-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HAKIKAT PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL

Rabu, 31 Desember 2025 | Desember 31, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-01T05:46:21Z

 HAKIKAT PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL



MARSHA  AULIA SABRINA

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

E-mail: marshaauliasabrina6@gmail.com


Abstrak

      Era digital telah membawa perubahan mendasar pada sistem pendidikan, mengubah cara akses, penyampaian, dan pemanfaatan pengetahuan. Hakikat pendidikan yang sejati—yaitu membentuk karakter, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan berinteraksi sosial—tidak berubah, namun cara wujudkannya harus menyesuaikan dengan kemajuan teknologi. Artikel ini mengkaji bagaimana teknologi dapat memperkaya proses pembelajaran sambil tetap menjaga esensi pendidikan, serta membahas pandangan kontra yang khawatir akan dominasi teknologi yang menggeser nilai-nilai inti pendidikan. Tujuan akhirnya adalah untuk memberikan pemahaman bahwa pendidikan di era digital harus menjadi sinergi antara inovasi teknologi dan tujuan pendidikan yang mendasar.

Kata kunci: Pendidikan digital, Hakikat Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Berpikir Kritis, Literasi Digital


Pendahuluan

     Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah melanda hampir setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Dari pembelajaran daring yang melampaui batasan geografis hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk personalisasi pembelajaran, era digital menawarkan berbagai kemungkinan baru. Namun, di tengah kemajuan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apa sebenarnya hakikat pendidikan di era ini? Apakah teknologi hanya sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, ataukah ia mengubah esensi dari pendidikan itu sendiri?

        Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang transfer pengetahuan faktual, melainkan juga tentang membentuk individu yang mampu berpikir mandiri, bertanggung jawab, dan beradaptasi dengan perubahan. Seperti yang ditegaskan oleh UNESCO, pendidikan harus fokus pada pengembangan potensi diri dan keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Di era digital, tantangannya adalah bagaimana menyelaraskan kemajuan teknologi dengan tujuan pendidikan yang mendasar tersebut.


Pembahasan

  1. Akses pendidikan yang lebih luas dan inklusif

      Salah satu kontribusi terbesar era digital adalah memudahkan akses pendidikan bagi berbagai kalangan. Platform seperti Coursera, Khan Academy, dan program pendidikan daring dari institusi resmi memungkinkan siapa saja, di mana saja, untuk mengakses materi berkualitas tinggi dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis. Hal ini membuka peluang bagi mereka yang sebelumnya terbatas oleh lokasi geografis, kondisi ekonomi, atau keterbatasan waktu, sehingga mendekatkan tujuan pendidikan yang merata dan inklusif.



  1. Pembelajaran yang lebih interaktif dan personal

      Teknologi telah mengubah paradigma pembelajaran dari model "satu arah" menjadi lebih interaktif. Penggunaan aplikasi pendidikan, augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan gamifikasi membuat proses belajar lebih menarik dan mendalam. Misalnya, VR dapat digunakan untuk melakukan eksperimen ilmiah yang sulit dilakukan di dunia nyata, sementara AI dapat menganalisis kecepatan dan gaya belajar siswa untuk menyediakan materi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


  1. Perkembangan keterampilan  Abad ke-21

        Di dunia yang semakin terhubung dan dinamis, keterampilan seperti literasi digital, berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas menjadi sangat penting. Pendidikan di era digital tidak hanya mengajarkan materi akademik tradisional, tetapi juga melatih siswa untuk mengelola informasi dengan cermat, membedakan fakta dari hoaks, dan menggunakan teknologi secara etis dan efektif. Hal ini selaras dengan hakikat pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan individu menghadapi tantangan masa depan.


  1. Peran guru sebagai fasilitator

    Meskipun teknologi menawarkan banyak kemudahan, peran guru tetap tidak tergantikan. Di era digital, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam mengeksplorasi informasi, mengembangkan pemahaman konseptual, dan membentuk karakter. Guru juga berperan penting dalam mengarahkan siswa agar tidak terjebak pada informasi yang salah atau penggunaan teknologi yang tidak tepat.


Pembahasan lawan pendapat

Terdapat pandangan yang mengkhawatirkan bahwa penggunaan teknologi secara berlebihan dalam pendidikan dapat menggeser hakikat pendidikan yang sebenarnya. Beberapa argumen utama dari pihak yang kontra adalah sebagai berikut:

  1. Risiko Pengurangan Interaksi Sosial

      Pengkritikus berpendapat bahwa pembelajaran daring yang banyak menggunakan perangkat digital dapat mengurangi kesempatan interaksi tatap muka antara siswa dan guru, serta antar siswa sendiri. Interaksi sosial adalah bagian penting dari pendidikan yang membantu mengembangkan keterampilan komunikasi, empati, dan kerja sama. Tanpa interaksi langsung, siswa berisiko mengalami isolasi sosial dan kesulitan beradaptasi dalam lingkungan masyarakat.


  1. Dominasi teknologi yang mengabaikan karakter

    Beberapa pihak juga khawatir bahwa fokus pada efisiensi dan aksesibilitas melalui teknologi dapat membuat pendidikan menjadi terlalu berorientasi pada hasil akademik, sementara aspek pembentukan karakter dan nilai-nilai moral dikesampingkan. Teknologi cenderung berfokus pada pengetahuan yang dapat diukur secara kuantitatif, sedangkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat sulit untuk diukur dan diajarkan melalui platform digital semata.


  1. Kesenjangan digital yang meningkat

      Meskipun teknologi berpotensi meningkatkan akses pendidikan, tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap perangkat digital dan koneksi internet. Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan digital yang semakin lebar antara mereka yang memiliki akses dan yang tidak, sehingga pendidikan justru menjadi lebih tidak adil. Selain itu, kurangnya keterampilan digital di antara pendidik dan siswa dari kalangan tertentu juga dapat menghambat efektivitas pembelajaran digital.




  Kesimpulan

      Hakikat pendidikan di era digital tetap pada dasarnya sama dengan pendidikan pada umumnya: membentuk individu yang cerdas, bertanggung jawab, dan mampu berkontribusi pada masyarakat. Teknologi bukanlah pengganti tujuan pendidikan yang mendasar, melainkan alat yang dapat digunakan untuk memperkuat dan memperluas jangkauan pendidikan.


      Untuk menghadapi tantangan yang muncul, diperlukan upaya bersama dari semua pihak: pemerintah perlu meningkatkan akses teknologi dan menyediakan kebijakan yang mendukung pendidikan digital yang inklusif; institusi pendidikan perlu mengembangkan kurikulum yang seimbang antara materi akademik dan pengembangan keterampilan abad ke-21; pendidik perlu terus mengembangkan kompetensi digital dan beradaptasi dengan metode pengajaran baru; dan orang tua serta masyarakat perlu mendukung proses pembelajaran dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.


       Dengan demikian, pendidikan di era digital dapat menjadi sarana yang efektif untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sejati, yaitu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan kemampuan untuk menghadapi tantangan masa depan.



Daftar pustaka

  1. Allen, I. E., & Seaman, J. (2017). Grade Level: Tracking Online Education in the United States, 2017. Babson Survey Research Group.


  1.  Bailenson, J. N. (2008). Infinite Reality: Avatars, Eternal Life, New Worlds, and the Dawn of the Virtual Revolution. William Morrow.


  1. .Dewey, J. (2020). Education and Experience in a Digital World. Routledge.


  1.  Mayer, R. E. (2005). Cognitive Theory of Multimedia Learning. Cambridge University Press.


  1. OECD. (2015). Students, Computers and Learning: Making the Connection. Paris: OECD Publishing. 


  1.  Selwyn, N. (2016). Education and Technology: Key Issues and Debates. London: Bloomsbury Publishing.


  1.  UNESCO. (2020). Global Education Monitoring Report 2020: Inclusion and Education – All Means All. Paris: UNESCO Publishing.


  1.  Aini, D. N., Septiani, D. W., Mah, H. H., Wicaksono, F. D., & Putri, N. A. K. (2023). Peluang dan tantangan transformasi digital di Indonesia pada bidang pendidikan. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FPM IPA, 1(1), 328-337.


  1. Rizki Mulya Rahman. (2025). Bersahabat dengan Teknologi dan Masa Depan Pendidikan. Kumparan.com.


  1.  Victry Er Litha Picauly. (2023). Transformasi Pendidikan di Era Digital: Tantangan dan Peluang. Indonesian Research Journal on Education, 4(3), 1278.



×
Berita Terbaru Update