-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Konsep dan Implementasi Ajaran Tamansiswa dalam Pendidikan Kontemporer: Membangun Karakter melalui Tri Hayu dan Budi Pekerti

Rabu, 09 Juli 2025 | Juli 09, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-10T00:11:01Z

Konsep dan Implementasi Ajaran Tamansiswa dalam Pendidikan  Kontemporer: Membangun Karakter melalui Tri Hayu dan Budi  Pekerti 

Penulis: Adelina Suri leon



PENDAHULUAN 

Latar Belakang 

Pendidikan merupakan pilar utama dalam membentuk manusia seutuhnya, bukan  sekadar individu yang cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter kuat dan berbudaya  luhur. Namun, realitas pendidikan modern kerap memperlihatkan ketimpangan antara  pencapaian akademik dan kualitas karakter peserta didik. Di tengah arus globalisasi dan  modernisasi, nilai-nilai moral dan budaya lokal sering kali tergerus, menyebabkan krisis  identitas dan lunturnya budi pekerti dalam kehidupan sosial. 

Ki Hadjar Dewantara, sebagai tokoh perintis pendidikan Indonesia, melalui ajaran  Tamansiswa telah mewariskan konsep-konsep mendalam tentang pendidikan karakter yang  berbasis budaya. Salah satunya adalah ajaran Tri Hayu, yang mencakup: 

1. Hayuning Sarira (keselamatan/kebahagiaan diri), 

2. Hayuning Bangsa (kesejahteraan bangsa), dan 

3. Hayuning Bawana (harmoni dunia/alam semesta). 

Ajaran ini berpadu erat dengan nilai budi pekerti yang menjadi inti pendidikan  Tamansiswa, yaitu pembentukan kepribadian yang berlandaskan pada kebaikan akal,  perasaan, dan kehendak. 

Urgensi  

Revitalisasi ajaran Tri Hayu dan budi pekerti sangat mendesak dalam konteks  pendidikan kontemporer, mengingat pentingnya menyeimbangkan kecerdasan intelektual  dengan kecerdasan moral dan spiritual. Pendidikan yang berakar pada kearifan lokal ini  memiliki potensi besar dalam membentuk peserta didik yang bukan hanya unggul secara  akademis, tetapi juga berkontribusi positif terhadap masyarakat dan alam semesta.

Rumusan Masalah 

Pendidikan modern masih didominasi oleh orientasi akademik dan capaian kognitif,  sementara aspek karakter dan keberlanjutan kehidupan bersama kurang diperhatikan. Nilai nilai luhur seperti gotong royong, tanggung jawab sosial, serta keselarasan dengan  lingkungan belum menjadi prioritas dalam sistem pendidikan. 

Tujuan Penelitian 

1. Mengkaji penerapan ajaran Tri Hayu dalam pembelajaran dan kehidupan sekolah. 2. Mengidentifikasi model internalisasi nilai budi pekerti dalam pembentukan karakter  siswa. 

3. Menemukan relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap tantangan pendidikan  abad ke-21. 

Pertanyaan Penelitian (rQs) 

1. Bagaimana implementasi prinsip Tri Hayu dalam proses pembelajaran dan kehidupan  siswa? 

2. Bagaimana internalisasi nilai-nilai budi pekerti dalam praktik pendidikan? 3. Apa relevansi ajaran Tamansiswa dengan pendidikan karakter kontemporer? 

TINJAUAN PUSTAKA 

Ajaran Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa 

Ajaran Tamansiswa mencakup banyak nilai filosofis yang relevan untuk pendidikan  karakter. Salah satu yang cukup esensial adalah Tri Hayu, yang menggambarkan filosofi  hidup berimbang dan bertanggung jawab, yaitu: 

1. Hayuning Sarira – mendidik peserta didik agar mengenal, mencintai, dan menjaga dirinya  secara fisik, mental, dan spiritual. 

2. Hayuning Bangsa – menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab sosial. 3. Hayuning Bawana – menanamkan kepedulian terhadap alam dan lingkungan hidup  sebagai bagian dari semesta. 

Konsep ini melengkapi nilai budi pekerti, yang dimaknai sebagai perpaduan antara  pikiran (cipta), perasaan (rasa), dan kemauan (karsa) yang menghasilkan tindakan luhur.

Pendidikan Karakter dan Pendidikan Abad 21 

1. Pendidikan abad ke-21 menuntut kompetensi holistik, mencakup keterampilan berpikir  kritis, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi (4C). Namun, keterampilan tersebut perlu  dilandasi karakter yang kuat agar menghasilkan pribadi yang bijak, berintegritas, dan  berjiwa sosial. 

2. UNESCO (2021) menekankan perlunya pendidikan yang membangun hubungan  harmonis antara manusia, masyarakat, dan alam. Hal ini sejalan dengan ajaran Tri Hayu  dalam Tamansiswa. 

Filsafat Pendidikan Lokal dalam Pendidikan Modern 

Pendekatan pendidikan lokal menawarkan pendidikan yang membumi dan  kontekstual. Filsafat Ki Hadjar Dewantara, yang menekankan keselarasan antara individu,  masyarakat, dan alam, menjadi landasan penting bagi model pendidikan berkelanjutan dan  multikultural yang dibutuhkan masa kini. 

METODOLOGI PENELITIAN 

Jenis Penelitian 

Kualitatif eksploratif-deskriptif dengan pendekatan filosofis dan pedagogis. Pendekatan  

Studi literatur sistematis, dengan penekanan pada analisis nilai-nilai filosofis Tri Hayu dan  budi pekerti dalam ajaran Tamansiswa, serta relevansinya dalam pendidikan kontemporer. 

Sumber Data 

1. Primer: Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara, dokumen ajaran Tamansiswa. 2. Sekunder: Buku, jurnal ilmiah, artikel pendidikan, dan dokumen kebijakan pendidikan  terbaru. 

Teknik Pengumpulan Data 

1. Telaah dokumen 

2. Studi pustaka dari berbagai sumber yang relevan

Instrument  

Dalam pendekatan kualitatif, peneliti adalah instrumen utama yang melakukan interpretasi  terhadap data. Namun demikian, digunakan pula instrumen bantu untuk memastikan  keteraturan dalam pengumpulan dan pengolahan data. 

Berikut adalah instrumen yang digunakan dalam penelitian ini: 

1. Panduan Telaah Dokumen dan Literatur 

Instrumen ini digunakan untuk menganalisis isi dokumen dan literatur yang berkaitan  dengan ajaran Tri Hayu, budi pekerti, dan implementasinya dalam pendidikan  kontemporer. 

Table 1. Format Panduan Telaah Dokumen 

No 

Aspek yang  

Ditelaah

Indicator Analisis 

Sumber Dokumen

Hayuning Sarira 

Pendidikan pengenalan diri,  refleksi, pembiasaan pribadi

Naskah KHD, praktek  sekolah

Hayuning Bangsa 

Kegiatan sosial, nasionalisme,  gotong royong

Modul karakter,  

dokumen kegiatan siswa

Hayuning Bawana 

Pendidikan lingkungan,  

program green school

Kurikulum sekolah,  

dokumentasi program

Nilai Budi Pekerja 

Keteladanan, empati, tanggung  jawab, sopan santun

Buku karakter, observasi  budaya sekolah



2. Format Kategorisasi Data Tematik 

Format ini digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan tema, seperti: a) Implementasi Tri Hayu dalam pembelajaran 

b) Strategi internalisasi nilai karakter 

c) Keteladanan dalam praktik pendidikan Tamansiswa 

3. Jurnal Refleksi Peneliti 

Digunakan untuk mencatat respons, interpretasi, dan refleksi peneliti selama proses telaah  pustaka dan analisis berlangsung, sebagai bentuk triangulasi internal dan penguatan  subjektivitas yang terkendali.

Teknik Analisis Data 

Menggunakan model Miles & Huberman: reduksi data, penyajian data, dan penarikan  kesimpulan. Proses ini dikombinasikan dengan kategorisasi tematik berdasarkan nilai-nilai  Tri Hayu dan budi pekerti. 

Validitas Data 

Validitas dalam penelitian kualitatif menekankan pada kredibilitas dan keandalan interpretasi  data. Untuk menjamin validitas dan keabsahan data, digunakan beberapa teknik sebagai  berikut: 

1. Triangulasi Sumber 

Data diperoleh dari berbagai jenis sumber: tulisan asli Ki Hadjar Dewantara, dokumen  Tamansiswa, literatur akademik, dan kebijakan pendidikan. Keanekaragaman ini  membantu memperkuat validitas isi dan konteks temuan. 

2. Triangulasi Metode 

Kombinasi teknik studi pustaka, telaah dokumen primer dan sekunder, serta refleksi  filosofis digunakan untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam dan tidak bias. 3. Pemeriksaan Sejawat (Peer Review) 

Draf awal analisis dan kesimpulan diuji dengan meminta masukan dari sesama akademisi  bidang filsafat pendidikan atau praktisi pendidikan karakter, guna memperoleh perspektif  tambahan dan menghindari bias pribadi. 

4. Audit Trail (Jejak Audit) 

Seluruh proses pengumpulan dan analisis data dicatat secara sistematis untuk  memungkinkan pelacakan proses analisis secara transparan oleh pihak lain. 5. Peningkatan Ketekunan (Prolonged Engagement) 

Peneliti mendalami literatur dan dokumen terkait secara intensif dan mendalam dalam  kurun waktu yang memadai untuk memahami makna yang tersembunyi dalam konteks  ajaran Tri Hayu dan budi pekerti. 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

A. Penerapan Prinsip Tri Hayu dalam Pendidikan 

1. Hayuning Sarira

Dalam praktik pendidikan, hal ini diterapkan melalui penguatan pendidikan karakter  berbasis pengenalan diri dan pengembangan potensi. Sekolah mengembangkan  program-program seperti konseling personal, mindfulness, dan refleksi diri siswa. 2. Hayuning Bangsa 

Implementasi nilai ini dilakukan dengan menanamkan cinta tanah air, gotong royong,  dan tanggung jawab sosial. Praktik nyata dapat berupa kegiatan bakti sosial,  pembelajaran berbasis proyek komunitas, hingga integrasi pendidikan  kewarganegaraan yang kontekstual. 

3. Hayuning Bawana 

Sekolah dituntut untuk menciptakan ekosistem belajar yang menghargai alam.  Kegiatan seperti program “green school,” pengelolaan sampah, pemanfaatan energi  terbarukan, dan integrasi isu lingkungan dalam pembelajaran menjadi bagian dari  nilai ini. 

B. Model Internalisasi Nilai Budi Pekerti 

Internasionalisasi nilai-nilai budi pekerti dilakukan melalui: 

1. Pembiasaan: kegiatan rutin seperti berdoa bersama, menyapa dengan sopan, menjaga  kebersihan kelas, tepat waktu, dan disiplin. 

2. Keteladanan Guru: guru menunjukkan sikap integritas, empati, dan adil dalam  keseharian. 

3. Kegiatan Ko-kurikuler: seperti Pramuka, OSIS, kegiatan seni budaya, yang menjadi  wahana menanamkan nilai kebajikan. 

4. Pembelajaran Kontekstual: menghubungkan materi pelajaran dengan nilai-nilai  kemanusiaan dan kehidupan nyata. 

C. Relevansi Ajaran Tamansiswa dalam Pendidikan Abad ke-21 

Ajaran Tri Hayu sangat sejalan dengan prinsip pendidikan berkelanjutan dan pendidikan  karakter global. Integrasi nilai-nilai ini membantu sekolah membentuk siswa yang: 1. Memiliki kesadaran ekologis dan spiritual (ecological-spiritual intelligence), 2. Bertanggung jawab sebagai warga negara (civic responsibility), 

3. Mampu berpikir kritis namun tetap menjunjung nilai etika dan empati. D. Perbandingan dengan Teori Pendidikan Modern

Aspek 

Tamansiswa  

(Tri Hayu dan  Budi Pekerti)

Montessori 

Freire 

Vygostsky



Focus 

Harmoni  

individu, sosial,  dan alam

Kemandirian  

dan pengalaman  langsung

Kesadaran kritis  dan  

pembebasan

Zona Proximal  perkembangan

Nilai Inti 

Budi pekerti,  

cinta tanah air,  dan lingkungan

Pengembangan  diri alami

Refleksi dan  

transformasi  

sosial

Interaksi sosial  dan bahasa

Metode 

Keteladanan,  

pembiasaan,  

refleksi

Eksplorasi  

bebas

Dialog dan  

problem posing

Scaffolding dan  kolaborasi



SIMPULAN DAN IMPLIKASI 

Simpulan 

1. Prinsip Tri Hayu dapat menjadi pendekatan pendidikan karakter yang menyeluruh karena  mencakup dimensi pribadi, sosial, dan ekologis. 

2. Internalisasi nilai budi pekerti dalam kehidupan sekolah membentuk kepribadian siswa  yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan cinta lingkungan. 

3. Ajaran Tamansiswa memiliki relevansi yang tinggi dengan arah pendidikan abad 21 yang  menekankan keberlanjutan, multikulturalisme, dan kemanusiaan. 

Implikasi 

1. Sekolah perlu mengintegrasikan nilai Tri Hayu dalam kurikulum dan kehidupan sehari hari secara sistematis. 

2. Guru perlu dilatih dalam pendekatan pendidikan berbasis nilai, bukan sekadar pengajaran  materi. 

3. Kebijakan pendidikan nasional dapat menjadikan ajaran Tamansiswa sebagai basis  filosofis kurikulum yang holistik dan kontekstual.

DAFTAR PUSTAKA 

Dewantara, K.H. (n.d.). Pemikiran, Perjuangan, dan Keteladanan Ki Hadjar  Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa. 

Zubaedi. (2021). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pendidikan Islam dan  Multikultural. Jakarta: Prenada Media Group. 

Suryasa, W. et al. (2022). “Revitalization of Local Wisdom in Character Education: A  Philosophical Perspective.” International Journal of Instruction. 

UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for  Education. 

Yuwono, T. (2020). Filsafat Pendidikan Tamansiswa dalam Konteks Pendidikan  Modern. Yogyakarta: UST Press. 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Panduan  Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Balitbang.


×
Berita Terbaru Update