3. Mampu berpikir kritis namun tetap menjunjung nilai etika dan empati. D. Perbandingan dengan Teori Pendidikan Modern
SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Simpulan
1. Prinsip Tri Hayu dapat menjadi pendekatan pendidikan karakter yang menyeluruh karena mencakup dimensi pribadi, sosial, dan ekologis.
2. Internalisasi nilai budi pekerti dalam kehidupan sekolah membentuk kepribadian siswa yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan cinta lingkungan.
3. Ajaran Tamansiswa memiliki relevansi yang tinggi dengan arah pendidikan abad 21 yang menekankan keberlanjutan, multikulturalisme, dan kemanusiaan.
Implikasi
1. Sekolah perlu mengintegrasikan nilai Tri Hayu dalam kurikulum dan kehidupan sehari hari secara sistematis.
2. Guru perlu dilatih dalam pendekatan pendidikan berbasis nilai, bukan sekadar pengajaran materi.
3. Kebijakan pendidikan nasional dapat menjadikan ajaran Tamansiswa sebagai basis filosofis kurikulum yang holistik dan kontekstual.
DAFTAR PUSTAKA
Dewantara, K.H. (n.d.). Pemikiran, Perjuangan, dan Keteladanan Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
Zubaedi. (2021). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Multikultural. Jakarta: Prenada Media Group.
Suryasa, W. et al. (2022). “Revitalization of Local Wisdom in Character Education: A Philosophical Perspective.” International Journal of Instruction.
UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education.
Yuwono, T. (2020). Filsafat Pendidikan Tamansiswa dalam Konteks Pendidikan Modern. Yogyakarta: UST Press.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Balitbang.